Apa Itu Jati Diri?
Ada yang menyebutkan bahwa jati diri itu
adalah karakter dasar, Ada yang mengatakan itu adalah kamu
sesungguhnya, ada juga yang yang bilang bahwa seseorang akan menemukan
jati diri itu seiring semakin dewasanya kita. Mungkin ucapan seperti ini
ada benarnya juga, karena Jati diri sendiri merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari sifat seseorang yang muncul dengan sendirinya sejak
saat dari kecil, kemudian sifat bawaan dari kecil itu kadang juga
terpengaruh dengan berbagai faktor seperti faktor lingkungan tempat dia
dibesarkan. Jati Diri adalah identitas seseorang yang jelas sehingga
siapa pun tahu tentang orang tersebut. Sering kali orang memberikan definisi dari jati diri berdasarkan jawaban dari 3 buah pertanyaan ini:
Siapa aku? Dari mana aku? Dan aku mau kemana?
Ya, ketiga pertanyaan ini memerlukan
pemikiran yang mendalam untuk dapat mengetahui jawaban yang benar.
Tidak sedikit juga orang yang masih saja kebingungan dan akhirnya dia
melupakan untuk menjawab 3 pertanyaan ini. Mereka berfikir yang penting
jalani saja hidup ini.
Apakah Kita Boleh Mengabaikan Penemuan Jati Diri?
Apakah kita perlu ‘meributkan’ tentang
jati diri ini? Ya, tentu saja kita perlu memahami siapa diri kita ini.
Jika tidak, untuk apa kita hidup di dunia? Hidup kita nantinya akan
tanpa arah, tidak bermakna, tanpa memiliki arti. Sebab, bagaimana kita
bisa mempunyai hidup yang bermakna sementara kita sendiri tidak
mengetahui siapa diri kita dan mau kemana kita nantinya.
Jadi jelas jawabannya bahwa kita tidak boleh mengabaikan penemuan jati diri ini, kecuali Anda ingin menjalani hidup hampa yang berlalu tanpa makna sama sekali.
Apakah Jati Diri Membahas Tentang Minat dan Bakat Kita?
Tentu saja kita dapat memahami bahwa
kita sebenarnya mempunyai keunikan masing-masing. Tidak pernah berhenti
mencari kelebihan dan potensi unik kita tentu merupakan hal penting dalam kehidupan
kita sendiri. Namun, yang kita butuhkan sebenarnya tidak sebatas hanya
menemukan sebuah bakat spesial kita saja. Kita juga tidak bisa
sepenuhnya mengatakan bahwa orang yang sudah sukses itu berarti sudah
menemukan jati dirinya.
Bagaimana Cara Mencari Jati Diri?
Tidak ada seorangpun yang lebih
mengetahui diri kita ini selain Dzat yang telah menciptakan kita, yaitu
Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Jika hanya Allah yang
paling mengetahui tentang diri kita, mengapa kita harus mencari dan menemukan makna jati diri dari selain Dia? Mengapa hidup kita harus dikendalikan oleh berbagai konsep jati diri yang bukan bersumber dari Allah?
Ini memang termasuk hal yang sangat penting, sebab hanya dari Allah
saja kita akan menemukan segala jawaban yang paling tepat, dijamin kita
tidak akan salah sehingga hidup kita ini akan lebih bermakna.
Tentu saja, kita tetap boleh (bahkan
harus) untuk selalu terus menggali bakat serta potensi kita. Yang
ditekankan disini, bahwa jati diri bukan hanya sebatas itu saja. Itu
merupakan keunikan Anda, bukan jati diri Anda.
Jati Diri Manusia Sesungguhnya
Siapa Aku? Manusia adalah makhluk Allah
yang terbuat dari tanah dan kemudian diberikan ruh oleh Allah. Kemudian
manusia juga dilengkapi dengan sebuah potensi hati, akal dan juga jasad.
Hati dan akal merupakan 2 potensi yang menyebabkan manusia mempunyai
kedudukan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan makhluk Allah
lainnya.
Yang menjadikan segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan juga Yang memulai penciptaan manusia dari saripati tanah. Kemudian
Dia menjadikan keturunan manusia dari saripati air yang hina. Kemudian
Dia menyempurnakan dan juga meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan
Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan jugahati;
(tetapi) sedikit sekali dari kalianbersyukur. (QS As Sajdah:7-9)
Dan (ingatlah), saat Tuhanmu berfirman pada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat yang kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang dibentuk. Demikian dalam QS. Al Hijr ayat 28.
