Saat menjadi presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan saat itu, Mahfud MD, tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik. Cerita ini masuk dalam buku Setahun bersama Gus Dur, Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit.
Ceritanya, ada tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.
“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tidak boleh masuk jalan ini,” bentak polisi.
“Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong. Becak saya kan ada yang mengemudi,” jawab si tukang becak .
“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak pak polisi lagi.
“Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak seperti ini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan.
Kuli Dan Kyai
Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.
Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!
Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: “Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”
“Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.
BABI HARAM
Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!
Humor DPR
Ini guyonan tentang prilaku anggota DPR RI. Sempat menyebut mereka sebagai anak TK, Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah ‘turun pangkat’ setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.
“DPR dulu TK sekarang playgroup,” kata Gus Dur di kediamannya di Ciganjur, Jakarta, Selatan, Kamis (17/03), ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang Rabu (16/03).
Media Salah Kutip
Gus Dur, dalam satu acara peluncuran biografinya, menceritakan tentang kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.
Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, dia mengatakan, pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura.
Namun, sambungnya, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura.
Gus Dur Dan Orang Mati
Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela “ideologi”nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.
Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.
“Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” katanya.
Do You Like Salad?
Rombongan istri pejabat Indonesia pelesir ke San Fransisco menemani suami mereka yang sedang studi banding. Ceritanya mereka mampir ke sebuah restoran. Ketika memesan makanan, mereka bingung dengan menu-menu makanan yang disediakan. Melihat itu, sang pelayan berinisiatif menawarkan makanan yang barangkali semua orang tahu.
“If you Confuse with menu, just choose one familiar..” kata si pelayan
Rombongan ibu-ibu saling berbisik menebak si pelayan itu ngomong apa.
Si Pelayan tersenyum “Oke, do you like salad ?”
Seorang ibu yang sok tahu menjawab “Sure, I am Moslem, five times in one day”
(maksud si ibu, dia muslim dan shalat lima kali sehari).
Humor NU
Bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU.
“Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” jelasnya tentang jenis yang pertama.
Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU.”
“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.
Humor Polisi
Humor lain yang diingat banyak orang adalah kritikan dalam bentuk lelucon yang dilontarkan saat banyak pihak mempertanyakan moralitas polisi, yang masih bisa berlaku dengan saat sekarang walaupun humor ini dilontarkannya setahun silam.
“Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur,” selorohnya.
Humor Umat Beragama
Dalam sebauh Seminar di Batam. Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama.
“Oleh karena itu seluruh umat bertanggungjawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan,” kata Gus Dur disambut tawa peserta.
Humor Jihad
Menanggapi aksi jihad yang dilakukan oleh banyak warga Muslim yang percaya kematiannya akan ‘menjamin’ tempat di surga, Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya.
“Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan kepada Gus Dur.
Gus Dur pun menjawab, “Memangnya sudah ada yang membuktikan? Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang jelas bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi.”
Mati Ngerokok
Semasa belajar di Mesir, Gus Dur punya teman asal Aceh, namanya Yas. Kamar mereka bersebelahan.
Orang ini, tutur Gus Dur, betul-betul perokok berat. Ke mana pun ia pergi, pasti di kantongnya selalu terselip dua bungkus rokok. satu sudah dibuka, satu lagi buat cadangan. "Bagi dia, ngerokok itu jangan sampai ketelatan," tutur Gus Dur. "Makanya si Yas selalu bawa dua bungkus".
Saking sayangnya pada temannya ini, Gus Dur menasehatinya, "Yas, apa kamu nggak pernah baca tulisan di majalah bahwa setiap satu batang rokok itu bisa memendekkan umur 30 detik."
"Saya belum baca" sahut Yas.
"Loh, kamu ini giman. Sekarang coba hitung, sudah berapa ribu batang yang kamu habiskan. Sudah berapa tahun umurmu diperpendek oleh rokok itu."
Sambil menyulut sebatang lagi, Bang Yas menimpali, "Ya, tapi kalau saya enggak merokok, besok saya bisa mati."
Banyak Slamet
Banyak Slamet
Ketika menemui Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral AS, Gubernur BI Sjahril Sabirin bertanya kenapa ekonomi Amerika bisa begitu kuat dibandingkan dengan Indonesia?
"Di Amerika ini kami punya Johnny Cash (penyanyi ternama dari LAs Vegas), Bob Hope (komedian terkenal), dan Stevie Wonder (penyanyi kulit hitam yang sangat hebat)," jawab Greenspan dengan mimik serius. "Tapi, Sjahrir, di Indonesia kalian tidak punya Cash (uang tunai), tak punya Hope (harapan), dan tidak memiliki Wonder (keajaiban)!"
Mendengar jawaban itu, Sjahrir hanya manggut-manggut. Sekembalinya ke Indonesia, ia menghadap Presiden Abdurrahman Wahid. "Bapak Presiden, ketika di Amerika Serikat saya sempat bertemu dengan Greenspan," ungkap Sjahrir. "Banyak hal yang saya tanyakan kepadanya, termasuk soal kenapa perekonomian bangsa kita tidak sekokoh bangsa Amerika. Ternyata, menurut Greenspan, kuncinya cuma pada Cash, Hope, dan Wonder, yang tidak kita miliki."
Gus Dur hanya menanggapi dengan enteng: "Ah gitu aja kok repot, wong kita masih punya banyak Slamet dan Untung kok."
Sopir Metromini Lebih Mulia dari Kiai
Cerita soal sopir Metromini dan juru dakwah. Ceritanya, di pintu akhirat seorang malaikat bertanya kepada seorang sopir Metromini.
"Apa kerjamu selama di dunia?" tanya malaikat itu.
"Saya sopir Metromini, Pak." Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir Metromini tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.
Lalu datang Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia. "Apa kerja kamu di dunia?" tanya malaikat kepada Gus Dur.
"Saya mantan presiden dan juga juru dakwah Pak" lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Melihat itu Gus Dur protes.
"Pak, kenapa kok saya yang mantan presiden sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang sopir Metromini..?"
Dengan tenang malaikat itu menjawab: "Begini Pak, pada saat bapak ceramah, bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur, sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat sopir Metromini mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang berdoa."
Dialog Presiden dengan Tuhan
Ceritanya para presiden dan pemimpin negara berdialog dengan Tuhan.
Presiden AS Ronald Reagen: Tuhan, kapan negara kami makmur?, Tuhan jawab, "20 Tahun lagi". Presiden AS menangis.
Presiden Prancis Sarkozy: Tuhan, kapan negara Prancis makmur? Tuhan menjawab: "25 Tahun lagi." Mendengar jawaban Tuhan, Presiden Prancis menangis.
PM Inggris Tony Blair: "Tuhan, kapan negara Inggris bisa makmur?" Tuhan menjawab: "20 Tahun lagi." PM Tony Blair ikut juga menangis.
Presiden Gus Dur: "Tuhan, kapan negara Indonesia bisa makmur?" Tuhan tidak jawab, gantian Tuhan yang menangis
Isi Otak Presiden Indonesia
Gus Dur pernah memberikan analisanya soal isi otak para Presiden Indonesia. Ini yang bakal terjadi jika otaknya dilihat.
"Soekarno itu karena suka seni, keindahan dan wanita cantik maka otak kanannya yang besar," kata Gus Dur
"Nah, kalau Habibie itu teknokrat, insinyur, maka otak kirinya yang besar," lanjut Gus Dur.
Hadirin mengangguk-angguk setuju. Tapi mereka penasaran "Kalau otaknya Gus Dur?" tanya mereka.
Gus Dur menjawab: "Otak kanan besar, otak kiri besar, tapi antara keduanya sering nggak nyambung," jawab Gus Dur jenaka.
Para pendengar pun tertawa.
Ajudan TNI AL Tak Bisa Berenang
Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bercerita asistennya yang bertugas di Istana Negara berlatarbelakang anggota TNI Angkatan Laut. Namun, belakangan diketahui ia tidak bisa berenang.
Dia sering digoda dan diusili oleh para ajudan Presiden. Ada saja keusilan yang membuatnya kebat-kebit dag-dug-dug di hadapan Gus Dur. Teman-temannya pun makin senang mengerjainya.
"Lapor Pak Presiden, ini lho ajudan bapak, masak TNI Angkatan Laut kok nggak bisa berenang?" kata mereka pada Gus Dur.