Untuk Apa Aku Ada?
Ada 2 tujuan dalam penciptaan manusia
yang saling berkaitan yaitu dijadikan khalifah dimuka bumi ini dan untuk
beribadah kepada Allah swt. Tidak ada tujuan lain selain kedua hal
tadi. Semua aktivitas dan segala tindakan yang kita lakukan semuanya
harus bertujuan dalam rangka kedua peran kita ini. Sebagai khalifah dan
juga sebagai hamba Allah.
Untuk itu, Allah telah memberi kita
semua dengan berbagai potensi yaitu hati, akal, dan juga jasa yang cukup
untuk memikul kedua tugas ini. Selama kita dapat memanfaatkan semua
potensi yang kita punyai, kedua tugas ini pasti akan terlaksana dengan
baik.
Dalam Al-Quran surat Ad-dzariyat ayat 56 Allah berfirman : Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan juga manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.
Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 30: Ingatlah
saat Tuhanmu berfirman pada para Malaikat: Sesungguhnya Aku akan
menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka bertanya: Mengapa
Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan berbuat
kerusakan padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami selalu
bertasbih dengan memuji Engkau dan juga mensucikan Engkau? Allah
berfirman: Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak
ketahui.
Akan Kemana Aku?
Kita bukan hanya berproses dari bayi
menuju anak-anak. Bukan hanya anak-anak menuju remaja. Bukan hanya
remaja menuju dewasa. Bukan pula hanya dewasa menuju tua. Seungguhnya,
tujuan yang pasti bagi setiap manusia itu adalah desa akhirat. Dan hanya
ada dua pilihan saat kita pulang ke kampung akhirat, yaitu surga (Al
Jannah) atau neraka (An-Naar).
Kita akan memilih yang mana? Tentu
saja, setiap orang yang beriman pasti berharap mendapatkan balasan surga
dari Allah. Syaratnya ialah hidup kita harus sesuai dengan tujuan akan
keberadaan kita, yaitu sebagai khalifah dan juga beribadah pada Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam QS As Sajdah:19-20:
Adapun
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka bagi mereka surga
sebagai tempat tinggalnya, sebagai pahala bagi apa yang telah mereka
kerjakan. Dan adapun bagi orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat
mereka ialah neraka jahannam. Setiap kali mereka ingin keluar dari
neraka, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya dan dikatakan pada
merekaRasakanlah siksa api neraka yang dulu kamu mendustakannya.
Alhashil
Mudah-mudahan, setelah kita bisa
memahami siapa kita sebenarnya, mengapa kita adadi dunia ini dan mau
kemana kita nantinya, pikiran kita tidak akan galau lagi karena bingung
dengan arti dan cara menemukan jati diri dalam Islam. Kini sudah jelas,
apa yang harus kita jalani dan bagaimana konsekuensinya ke depan. Kita
mesti selalu ingat bagaimana kita diciptakan, kita diciptakan dari
sesuatu yang hina dan keluar dari tempat ‘yang kita sendiri malu untuk
menyebutkannya’, tidak lain agar kita tidak sombong dan melupakan siapa
kita. Karena sombong adalah sifat Iblis yang menyebabkannya terusir dari
surga dan terlaknat selamanya.
Selain itu, kita juga harus selalu
mengingat tujuan kita agar sekecil apapun perbuatan kita selalu
mempunyai niat untuk tujuan ibadah, agar kita bisa mencegah diri sendiri
dari berbagai perbuatan yang tidak bernilai apalagi perbuatan maksiat,
dan tentu saja kita akan selalu berbuat baik. Firman Allah dalam surat
Al-hasyr ayat 18:
Duhai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian pada Allah dan hendaklah
setiap diri itu memperhatikan apa yang sudah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat) dan bertakwalah pada Allah, sesungguh Allah Maha
Mengetahui apa saja yang kamu kerjakan.
Demikianlah arti dan cara mencari
jati diri dalam Islam. Semoga membantu Anda, khususnya para remaja dan
pemuda yang asih bertanya & mencari jati dirinya agar tidak salah
langkah dan terbawa arus zaman yang kadang menyimpang dari hakikat
penciptaan manusia. (Dikutip dari tulisan Rahmat ST
dalam www.motivasi-islami.com dan sumber lainnya).