Otomatis saja, ajudan TNI AL tersebut langsung tegang, melotot, tak menyangka bila ada yang bertindak nekat lapor hal-hal sensitif
Namun Presiden Gus Dur malah merespons dengan nada datar-datar saja. Gus Dur menjawab, "Lha itu, ada dari Angkatan Udara juga nggak bisa terbang kok!"
Dan orang-orang yang ada di sekitar Gus Dur tertawa terbahak-bahak dengan cerita itu.
Lupa Membawa Cadangannya
Saat pertandingan antara Lazio vs Intermilan terjadi diwarnai dengan permainan yang keras, sehingga di menit ke-20 babak pertama wasit harus memberikan kartu kuning kepada Nesta dari Lazio, dan kartu merah kepada Zanneti dari Intermilan. Ketika pertandingan sudah berjalan 40 menit permainan masih berlangsung sangat keras, sehingga ada yang cidera pada masing-masing kesebelasan tersebut, tapi anehnya wasit tidak mengeluarkan kartu kuning atau pun kartu merah, sehingga membuat marah para penonton bahkan pelatih pada masing-masing klub tersebut. Ketika wasit sudah meniup peluit panjang tanda pertandingan telah selesai pada babak ke 1, Marcello Lippi pelatih dari Intermilan langsung menghampiri wasit tersebut sambil marah-marah. "Hai... Sit, kamu giman sih, kamu kan tahu pertandingan tadi keras sekali tapi kamu kok hanya memberikan kartu kuning dan kartu merah hanya sekali, padahal kalau dilihat kamu layaknya memberikan kartu kuning itu lebih dari lima kali?" Ucap Lippi dengan geramnya. Tapi wasit itu menjawab dengan tenang sambil berbisik pada Lippi, "Sssttt... jangan ribut tadi saya lupa telah memberikan kartu kuning pada Nesta dan kartu merah pada Zanneti, sehingga saya tidak bisa mengeluarkan kartu kuning atau pun kartu merah lagi. Karena saya tidak membawa cadangannya.
Para Jenderal Orde Baru Takut Istri
Lupa Membawa Cadangannya
Saat pertandingan antara Lazio vs Intermilan terjadi diwarnai dengan permainan yang keras, sehingga di menit ke-20 babak pertama wasit harus memberikan kartu kuning kepada Nesta dari Lazio, dan kartu merah kepada Zanneti dari Intermilan. Ketika pertandingan sudah berjalan 40 menit permainan masih berlangsung sangat keras, sehingga ada yang cidera pada masing-masing kesebelasan tersebut, tapi anehnya wasit tidak mengeluarkan kartu kuning atau pun kartu merah, sehingga membuat marah para penonton bahkan pelatih pada masing-masing klub tersebut. Ketika wasit sudah meniup peluit panjang tanda pertandingan telah selesai pada babak ke 1, Marcello Lippi pelatih dari Intermilan langsung menghampiri wasit tersebut sambil marah-marah. "Hai... Sit, kamu giman sih, kamu kan tahu pertandingan tadi keras sekali tapi kamu kok hanya memberikan kartu kuning dan kartu merah hanya sekali, padahal kalau dilihat kamu layaknya memberikan kartu kuning itu lebih dari lima kali?" Ucap Lippi dengan geramnya. Tapi wasit itu menjawab dengan tenang sambil berbisik pada Lippi, "Sssttt... jangan ribut tadi saya lupa telah memberikan kartu kuning pada Nesta dan kartu merah pada Zanneti, sehingga saya tidak bisa mengeluarkan kartu kuning atau pun kartu merah lagi. Karena saya tidak membawa cadangannya.
Para Jenderal Orde Baru Takut Istri
Gus Dur selalu punya kisah humor lucu. Menurutnya, para jenderal di Orde Baru terbagi dalam dua kelompok. Pertama jenderal yang takut istri, kedua jenderal yang tidak takut istri.
Nah, dalam setiap pertemuan mereka selalu memisahkan diri. Jenderal yang takut istri berada di sebelah kiri ruangan. Sementara jenderal yang tidak takut istri berada di kanan.
Suatu ketika dalam suatu pertemuan ada seorang jenderal yang mestinya tergabung dalam kelompok jenderal takut istri duduk bersama kelompok jenderal yang tidak takut istri.
Teman-temannya, para jenderal yang takut istri protes. "Eh kenapa kamu duduknya di situ bareng jenderal yang tidak takut istri? Memangnya sekarang kamu sudah berani sama istrimu?"
Kata si jenderal, "Wah nggak tahu deh. Saya disuruh istri saya duduk di sini! Ya saya duduk saja."
Soal Naik Kereta Api
Setelah mendapat larangan dari dokternya untuk tidak melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan pesawat terbang, Gus Dur kemudian nekat untuk bepergian jauh menggunakan kereta api.
"Anda mau pergi naik kereta api, Gus? Memangnya Anda pikir bisa sampai tepat waktu dengan naik kereta api?" Ledek si dokter.
"Anda jangan meremehkan begitu, kereta itu cepat banget loch!" jawab Presiden RI ke-4, itu.
"Kereta api mana yang bisa menandingi kecepatan pesawat terbang, Gus?" tanya dokternya lagi.
"Oho... Anda jangan salah. Semua kereta api bisa lebih cepat dari pesawat," kilah pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 ini.
"Anda mimpi kali, Gus. Semua orang juga tahu kalau pesawat itu jelas lebih cepat dibandingkan kereta api," cecar sang dokter.
"Wah, Anda salah Memang sekarang ini pesawat lebih cepat, tapi itu karena kereta api baru bisa merangkak. Coba kalau kereta api nanti sudah bisa berdiri dan bisaa lari. Wuiiih... pasti bakalan jauh lebih cepat dari pesaawat." Jawab Gus Dur, disaambut wajah kecut sang dokter.
Rem Kaki Kiai Wahab Sulang
Salah satu kegemaran Gus Dur adalah berkunjung dan berbincang dengan para kiai di seluruh pelosok, terutama di Jawa. Sewaktu dia masih sehat wal afiat, begitu sering mendatangi mereka.
Ini pula rahasianya mengapa dia cukup mudah terpilih lagi menjadi Ketua Umum PBNU, bahkan kalaupun dia sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial.
\"Orang tidak banyak yang tahu,\" katanya suatu ketika, \"bahwa saya bisa melakukan empat ratus perjalanan dalam setahun untuk bertemu dengan kiai-kiai itu.\"
Maka, dalam Muktamar NU, misalnya pada 1989 di Yogyakarta, meskipun Gus Dur banyak diserang dengan sangat tajam dalam acara pertanggungjawabannya sebagai Ketua Tanfiziah, dia dengan mudah kembali terpilih untuk memimpin NU, secara aklamasi.
Semua itu berkat diplomasi canggih yang dijalankannya dengan cara mendatangi para kiai, bahkan yang tinggal di tempat paling terpencil sekalipun. Mereka inilah yang punya pengaruh besar dalam menentukan siapa yang bakal menjadi Ketua Tanfidziah.
Salah satu cerita yang didulangnya dari pertemuan dengan seorang kiai, dituliskannya dalam salah satu majalah kenamaan. Nama tokoh yang unik dan nyentrik Itu adalah Kiai Wahab Sulang dari Rembang.
Kiai ini tetap populer di kalangan pengikutnya, meskipun isterinya adalah anggota DPRD yang termasuk paling asyik dan getol mengikuti acara-acara non-santri di pendopo kabupaten.
Suatu hari isteri Kiai Wahab Sulang mendapat bagian sepeda motor angsuran. Sang Kiai langsung menggunakan kendaraan itu. Akibatnya lumayan. Dia menabrak sebuah rumah. Sepeda motornya rusak, dan dia sendiri luka-luka.
Kenapa Kiai bisa nabrak begitu? tanya Gus dur. \"Habis saya pakai rem kaki.\"
\"Lho, bukankah memang rem kaki harus dipakai, Kiai?\" timpal Gus Dur. \"Ya, tapi maksud saya bukan gitu. Saya mengerem hanya pakai kaki saja. Karena belum tahu bagaimana dan di mana remnya.\"
Airport Abdurrahman Wahid
Pada akhir April 2000, Gus Dur sempat ke Malang dan mendarat di bandara Abdurrahman Saleh. Ini mengingatkan dia pada peristiwa belasan tahun silam, ketiaka ia mendarat di bandara yang sama dari Jakarta.
Saat itu masih ada penerbangan reguler dari Bandara Halim Perdana Kusuma ke Malang.
Waktu itu, Gus Dur bersama dengan Jaksa Agung, almarhum Sukarton Marmosujono. Sebagaimana lazimnya untuk rombongan orang-orang penting, mereka pun di sambut oleh pasukan Banser NU.
Ketika rombongan sudah berangkat ke Selorejo, sekitar 60 kilometer dari bandara, petugas Banser melapor pada poskonya melalui handy talky.
"Hallo, hallo, rojer...," kata mas Banser. "Lapor, Abdurrahman Saleh telah mendarat di Airport Abdurrahman Wahid!"
Yah, kebalik dech....
Antara Madura dan Bandung
Lagi-lagi tentang orang Madura yang menurut Gus Dur tidak pernah mati akalnya. Ada saja untuk berkelit, sekalipun terlihat konyol.
Suatu hari, ada seorang laki-laki asal Madura mau pergi ke Jakarta. Dia naik bus jurusan Jakarta. Setelah seharian berada di atas bus, laki-laki asal Madura itu kebelet kencing.
Karena sudah tidak tahan, akhirnya dia meminta sopir untuk berhenti sebentar dengan alasan sudah tidak tahan lagi. Awalnya, si sopir keberatan, tetapi entah kenapa akhirnya bus itu berhenti juga.
Laki-laki itu keluar, kemudian kencing dekat bus. Sang kondektur geram bin marah, dan berkata, " Hei Madura! Kalo kencing yang jauh sana!".
"Dari Madura sampai sini, masih kurang jauh, Pak?" jawab si Madura.
Orang Madura di Australia
Ini cerita Gus Dur tentang orang Madura yang ada di Australia. Ketika Gus Dur berkunjung ke Australia, dia bertemu sekumpulan orang Madura. Sebagaimana kita ketahui, orang-orang Madura ada di mana-mana, tidak cuma di dalam negeri, di luar negeri pun banyak.
Setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan mereka, akhirnya Gus Dur mengerti bahwa sebagian orang Madura yang ada di sana sudah belasan tahun tinggal di sana dan sebentar lagi di antara mereka ada yang akan kembali ke tanah airnya, Indonesia.
"When wil you beck to Indonesia?" tanya Gus Dur dengan menggunakan Bahasaa Inggris, karena ingin menguji bahasa inggris mereka.
"Yes, muntak sande, yes mande, Gus," Jawab orang Madura.
Bahasa Indonesianya, "Ya kalo enggak minggu, ya senin, Gus?'
NU Seperti AURI
Salah satu tradisi khas dalam lingkungan NU, adalah shalawatan dan terbangan (bermain rebana ukuran kecil), para pemain rebana disebut penerbang. Karena itu, Gus Dur sering menyampaikan di depan jama'ah istigotsahnya.
"NU itu seperti AURI, punya banyak penerbang, tetapi tidak ada pesawat terbangnya."
Gus Dur akan Demonstrasi
Gus Dur, dalam suatu acara peluncuran buku biografinya, menceritakan tentang kebiasaan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.
Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara, ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, dia mengatakan, "Pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura".
Namun, sambungnya, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura.
Walah... walah, gitu aja kok repot!
Anggur Mukti Ali
Pada kunjungan keliling Eropa bulan Februari 2000, Gus Dur ketemu para kepala negara/pemerintahan. Dia antara lain ketemu Presiden Perancis Jacques Chirac. Untuk mencairkan suasana, seperti biasa, dia memasang jurus ampuhnya: humor.
Dan tentu saja guyonan yang dipilihnya adalah sedikit banyak ada sangkutannya dengan tuan rumah. Menurut Gus Dur, pada tahun 1970-an di Indonesia mulai diupayakan dialog antar agama. Penggagasnya adalah Prof Mukti Ali, waktu itu menteri agama.
“Saya sangat setuju dengan prinsipnya, tapi tidak setuju dengan contoh yang diberikan Mukti Ali,” ujar Gus Dur.
“Mengapa?” tanya Presiden Chirac, mulai heran.
“Menurut Mukti Ali, semua agama itu sama saja; sama bagusnya, sama luhurnya. Ini saya setuju. Tapi dia memberi contoh dengan menyebut anggur. Ini saya tidak setuju. Sebab, kata Mukti Ali, agama-agama itu seperti anggur. Bisa dimasukkan ke gelas yang pendek, yang lonjong, yang bulat dan sebagainya, tapi isinya sama saja; anggur.”
“Lho, mengapa Anda tidak setuju?” tanya Chirac, belum paham juga.
“Sebab anggur itu macam-macam, wadahnya juga macam-macam. Tidak bisa sembarangan.”
“Ya, betul, betul,” kata Chirac sambil tertawa.
“Saya tahu benar tentang hal itu sebab saya orang Prancis.”
Dilarang Saling Melempar
Gus Dur seperti tidak pernah kehabisan cerita, khususnya yang bernada sindiran politik. Menurut dia, ada kejadian menarik di masa pemerintah Orde Baru.
Suatu kali Presiden Soeharto berangkat ke Mekkah untuk berhaji. Karena yang pegi seorang persiden, tentu sejumlah menteri harus ikut mendampingi. Salah satunya “peminta pertunjuk” yang paling rajin, Menteri Penerangan Harmoko.
Setelah melewati beberapa ritual haji, rombongan Soeharto pun melaksanakan jumrah, yakni simbol untuk mengusir setan dengan cara melempar batu ke sebuah tiang mirip patung. Di sini lah muncul masalah, terutama bagi Harmoko.
Beberapa kali batu yang dilemparkannya selau berbalik menghantam jidatnya. “Wah kenapa jadi begini ya?” cerita Gus Dus menuturkan pernyataan Harmoko yang saat itu tampak gemetar karena takut.
Lalu Harmoko pindah posisi. Hasilnya sama saja, batu yang dilemparnya seperti ada yang melempar balik ke arah dirinya. Setelah tujuh kali lemparan hasilnya selalu sama, Harmoko pun menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari posisi presiden untuk “minta petunjuk”. Setelah ketemu, lalu dengan lega ia tergopoh-gopoh menghampiri Bapak Presiden.
Namun, sebelum sampai di hadapan Soeharto, ia turut mendengar bisikan “Hai manuia, sesama setan jangan saling lempar.”
189 Gaya Bersetubuh
Ketika semua berteriak, "Musnahkan semua pornoaksi dan pornografi di negeri ini, karena tidak sesuai dengan syari'at Islam.", Gus Dur justru kurang sependapat.
Gus Dur berusaha mengambil sebuah contoh dari sisi pandangan Islam tentang porno tersebut.
Misalnya saja ketika Gus Dur menjawab interview dengan JAringan Islam Liberal, Gus Dur menyebut kitab Raudlatul Mu'aththar sebagai korban tentang kesalahan memandang pengertian daripada kata porno.
"Anda tahu, kitab Raudlatul Mu'aththar (The Perfumed Garden/Kebun Wewangian) itu merupakan kitab bahasa Arab yang isinya tata cara bersetubuh dengan 189 gaya hahahaha... ha.., kalau gitu kitab itu cabul dong?"
Doa Mimpi Matematika
Jauh sebelum menjadi Presiden, Gus Dur dikenal sebagai penulis yang cukup produktif. Hampir tiap pekan tulisannya muncul di koran atau majalah. Tema tulisannya pun beragam, dari soal politik, sosial, sastra, dan tentu saja agama.
Pernah ia mengangkat soal puisi yang ditulis oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun yang dimuat majalah Zaman. Kata Gus Dur, anak-anak itu ternyata lebih jujur dalam mengungkapkan keinginannya.
Nggak percaya? baca saja puisi yang dibuat oleh Zul Irwan, ini:
Tuhan..
Berikan aku mimpi malam ini
Tentang matematika yang diujikan besok pagi
Siapa Paling Dekat dengan Tuhan?
Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur tentu sebagai wakil dari agama Islam. Kala itu diperdebatkan mengenai agama mana yang paling dekat dengan Tuhan ?
Seorang biksu Budha menjawab duluan. “Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kita beribadah ketika memanggil Tuhan kita mengucapkan ‘Om’. Nah kalian tahu sendiri kan seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?”
Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal.“Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan.” ujar pendeta
“Lah kok bisa ?” sahut biksu penasaran.
“Kenapa tidak,agama anda kalau memanggil Tuhan hanya om, kalau di agama saya memanggil tuhan itu ‘Bapa’ Nah kalian tahu sendiri kan lebih dekat mana anak sama bapaknya daripada keponakan dengan pamannya,” jawab pendeta.
Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta.
kenapa anda kok tertawa terus?” tanya pendeta penasaran.
“Apa anda merasa bahwa agama anda lebih dekat dengan tuhan?” sahut biksu bertanya pada Gus Dur.
Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan “Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan.” jawab Gus Dur dengan masih tertawa.
“Lah kok bisa ?” tanya pendeta dan biksu makin penasaran.
“ Lah gimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara),” jawab Gus Dur.
Lupa Tanggal Lahir
Gus Dur, nama lengkapnya adalah Abdurrahma Al-Dakhil. Dia dilahirkan pada hari Sabtu di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Ada rahasia dalam tanggal kelahirannya. Gus Dur ternyata tidak tahu persis tanggal berapa sebenarnya dia dilahirkan.
Sewaktu kecil, saat dia mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah SD di Jakarta, Gus Dur ditanya, ” Namamu siapa Nak?” “Abdurrahman,” jawab Gus Dur.
“Tempat dan tanggal lahir?’ “Jombang …,” jawab Gus Dur terdiam beberapa saat.
“Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” lanjutnya
Gus Dur agak ragu sebab dia menghitung dulu bula kelahirannya. Gus Dur hanya hapal bulan Komariahnya, yaitu hitungan berdasarkan perputaran bulan. Dia tidak ingat bulan Syamsiahnya atay hitungan berdasarkan perputaran matahari.
Yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Syakban, bulan kedelapan dalam hitungan Komariag. Tetapi gurunya menganggap Agustus, yaitu bulan delapan dalam hitungan Syamsiah.
Maka sejak itu dia dianggap lahir pada tanggal 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Syakban 1359 Hijriah atau 7 September 1940.
Menyesal Bertemu Bidadari
Saat menanggapi aksi jihad yang dilakukan oleh banyak warga muslim yang percaya kematiannya akan menjamin tempat di surga, Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya.
“Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan kepada Gus Dur.
Gus Dur pun menjawab, “Memangnya sudah ada yang membuktikan?”
“Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang jelas bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan polisi,” lanjut Gus Dur cengengesan.
Kesatuan Ummat Beragama
Guyonan lainnya dilontarkan Gus Dur saat menghadiri “Seminar wawasan kebangsaan Indonesia” di Batam. Di hadapan 100 pendeta dari seluruh propinsi Kepulauan Riau, Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama.
“Oleh karena itu seluruh umat bertanggung jawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain, tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan,” kata Gus Dur disambut tawa peserta.
DPR Turun Pangkat
Gus Dur juga sempat melontarkan guyonan tentang prilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Sempat menyebut mereka sebagai anak Taman Kanak-Kanak.
Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah “turun pangkat” setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.
“DPR dulu TK, sekarang playgroup,” kata Gus Dur, ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang itu.
Tiga Jenis Orang NU
Rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sehari-harinya tidak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam. Bahkan tak jarang sampai dini hari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalangan NU maupun bukan. Mereka pun banyak dari luar kota.
Menggambarkan fanatisme orang NU, Gus Dur mengatakan, tamu-tamu itu ada tiga tipe orang NU.
Pertama :“Kalau mereka datang dari pukul 07.00 – 21.00 dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” kata Gus Dur.
Kedua:” mereka yang meski sudah larut malam, sekitar pukul 21.00-01.00, masih mengetuk pintu Gus Dur dan membicarakan NU. “Ini namanya orang gila NU,” ujarnya.
Ketiga: “ kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh.
Menebak Usia Mumi
Ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman Orde Baru. Cerita tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir. Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli Palaeo Antropologinya yang terbaik.
Akan tetapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman Orde Baru yang waktu itu masih bergaya represif misalnya banyaknya penculikan para aktivis. Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel.
Setelah sejumlah negara maju untuk menebak usai mumi, giliran delegasi Indonesia yang maju. Pak Komandan bertanya kepada panitia, bolehkan dia memeriksa mumi itu di ruang tertutup. “Boleh, silahkan,” jawab panitia.
Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringan Pak Komandan Intel itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri. “Usia mumi ini enam ribu dua ratus empat puluh lima tahun enam bulan tujuh hari,” katanya dengan lancar.
Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum jawaban itu tepat sekali.
Menjelang kembali ke Indonesia, Pak Komandan Intel dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel. “Anda luar biasa,” kata mereka. “Bagaimana cara Anda tahu dengan persis usia mumi itu?”
Pak Komandan dengan enteng menjawab, “Saya gebuki, ngaku dia!”
Ikan Curian Gusdur Jadi Halal
Gus Dur menjadi santri di Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam (Ponpes Salaf API) Tegalrejo, Magelang, antara 1957-1959. Gus Dur bersama beberapa teman-temannya merancang skenario pencurian ikan di kolam milik Sang Guru, Kiai Haji Chudlori.
Waktu itu, Gus Dur menyuruh teman-temannya untuk mencuri ikan di kolam sementara Gus Dur mengawasi di pinggir kolam,”
Gus Dur tak ikut masuk ke kolam dengan dalih mengawasi jika sewaktu-waktu KH Chudlori keluar dan melewati kolam. Tak lama kemudian, lanjut dia, KH Chudlori yang setiap pukul 01.00 WIB selalu keluar rumah untuk menuaikan shalat malam di masjid melintas di dekat kolam. Seketika itu juga, teman-teman Gus Dur yang sedang asyik mengambil ikan langsung disuruh kabur. Sementara Gus Dur tetap berdiri di pinggir kolam dengan memegang ikan hasil curian.
Gus Dur kepada KH Chudlori , kalau tadi ikan milik kiai telah dicuri dan Gus Dur mengaku berhasil mengusir para pencuri itu, ikan hasil curiannya berhasil Gus Dur selamatkan.
Atas “jerih-payah” Gus Dur itu, KH Chudlori menghadiahkan ikan tersebut kepada Gus Dur supaya dimasak di kamar bersama teman-temannya. Akhir kata, ikan itu akhirnya dinikmati Gus Dur bersama teman-teman bengalnya.
Jelas Gus Dur mendapat protes keras dari teman-temannya yang disuruhnya mencuri tadi. Namun bukan Gus Dur namanya jika tak bisa berdalih, yang lebih penting adalah hasilnya.
“Wong awakmu yo melu mangan iwake. Lagian, iwake saiki wis halal wong uwis entuk izin seko kyai." (Kamu juga ikut makan ikannya. Lagi pula, ikan curian tersebut sudah halal, karena telah mendapat izin dari kiai-)
Siapa yang Paling Hebat?
Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang “berdiskusi” tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan …
Bill Clinton (AS): Kalau Anda tahu … prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia … Mayor .. sini deh … coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.
Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demia “The Star Spangled Banner” saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).
Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!
Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan!
Koizumi (PM.Jepang) : (tak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) … coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali … !
Sersan: (melihat ada hiu … glek … tapi) for the queen I’am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali … dan dikejar hiu juga).
Sersan: (menghadap sang perdana menteri) GOD save the queen!!!
Gus Dur Digoda Anaknya
Salah seorang anak Gus Dur dengan penuh rasa ingin tahu mengamati ayahnya yang sedang memoleskan krim pembersih wajah yang dicurinya dari meja rias istrinya ke seluruh bagian mukanya.
“Kenapa sih Bapak selalu mengoleskan itu di wajah?” tanya anak itu.
“Supaya bapakmu ini ganteng terus,” jawab Gus Dur.
Tak berapa lama kemudian Gus Dur mengambil kapas dan mengusap krem yang menempel di wajahnya seperti yang sering dilakukan istrinya.
“Lho kok dihapus sih Pak? Putus asa ya…?” goda anaknya.
Koizumi: Hebat kamu … kembali ke tempat … Anda lihat Pak Clinton … Prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda … (tersenyum dengan hebat …)
Gusdur (RI): Kopral ke sini kamu … (setelah datang …) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali … ok?
Kopral: Hah … Anda gila yah …! Presiden nggak punya otak … nyuruh berenang bersama hiu … kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden …)
Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak … Cumi Cumi … kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! … Hidup Indonesia … !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar