MENGINGAT MATI
Kematian adalah
permulaan kepada kehidupan baru yang kekal abadi (akhirat). Yakin dengan
sebenar-benar yakin akan alam akhirat sangat dituntut karena merupakan
penjabaran dari rukun iman yang kelima.
Sabda Rasulullah:
"Perbanyakkanlah mengingati mati, niscaya akan meremehkan berbagai
kelezatan.” (An Nasai, Ibnu
Majah dari Abu Hurairah)
Ketika Malaikat maut datang menemui Nabi Yaakub AS untuk mencabut nyawa,
beliau bertanya, "Bukankah aku minta agar dikirimkan utusan terlebih dahulu"
Malaikat maut menjawab, "Demi Allah telah banyak utusanku memberi
peringatan wahai nabi Allah,
Jawab Nabi Yaakub ,"Aku tidak mengetahui dan mengenalinya,"
Jawab malaikat maut pula, "Yaitu berupa sakit, uban, pendengaran
kurang dan penglihatan kabur."
Rasulullah bersabda, "Berziarahlah kubur karena ia dapat mengingatkan
kamu kepada Akhirat. Mandikan orang mati karena mengurus jasad orang mati
merupakan peringatan yang mendalam. Dan shalatkan jenazah karena ia dapat
menyedihkan hati kamu karena orang yang bersedih dibawah naungan Allah SWT
berarti bersedia dengan segala kebajikan. (Dari Abu Dzar)
Barang siapa yang banyak menginggat mati akan mengutamakan 3 perkara:
1. Segera bertaubat, karena yakin mati akan
datang dengan tiba-tiba, tanpa disangka dan tidak mengira tempat.
2. Berhati tenang dan senantiasa
mewaspadai hati dari dihingapi dan dikotori ole berbagai mazmumah (sifat keji).
Dan sentiasa mengingati Allah SWT.
3. Rajin beribadah dan taat, dunia
ini adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat perhitungan.
Tanda-tanda orang yang melupakan mati
1. Menunda-nunda taubat, akhirnya
mati dalam keadaan membawa dosa dan belum bertaubat. Seringkali berangan-angan
karena menyangka mati masih lambat dan umur akan panjang.
2. Tidak rela hidup sederhana
akhirnya memburu kesenangan dan kemewahan dunia hingga lalai dari menginggati
Allah SWT. Sering merasa kecewa dan putus asa seolah-olah dunia ini
segala-galanya. Terlalu mementingkan diri sendiri dan sanggup menindas orang
lain
3. Malas beribadah, kelezatan menikmati
nikmat dunia menyebabkan lenyapnya kelezatan beribadah pada Allah SWT. Hilang
kemanisan ibadah, malah merasakan kosong dan tidak bermanfaat.
Allah SWT Berfirman :
Audzubillahi minasy syathonirrojim
1. Kullu nafsindza iqotul maut
(Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian)
2. Faidza ja'a Ajaluhum laa
yasta'khiruna sa'ah wala yastaqdimun (Maka apabila datang waktu kematian
tidaklah dapat diundur dan tidakpula dapat dimajukan.)
3. Wamal hayatuddun ya illa mata'ul
ghuruur (Sesungguhnya dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yangmemperdayakan.) Shodaqollohul adhim.
'KIAT' MENJEMPUT MAUT
Alkisah menurut shirah, pernah Nabi Ibrahim as berdialog dengan Malaikat
Maut soal sakratulmaut. Sahabat Allah itu bertanya, “Dapatkah engkau
memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat
dosa?”
Malaikat menjawab pendek: “Engkau tak akan sanggup.”
“Aku pasti sanggup,” tegas beliau.
“Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat.
Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok
makhluk berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan berpakaian
serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula
Nabi Ibrahim as jatuh pingsan! Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata
kepada Malaikat Maut, “Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak
menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah
itu menjadi hukuman untuknya.”
Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh 'Ikrimah dari Ibn 'Abbas
ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat
mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada
Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di hadapan Nabi yang
telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah,
berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum.
“Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya
cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya,” kata Nabi Ibrahim as.
Dari nukilan kisah itu, apakah bisik-bisik misteri tentang penampakan
Malaikat Maut menjelang ajal seseorang benar adanya”Dalam pergaulan
sehari-hari, kita sering mendengar kisah dari mulut ke mulut, misalnya tentang
seseorang yang tiba-tiba melihat “sesuatu” ketika salah seorang kerabatnya
tengah menghadapi maut. Apakah itu berupa bayangan hitam, putih, atau pun hanya
gumaman dialog mirip kata-kata yang dilontarkan oleh orang yang mengigau.
Namun yang pasti selain Nabi Ibrahim as, dari beberapa riwayat, Nabi Daud
dan Nabi Isa as juga pernah dihadapkan pada fenomena penampakan Malaikat Maut
itu. Kisah sakratulmaut itu belum seberapa bila dibandingkan dengan
sakratulmaut itu sendiri. Sakratulmaut adalah sebuah ungkapan untuk
menggambarkan rasa sakit yang menyerang inti jiwa manusia dan menjalar ke
seluruh bagian tubuh, sehingga tak satu pun bagian yang terbebas dari rasa
sakit itu. Malapetaka paling dahsyat di kehidupan paripurna manusia ini memberi
rasa sakit yang berbeda-beda pada setiap orang.
Untuk menggambarkan rasa itu, pernah Rasulullah S.A.W berkata: “Kematian
yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang menancap di selembar
kain sutera. Apakah duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian Kain
sutera yang terkoyak?”
Tapi di bagian lain Rasulullah -- seperti yang dikisahkan oleh Al-Hasan
pernah menyinggung soal kematian, cekikan, dan rasa pedih. “Sakitnya sama
dengan tiga ratus tusukan pedang,” sabda beliau.
Diriwayatkan, ketika ruh Nabi Ibrahim as akan dicabut, Allah SWT bertanya
kepada Ibrahim: “Bagaimana engkau merasakan kematian wahai kawanku?”
Beliau menjawab, “Seperti sebuah pengait yang dimasukkan ke dalam gumpalan
bulu basah yang kemudian ditarik.”
“Yang seperti itulah, sudah Kami ringankan atas dirimu,” firman-Nya.
Tentang sakratulmaut, Nabi S.A.W bersabda, “Manusia pasti akan merasakan
derita dan rasa sakit kematian, dan sesungguhnya sendi-sendinya akan
mengucapkan selamat tinggal satu sama lain seraya berkata 'Sejahteralah atasmu;
sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat kelak'.”
PANGGILAN TERHADAP MAYAT
DALAM suatu riwayat disebutkan, tatkala roh berpisah dari tubuh, maka ia
dipanggil dari langit dengan tiga kai jeritan:
Wahai anak Adam !!!
Apakah kamu meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkan kamu ?
Apakah kamu mengumpulkan dunia, atau dunia mengumpulkan kamu ?
Apakah kamu mematikan dunia, atau dunia mematikan kamu ?
Jika mayat diletakkan di tempat untuk dimandikan, maka ia dipanggil tiga
kali teriakan:
Wahai anak Adam!!!
Dimanakah tubuhmu yang kuat, bukankah sekarang ini kamu menjadi lemah ?
Dimana mulutmu yang bijak, bukankah sekarang kamu diam ?
Dimana kekasihmu, bukankah mereka sekarang mengasingkan kamu?
Dikala mayat diletakkan di tempat kafan, ia dipanggil tiga kali jeritan:
Wahai anak Adam!!!
Pergilah kamu ketempat yang jauh ke tanpa membawa bekal!
Keluarlah kamu dari rumahmu, dan tidak usah kembali!
Naiklah kuda, dan kamu tidak akan naik seperti itu selamanya, kamu akan
menjadi sesuatu di dalam rumah yang penuh kesedihan!
Sewaktu mayat itu dipikul diatas usungan, ia dipanggil tiga kali jeritan:
"Wahai anak Adam!!!
Sangat berbahagialah kamu jika kamu termasuk orang yang bertaubat.
Sangat berbahagialah kamu jika amal kamu baik.
Sangat berbahagialah kamu jika sahabatmu dalam keridhaan Allah, dan
alangkah celakanya kamu jika para sahabatmu orang yang dimurkai Allah."
Sewaktu mayat diletakkan untuk disholatkan, maka ia dipanggil tiga kali
teriakan:
Wahai anak Adam!!!
Segala amal yang telah kamu lakukan akan kamu lihat!
Jika amal perbuatanmu baik, maka kamu akan melihat baik!
Jika amal perbuatanmu buruk, kamu pun akan melihat buruk!"
Kemudian apabila mayat sudah berada di tepi kubur, maka ia dipanggil lagi
tiga kali teriakan:
"Wahai anak Adam!!!
Bukankah kamu menambahkan damai pada tempat yang sempit ini ?
Bukankah kamu membawa kekayaan di tempat kekafiran ini ?
Bukankah kamu membawa penerang ditempat yang gelap ini ?
Dan jika mayat diletakkan pada liang kubur, maka iapun dipanggil dengan
tiga kali jeritan:
Wahai anak Adam!!!
Kamu di atas punggungku bersenda gurau, tapi kamu dalam perutku menjadi
menangis.
Kamu berada diatas punggungku bergembira ria, tapi kamu dalam perutku
menjadi cemas dan duka.
Kamu diatas punggungku dapat berbicara, tapi kamu dalam perutku kamu
menjadi diam."
Setelah manusia pulang meninggalkan mayat yang sudah dikuburkan itu, lalu
Allah SWT berfirman: "Wahai hamba-hambaKu, kamu tetap terpencil dan
bersendirian, para manusia sudah pergi dan pulang meninggalkan kamu
bersendirian dalam kegelapan kubur.
Padahal kamu telah berbuat maksiat kepada-Ku karenapara manusia, karena
isteri dan anak. Namun Aku sangat kasihan kepadamu pada hari ini dengan limpahan
Rahmat, yang denganya para makhluk semua kagum. Dan aku lebih kasihan kepadamu
daripada kasih IBU kepada anaknya."
Wahai saudara muslimin ku… … siapakah mayat itu… … … .aku, kau, kamu semua
sudah pasti akan menjadi mayat suatu hari nanti. Dikala itu kita pasti akan
mendengar jeritan yang amat menggerikan itu hinggakan makhluk yang lain
mendengarnya merasa takut dan kagum terhadap Maha Pencipta. Mana amalan mu… … …
mana kebaikanmu sebagai Khalifah Allah dimuka bumi ini… … … … … … ???????
MATA YANG TIDAK MENANGIS DI HARI KIAMAT
Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir,
akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt.
Al-Quran menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti
yang disebutkan dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 1-16. dalam surah itu,
digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari
itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia
ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat
memperoleh kebahagiaan.
Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat,
Rasulullah pernah bersabda, "Semua mata akan menangis pada hari kiamat
kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt.
Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata
yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah."
Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis
di Hari Kiamat ? Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya
mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di teinpat-tempat maksiat,
dan pulang larut malam.Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan.
Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang
membaca Al-Quran. Ayat yang dibaca itu berbunyi: "Belum datangkah waktunya
bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan
kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti
orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kenudian
berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan
kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).
Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan
itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si
pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah
karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara
hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah
kepada Allah Swt., sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama
besar, seorang bintang di dunia taS.A.W uf.
Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar kerena
mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut
kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya
kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata
penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di
Hari Kiamat.
Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Seperti
telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang
akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan
perlindungan. Dari ketujah orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang
yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu
dengan mengatakan, "Aku takut kepada Allah".
Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan
majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat,
lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Swt.
Kemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama
Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya,
dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis
di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang
berbahagia di Hari Kiamat nanti.
BILA AJAL MULAI MENDEKAT
Baginda Rasullullah S.A.W berkata : Apabila telah sampai ajal seseorang itu
maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam
badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya
sehingga sampai kelutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain
masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka
keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya
dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar.
Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh
dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak
orang itu."
Sambung Rasullullah S.A.W. lagi: "Kalau orang yang nazak itu orang
yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang
disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di
syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa
kepada orang yang berada disekelilinginya. Ini adalah karena sangat rindunya
pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S."
Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S. akan menebarkan
sayap disebelah kiri. Maka orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di
neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang disekelilinginya.
Ini adalah karena terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi
tempat tinggalnya. Dari sebuah hadis bahwa apabila Allah S.W.T. menghendaki
seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut. Apabila
malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka
keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata: "Tidak ada
jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini karena orang ini sentiasa
menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T." Setelah malaikat maut
mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T. dan
menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu. Lalu Allah S.W.T.
berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari
arah lain." Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka
malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi
keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala
anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu. Maka berkata tangan: "Tidak ada
jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah
mengeluarkan sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini
menulis ilmu pengetahuan."
Oleh karena malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah
tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut
juga gagal melakukan sebab kaki berkata:"Tidak ada jalan bagimu dari arah
ini karena kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat dengan
berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu."
Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh org mukmin dari arah kaki,maka
malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut
menghampiri telinga maka telinga pun berkata: "Tidak ada jalan bagimu dari
arah ini karena telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir."
Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi
baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata: "Tidak ada jalan
bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf dan
kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis karena takutkan Allah." Setelah
gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah S.W.T.
berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak
tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu."
Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut menghampiri
roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T. Sebaik saja melihat Asma Allah
dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut dari arah mulut
dengan tenang. Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia
keluar dari jasad.
Maka berkata Abu Bakar R.A: "Roh itu menuju ketujuh tempat:
1. Roh para Nabi
dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para
ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka
yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para
shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5. Roh para
mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit
sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak
orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh
orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin, mereka diseksa berserta
jasad-nya hingga sampai hari Kiamat."
Telah bersabda Rasullullah S.A.W :
"Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat
pada hari mereka keluar dari kuburnya :
1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
3. Orang berpuasa di hari Arafah.
Insya Allah kita termasuk kelompok yang tersebut diatas Amin ya robbal
'Alamiin
KISAH RAHASIA DIBALIK SHALAT LIMA WAKTU
Ali bin Abi Talib r.a. berkata, "Sewaktu Rasullullah S.A.W duduk
bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu
rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata, 'Ya Muhammad, kami hendak bertanya
kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa
a.s. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat
muqarrab.'
Lalu Rasullullah S.A.W bersabda, 'Silakan bertanya.'
Berkata orang Yahudi, 'Sila terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang
diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.'
Sabda Rasullullah S.A.W , 'Shalat Zuhur jika tergelincir matahari, maka
bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya. Shalat Asar itu ialah saat ketika
Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Shalat Maghrib itu adalah saat Allah
menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang bershalat Maghrib dengan
ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan
mengkabulkan permintaannya. Shalat Isyak itu ialah shalat yang dikerjakan oleh
para Rasul sebelumku. Shalat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini karena
apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ
sujudnya setiap orang kafir.'
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W , lalu
mereka berkata, 'Memang benar apa yang kamu katakana itu Muhammad. Katakanlah
kepada kami apakah pahala yang akan didapati oleh orang yang shalat.'
Rasullullah S.A.W bersabda, 'Jagalah waktu-waktu shalat terutama shalat
yang pertengahan. Shalat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam.
Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke
atasnya wap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.'
Sabda Rasullullah S.A.W lagi, 'Manakala shalat Asar, adalah saat di mana
Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat
Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.'
Selepas itu Rasullullah S.A.W membaca ayat yang bermaksud, 'Jagalah
waktu-waktu shalat terutama sekali shalat yang pertengahan. Shalat Maghrib itu
adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas
mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah
akan perkenankan.'
Sabda Rasullullah S.A.W , 'Shalat Isyak (atamah). Katakan kubur itu adalah
sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang
berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan shalat Isyak berjamaah,
Allah SWT haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan
kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.'
Sabda Rasullullah S.A.W seterusnya, 'Shalat Subuh pula, seseorang mukmin
yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan
kepadanya oleh Allah SWT dua kebebasan iaitu:
1. Dibebaskan daripada api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan daripada Rasullullah S.A.W , maka
mereka berkata, 'Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad
(S.A.W ). Kini katakan pula kepada kami semua, kenapakah Allah SWT mewajibkan
puasa 30 hari ke atas umatmu ?
Sabda Rasullullah S.A.W , 'Ketika Nabi Adam memakan buah pohon khuldi yang
dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam a.s. selama 30
hari. Kemudian Allah SWT mewajibkan ke atas keturunan Adam a.s. berlapar selama
30 hari.
Sementara diizin makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah SWT
kepada makhluk-Nya.'
Kata orang Yahudi lagi, 'Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu
katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang
diperolehi daripada berpuasa itu.'
Sabda Rasullullah S.A.W , 'Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan
dengan ikhlas kepada Allah SWT, dia akan diberikan oleh Allah SWT 7 perkara:
1. Akan
dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada
makanan yang haram).
2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan daripada merasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Allah SWT pada hari Kiamat untuk menyeberang
Titian Sirath.
7. Allah SWT akan memberinya kemudian di syurga.'
Kata orang Yahudi, 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan
kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.'
Sabda Rasullullah S.A.W , 'Seorang nabi menggunakan doa mustajabnya untuk
membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya
gunakan memberi syafaat kepada umat saya di hari kiamat).'
Kata orang Yahudi, 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami
mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami
percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan engkau utusan Allah).'
Sedikit peringatan untuk kita semua: "Dan sesungguhnya akan Kami
berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,
jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar." (Surah Al-Baqarah: ayat 155)
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia
mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (Surah Al-Baqarah:
ayat 286)
GUGURNYA DOSA BERSAMA TETESAN AIR WUDLU
Abu Nadjih (Amru) bin Abasah Assulamy r.a berkata : Pada masa Jahiliyah,
saya merasa bahwa semua manusia dalam kesesatan, karena mereka menyembah
berhala. Kemudian saya mendengar berita ; Ada seorang di Mekkah memberi
ajaran-ajaran yang baik. Maka saya pergi ke Mekkah, di sana saya dapatkan
Rasulullah S.A.W masih sembunyi-sembunyi, dan kaumnya sangat congkak dan
menentang padanya.
Maka saya berdaya-upaya hingga dapat menemuinya, dan bertanya kepadanya :
Apakah kau ini ?
Jawabnya : Saya Nabi.
Saya tanya : Apakah nabi itu ?
Jawabnya : Allah mengutus saya.
Diutus dengan apakah ?
Jawabnya : Allah mengutus saya supaya menghubungi famili dan menghancurkan
berhala, dan meng-Esa-kan Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun.
Saya bertanya : Siapakah yang telah mengikuti engkau atas ajaran itu ?
Jawabnya : Seorang merdeka dan seorang hamba sahaya ( Abubakar dan Bilal ).
Saya berkata : Saya akan mengikuti kau.
Jawabnya : Tidak dapat kalau sekarang, tidakkah kau perhatikan keadaan
orang-orang yang menentang kepadaku, tetapi pulanglah kembali ke kampung,
kemudian jika telah mendengar berita kemenanganku, maka datanglah kepadaku.
Maka segera saya pulang kembali ke kampung, hingga hijrah Rasulullah S.A.W
ke Madinah, dan saya ketika itu masih terus mencari berita, hingga bertemu
beberapa orang dari familiku yang baru kembali dari Madinah, maka saya bertanya
: Bagaimana kabar orang yang baru datang ke kota Madinah itu ?
Jawab mereka : Orang-orang pada menyambutnya dengan baik, meskipun ia akan
dibunuh oleh kaumnya, tetapi tidak dapat. Maka berangkatlah saya ke Madinah dan
bertemu pada Rasulullah S.A.W .
Saya berkata : Ya Rasulullah apakah kau masih ingat pada saya ?
Jawabnya : Ya, kau yang telah menemui saya di Mekkah.
Lalu saya berkata : Ya Rasulullah beritahukan kepada saya apa yang telah
diajarkan Allah kepadamu dan belum saya ketahui. Beritahukan kepada saya
tentang shalat ?
Jawab Nabi : Shalatlah waktu Shubuh, kemudian hentikan shalat hingga
matahari naik tinggi sekadar tombak, karena pada waktu terbit matahari itu
seolah-olah terbit di antara dua tanduk syaitan, dan ketika itu orang-orang
kafir menyembah sujud kepadanya. Kemudian setelah itu kau boleh shalat sekuat
tenagamu dari sunnat, karena shalat itu selalu disaksikan dan dihadiri
Malaikat, hingga matahari tegak di tengah-tengah, maka di situ hentikan shalat
karena pada saat itu dinyalakan Jahannam, maka bila telah telingsir dan mulai
ada bayangan, shalatlah, karena shalat itu selalu disaksikan dan dihadiri
Malaikat, hingga shalat Asar. Kemudian hentikan shalat hingga terbenam
matahari, karena ketika akan terbenam matahari itu seolah-olah terbenam di
antara dua tanduk syaithan dan pada saat itu bersujudlah orang-orang kafir.
Saya bertanya : Ya Nabiyullah : Ceriterakan kepada saya tentang wudlu' !
Bersabda Nabi : Tiada seorang yang berwudlu' lalu berkumur dan menghirup
air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan keluar semua dosa-dosa
dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang
diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama
tetesan air.
Kemudian bila membasuh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa
dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap kepala maka
jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua
kaki ke matakaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama
tetesan air.
Maka bila ia shalat sambil memuja dan memuji Allah menurut lazimnya, dan
membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua
dosanya bagaikan lahir dari perut ibunya " ( HR. Muslim )
Ketika Amru bin Abasah menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah, oleh Abu
Umamah ditegur : Hai Amru bin Abasah perhatikan keteranganmu itu, masakan dalam
satu perbuatan orang diberi ampun demikian rupa. Jawab Amru : Hai Abu Umamah,
telah tua usiaku, dan rapuh tulangku, dan hampir ajalku, dan tiada kepentingan
bagiku untuk berdusta terhadap Allah atau Rasulullah S.A.W .
Andaikan saya tidak mendengar dari Rasulullah, hanya satu dua atau tiga
empat kali, atau lima enam tujuh kali tidak akan saya ceritakan, tetapi saya
telah mendengar lebih dari itu " ( HR. Muslim )
KESEMPURNAAN SEORANG MUSLIM
Seorang sahabat bertanya kepada Rosulullah S.A.W , Dia berkata : Aku ingin
menjadi orang yang alim
Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang
yang alim
Dia berkata : Aku ingin menjadi orang paling kaya
Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri sendiri maka
engkau akan jadi orang paling kaya
Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang adil
Baginda S.A.W menjawab: Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau
kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia
Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang paling baik
Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka
engkau akan jadi sebaik-baik manusia
Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang istimewa di sisi Allah
Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan dzikrullah niscaya engkau akan jadi
orang istimewa di sisi Allah
Dia berkata : Aku ingin disempurnakan imanku
Baginda S.A.W menjawab : Baikkanlah akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna
Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang taat
Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajiban yang difardhukan maka
engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat
Dia berkata : Aku ingin berjumpa Allah dalan keadaan bersih dari dosa
Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu dari dosa niscaya engkau akan
menemui Allah dalam keadaan suci dari dosa
Dia berkata : Aku ingin dihapuskan segala dosaku
Baginda S.A.W menjawab : Banyaklah beristighfar niscaya akan dihapuskan
(kurangkan ) segala dosamu
Dia berkata : Aku ingin menjadi semulia-mulia manusia
Baginda S.A.W menjawab : Jangan berprasangka pada orang lain niscaya engkau
akan jadi semulia-mulia manusia
Dia berkata : Aku ingin menjadi segagah-gagah manusia
Baginda S.A.W menjawab : Senantiasa berserah diri (tawakkal) kepada Allah
niscaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia
Dia berkata : Aku ingin dimurahkan rezeki oleh Allah
Baginda S.A.W menjawab : Senantiasa berada dalam keadaan bersih ( dari
hadast ) niscaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu
Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh
Allah dan rasulNya
Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan
rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka
Dia berkata : Aku ingin diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat
Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain niscaya engkau akan
selamat dari kemurkaan Allah dan rasulNya
Dia berkata : Aku ingin diterima segala permohonanku
Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram nescaya segala permohonanmu
akan diterimaNya
Dia berkata : Aku ingin agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari
qiamat
Baginda S.A.W menjawab : Tutupilah keburukan orang lain niscaya Allah akan
menutup keaibanmu pada hari qiamat
Dia berkata : Siapa yang selamat dari dosa?
Baginda S.A.W menjawab : Orang yang senantiasa mengalirkan air mata
penyesalan, mereka yang tunduk padakehendakNya dan mereka yang ditimpa
kesakitan
Dia berkata : Apakah kebaikan terbesar di sisi Allah?
Baginda S.A.W menjawab : Baik budi pekerti, rendah diri dan sabar
menghadapi cobaan Allah
Dia berkata : Apakah kejahatan terbesar di sisi Allah?
Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan
Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ?
Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi dan menghubungkan
persaudaraan
Dia berkata: Apakan yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat?
Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah
ORANG-ORANG TAMAK
Ada dua orang yang tamak dan masing-masing tidak akan kenyang. Pertama,
orang tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, orang tamak
memburu harta, dia tidak akan kenyang.
(Nabi Muhammad S.A.W ) Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari
Ibnu Abbas ra di atas, ada dua karakter orang tamak yang tidak akan pernah puas
terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya.
Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda menurut sisi pandang
Islam.
Adalah terpuji jika ada seorang
Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan
derajat keilmuan, akhlak, amal kebajikan, dan usahanya untuk meraih kemuliaan,
yang akan mengetuk hatinya untuk menapaki tangga kesempurnaan sebagai seorang
Muslim. Ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk mengkaji Islam dalam
memecahkan problem kehidupan manusia dengan hikmah. Sabda Rasulullah S.A.W ,
“Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya,
di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas ra).
Sedangkan ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas,
laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu
bukan haknya. Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan
berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha.
Firman Allah SWT: Katakanlah (hai Muhammad), jika seandainya kalian menguasai
semua perbendaharaan rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (kekayaan) itu kalian
tahan (simpan) karena takut menginfakkannya (mengeluarkannya). Manusia itu
memang sangat kikir. (QS Al Isra': 100).
Rasulullah S.A.W bersabda, “Hamba
Allah selalu mengatakan, 'Hartaku, hartaku', padahal hanya dalam tiga soal saja
yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai habis, apa yang dipakai
hingga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang sebagai kebajikan. Selain itu
harus dianggap kekayaan hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan orang lain,”
(HR Muslim).
Seorang Mukmin adalah orang yang
meyakini bahwa rezeki telah ditentukan oleh Allah SWT. Dia juga yakin bahwa setiap
manusia tidak akan menemui ajalnya sebelum semua rezeki yang telah ditetapkan
oleh Allah dicukupkan kepadanya.
Ia merasa cukup terhadap harta yang telah diperolehnya dan menyadari ada
hak orang lain atas kelebihan harta yang dimilikinya. Ia infakkan sebagian
hartanya di jalan Allah untuk membantu saudara-saudaranya yang dilanda
kelaparan dan kekurangan. Demikianlah yang patut dilakukan seorang Muslim dan
ia tidak lagi silau terhadap kekayaan orang lain yang dihimpun karena
ketamakan.
Rasulullah bersabda, “Tidak ada iri
hati kecuali dalam dua perkara, (yaitu) orang yang dikaruniai harta kekayaan
dan dihabiskan untuk menegakkan kebenaran, dan orang yang dikaruniai hikmah
kemudian ia melaksanakan dan mengajarkannya (kepada orang lain).”
NERAKA JAHANAM
Diriwayatkan dari Umar Ibnul Khattab r.a. : Telah datang Jibril kepada Nabi
Muhammad S.A.W bukan pada waktu yang biasanya ia datang, Rasulullah S.A.W lalu
berdiri mendapatkannya dan bertanya : Hai Jibril, kenapa aku melihat engkau
berobah warnamu. Berkata Jibril : Aku datang kepadamu untuk menerangkan
semburan api Neraka. Berkata Rasulullah S.A.W : Terangkanlah kepadaku keadaan
Neraka dan hal-ihwal Jahannam. Berkata Jibril : Sesungguhnya Allah SWT
memerintahkan agar Jahannam dinyalakan apinya 1000 tahun lamanya, sehingga
karena semakin panasnya maka berobah warnanya menjadi putih. Lalu diperintahkan
menyalakan 1000 tahun lagi, sehingga berobah warnanya menjadi merah. Lalu
diperintahkan menyalakan 1000 tahun lagi, sehingga berobah warnanya menjadi
hitam yang amat gelap, sehingga hilang sinarnya, bergejolak-gejolak tak
padam-padam bakarannya.
Demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya dibukakanlah
Jahannam itu sebesar lobang jarum, akan terbakarlah bumi dan segala isinya
karena panasnya. Dan demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya
salah satu dari penjaga-penjaga Neraka itu didatangkan Allah SWT ke dunia ini,
akan matilah seluruh manusia isi bumi ini karena kejelekan rupanya dan
kebusukan baunya. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya
sebuah ring ( lingkaran ) dari rantai Neraka diletakkan di atas sebuah gunung
di dunia ini, akan tembuslah gunung itu sampai-sampai ke dasar bumi, yang
paling bawah. Maka berkata Rasulullah S.A.W : Untunglah hai Jibril, jantungku
tak sampai pecah sehingga aku mati mendengar keteranganmu ini.
Rasulullah melihat Jibril menangis, Rasulullah S.A.W turut menangis pula,
lalu berkata : Kenapa engkau sampai menangis pula ya Jibril, sedang kedudukanmu
begitu rupa di sisi Allah SWT ? Berkata Jibril : Kenapa aku tak akan menangis,
malah akulah yang lebih berhak untuk menangis, karena siapa tahu keadaanku
dalam ilmu Allah SWT tidak seperti yang aku ketahui, dan saya tidak mengetahui
apakah saya tidak akan mengalami cobaan sebagai yang telah telah dialami oleh
iblis, sedang iblis itu termasuk golongan Malaikat (tetapi nyeleweng ), dan
aku tidak tahu apakah aku akan mengalami apa yang dialami oleh Harut dan Marut.
Maka menangislah Jibril dan menangis pulalah Rasulullah S.A.W . Lama keduanya
sama-sama menangis, lalu datanglah seruan dari langit : Hai Jibril, Hai
Muhammad, sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah menjamin kamu berdua dengan
tidak akan durhaka. Lalu Jibril naik ke langit, dan Rasulullah S.A.W lalu
meneruskan perjalanan beliau, sehingga bertemu dengan sekelompok orang-orang
Anshar yang bermain-main dan ketawa-ketawa. Lalu berkata Rasulullah S.A.W
kepada mereka : Apakah kamu ketawa-ketawa sedang di belakangmu Neraka Jahannam.
Sekiranya kamu ketahuilah akan apa yang aku ketahui, sungguh kamu akan ketawa
sedikit dan akan menangis banyak, kamu takakan makan dan tak akan minum, malah
akan menuju ke tempat-tempat tinggi untuk bermohon minta perlindungan Allah
SWT.
999 MASUK NERAKA
Allah berfirman dalam Hadits Qudsi sebagai berikut: Allah swt. berfirman
pada hari qiamat: "Hai Adam! Bangkitlah, siapkanlah sembilan ratus
sembilan puluh sembilan keturunanmu (untuk ditempatkan) dalam neraka, dan satu
(di antara mereka itu), akan ditempatkan dalam syurga". (Ketika Rasulullah S.A.W menerimanya kemudian
menyampaikannya kepada para sahabat), beliau menangis tersedu-sedu, demikian
pula para sahabat lainnya, lalu beliau bersabda: "Angkatlah kepala kalian.
Demi Allah Yang menguasai jiwaku. (Dibandingkan) dengan ummat-ummat Nabi yang
lain, ummat-Ku hanyalah bagaikan selembar bulu putih (yang terdapat) pada kulit
lembu jantan yang berbulu hitam. (Hadith Qudsi Riwayat Thabarani di dalam kitab
al-Kabir yang bersumber dari Abud-Darda' r.a.)
Banyaknya yang masuk neraka dan sedikitnya yang masuk syurga menurut Hadits
di atas, dapat kita ramalkan dari sekarang. Di saat kita hidup dewasa ini kita
saksikan banyaknya orang-orang kafir, orang-orang musyrik, munafiq, dan atheis
yang menghiasi dunia ini dengan kema'siatan. Malah banyak pula orang-orang yang
dirinya mengaku Muslim (beragama Islam) tetapi fasiq , suka menurutkan
keinginan hawa nafsu, hanya mengikuti arus kehidupan yang melanggar ketentuan
Agama. Banyak pula yang dengan sadar atau tidak sadar keluar dari garis-garis
batasnya. Mereka inilah yang dimaksud dan termasuk golongan yang 999 itu.
Ketika Nabi S.A.W . mendengar hal sedikitnya orang-orang yang masuk syurga
itu, beliau merasa sedih, lalu menangis. Para shahabat merasa kuatir dan takut
kalau-kalau termasuk golongan banyak yang masuk neraka, sehingga mereka pun
turut menangis pula.
Menyaksikan betapa sedu-sedannya para sahabat menangis, Nabi S.A.W .
berkeinginan untuk menghibur mereka dan menyampaikan khabar gembira yang telah
dikurniakan dan disampaikan Allah kepada ummat beliau. Beliau memerintahkan
kepada mereka untuk mengangkat muka dan berhenti menangis. Beliau menyampaikan
berita yang menegaskan bahwa banyak di antara ummat Muhammad yang mendapat
taufiq dan hidayah Allah, serta berjalan di atas rel-Nya. Sehelai bulu berwarna
putih pada kulit lembu hitam itu memang sedikit.
Ummat Muhammad S.A.W . itu memang sedikit dibandingkan dengan banyaknya
ummat-ummat yang sesat dan menyeleweng. Selain jumlahnya sedikit, ummat Nabi
Muhammad, adalah sebaik-baik ummat, menurut al-Quran. Sewajibnyalah kita
sebagai ummat yang baik, berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa dapat
mempertahankan kedudukan yang mulia ini.
KETIKA DOSA ANDA SEDALAM SAMUDERA
Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu
minggu, satu bulan, satu tahun bahkan sepanjang usia kita ?
Andaikan saja kita bersedia menyediakan satu kotak kosong, lalu kita
masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira apa yang terjadi ? Saya
menduga kuat bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak
mampu menaham muatan dosa kita.
Bukankah shalat kita masih "bolong-bolong" ? Bukankah pernah kita
tahan hak orang miskin yang ada di harta kita ? Bukankah pernah kita kobarkan
rasa dengki dan permusuhan kepada sesama muslim ? Bukankah kita pernah
melepitkan selembar amplop agar urusan kita lancar ? Bukankah pernah kita
terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda ?
Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita
sanggup menolongnya ?
Daftar ini akan menjadi sangat panjang… …
Lalu, apa yang harus kita lakukan ?
Allah berfirman dalam Surat az-Zumar [39]: 53 "Katakanlah: "Hai
hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada
teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan
kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk
mengampuni dosa-dosa kita.
Karena itu, kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan taubat
pada-Nya.Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa
kita ke pada jiwa yang fitri dan nazih.
Jika anda mempunyai onta yang lengkap dengan segala perabotannya, lalu
tiba-tiba onta itu hilang. Bukankah anda sedih ? Bagaimana kalau tiba-tiba onta
itu datang kembali berjalan menuju anda lengkap dengan segala perbekalannya ?
Bukankah Anda akan bahagia ? "Ketahuilah," kata Rasul, "Allah
akan lebih senang lagi melihat hamba-Nya yang berlumuran dosa berjalan kembali
menuju-Nya!"
Allah berfirman: "Dan kembalilahh kamu kepada Tuhanmu, dan berserah
dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat
ditolong (lagi)." (QS 39:54)
Seperti onta yang sesat jalan dan mungkin telah tenggelam di dasar
samudera, mengapa kita tak berjalan kembali menuju Allah dan menangis di
"kaki kebesaran-Nya" mengakui kesalahan kita dan memohon ampunNya…
Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami
Ya Allah!
SUNGGUH AKAN KAMI BERIKAN COBAAN KEPADAMU
Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau
kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah.
Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa
itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak
sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar
menghadapinya.
Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a: "Ya Tuhan kami, jangnlah
Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada
kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… "(QS 2: 286)
Do'a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan
kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan
cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita
jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa
lapar, kurang harta dan lainnya.
Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari
membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani
memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena
rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke
"orang pintar" agar bertahan pada posisinya atau supaya malah
meningkat ke "kursi" yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan
harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqoh.
Al-Qur'an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah
berfirman: "Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2: 155) Amat menarik
bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi
bukan orang yang menang atau orang yang gagah… .tapi orang yang sabar! Biasanya
kita akan cepat-cepat berdalih, "yah..sabar kan ada batasnya… " Atau
lidah kita berseru, "sabar sih sabar… saya sih kuat tidak makan enak, tapi
anak dan isteri saya?" Memang, manusia selalu dipenuhi dengan
pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.
Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang
sabar pada ayat di atas: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah
mereka mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (Qs 2: 156)
Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita
sering mengucapkan kalimat "Inna lillahi… ." Orang sabar-kah kita?
Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna
ilaihi raji'un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.
Arti kalimat itu adalah : "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan
kepada-Nya-lah kami kembali." Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat
biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap
musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah
milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau
tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari
Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar
menurut Al-Qur'an!
Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat
sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata, tiba-tiba
tidak jadi diberikan kepada kita, dna diberikan kepada saingan kita. Berubah
menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru,
mobil baru atau malah pacar baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan
penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita
ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah… . Bila kita mampu
mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang
menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur'an: "Mereka
itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
Allah berfirman dalam Al-Qur'an :
Laa yukallifullahu nafsan illa wus aha
Allah tidak akan memberi cobaan pada manusia kecuali mereka mampu
menanggungnya.
Untuk itu tak usah buru-buru meratapi kondisi kita yang miskin,
sakit-sakitan, ditimpa bencana Seakan hanya kita yang mendapat cobaan yang
berat dari Allah.
Innallaha maashobirin. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
GELAP GULITA YANG TINDIH-BERTINDIH
Ketika anda berada di ruangan yang gelap gulita, apa yang bisa anda lakukan
? Tentu saja anda akan meraba-raba untuk menemukan jalan sambil mengerahkan
daya insting anda. Anda tak tahu jalan untuk keluar, nafas anda sesak dan
kegelisahan mulai menyelimuti anda. Tak ada sebersit cahayapun yang menyinari
tempat anda berada.
Sekarang bayangkan bila hidup anda tak disinari oleh cahaya ilahi. Tentu
saja anda pun akan berputar-putar tanpa arah di dalam kegelapan. Atau dalam
bahasa Al-Qur'an: "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang
diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan;
gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia, mengeluarkan tangannya,
tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk)
oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun." (QS 24: 40)
Di saat keadaan gelap gulita, jiwa gelisah dan anda tak tahu apa yang harus
anda kerjakan, beban kerjapun semakin menumpuk, himpitan ekonomi menghadang
langkah anda, tubuh anda bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan
serba salah, jika hal ini menimpa anda maka carilah cahaya ilahi agar anda
dapat keluar dari kegelapan itu.
Bagaimana caranya mencari cahaya ilahi yang akan menerangi hati anda ?
"dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!"
(QS 74:4-5)
Mari kita bersihkan pakaian kita.tengoklah diri kita di cermin, berapa
banyak pakaian kesombongan, pakaian riya', pakaian dengki, pakaian takabur yang
kita kenakan. Pakaian itu kita percantik dengan segala macam asesoris seperti
lalai mengingat Allah, enggan bersedekah, merasa berat untuk pergi haji, dan
lain sebagainya. Maka bersihkanlah segala macam pakaian lengkap dengan asesorisnya
tersebut. Setelah itu usahakanlah untuk tak mengenakan pakaian itu selamanya.
Sekarang tengoklah hati anda, rasakan cahaya ilahi mulai masuk ke dalam
relung hati. "Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing
kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki… "(QS 24: 35)
Mari kita kumpulkan cahaya ilahi itu mulai sekarang, dari hari ke hari
hingga di hari kiamat nanti kita berdo'a, sebagaimana terekam dalam QS 66:28 :
"Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami,
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Berbahagialah mereka yang mendapat cahaya ilahi… .
WASIAT RASULULLOH S.A.W KEPADA AISYAH
Saiyidatuna 'Aisyah r.'a meriwayatkan : Rasulullah S.A.W bersabda "Hai
Aisyah, aku berwasiat kepada engkau.
Hendaklah engkau senantiasa mengingat wasiatku ini. Sesungguhnya engkau
akan senantiasa di dalam kebajikan selama engkau mengingat wasiatku ini… "
Intisari wasiat Rasulullah S.A.W tersebut dirumuskan seperti berikut: Hai,
Aisyah, peliharalah diri engkau.
Ketahuilah bahwa sebagian besar daripada kaum engkau (kaum wanita) adalah
menjadi kayu api di dalam neraka.
Diantara sebab-sebabnya ialah mereka itu :
(a) Tidak dapat
menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan), tidak sabar apabila
ditimpa musibah
(b) tidak memuji
Allah Taala atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan nikmat dan rahmat tidak
bersyukur.
(c) mengkufurkan
nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah
(d) membanyakkan
kata-kata yang sia-sia, banyak bicara Yang tidak bermanfaat.
Wahai, Aisyah, ketahuilah :
(a) bahwa wanita
yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang diberikan oleh suaminya maka
amalannya akan digugurkan oleh Allah
(b) bahwa wanita
yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, maka pada hari kiamat, Allah
menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan di tengkuknya.
(c) bahwa isteri
yang memandang jahat (menuduh atau menaruh sangkaan buruk terhadap suaminya),
Allah akan menghapuskan muka dan tubuhnya Pada hari kiamat.
(d) bahwa isteri
yang tidak memenuhi kemauan suami-nya di tempat tidur atau menyusah-kan urusan
ini atau mengkhiananti suaminya, akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat
dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubunnya terikat kepada dua kakinya
di dalam neraka.
(e) bahwa wanita
yang mengerjakan sholat dan berdoa untuk dirinya tetapi tidak untuk suaminya,
akan dipukul mukanya dengan sholatnya.
(f) bahwa wanita
yang dikenakan musibah ke atasnya lalu dia menampar-nampar mukanya atau
merobek-robek pakaiannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama dengan
Isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan tiada harapan mendapat kebajikan
syafaat dari siapa pun;
(g) bahwa wanita
yang berzina akan dicambuk dihadapan semua makhluk didepan neraka pada hari
kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan depalan puluh cambuk dari api.
(h) bahwa isteri
yang mengandung ( hamil ) baginya pahala seperti berpuasa pada siang harinya
dan mengerjakan qiamul-lail pada malamnya serta pahala berjuang fi sabilillah.
(i) bahwa isteri
yang bersalin ( melahirkan ), bagi tiap-tiap kesakitan yang dideritainya diberi
pahala memerdekakan seorang budak. Demikian juga pahalanya setiap kali menyusukan
anaknya.
(j) bahwa wanita
apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti suaminya, maka diumpamakan dengan
titik-titik darah dalam perjuangan fisabilillah.
APAKAH ANDA BERIMAN KEPADA ALLAH ?
"Sesungguhnya seseorang telah bertanya kepada Rasulullah S.A.W ,
apakah iman itu. Beliau menjawab, 'Apabila kebaikanmu menggembirakanmu dan
keburukanmu menyusahkanmu, maka engkau dalam keadaan mukmin.' Dia bertanya
lagi, 'Ya Rasulullah, lalu apakah dosa itu?' Beliau menjawab, 'Apabila sesuatu
terbersit dalam hatimu, maka tinggalkanlah ia.'" (HR.Thabrani, Ahmad, dan
Nasa'i).
Rasulullah adalah guru dan pendidik ummatnya. Pertanyaan dari siapapun
pasti dijawab dengan sungguh-sungguh. Hebatnya, setiap jawabannya selalu pas
dengan keinginan si penanya.
Pada hadits di atas Rasulullah memberikan jawaban yang aplikatif sekali.
Iman yang merupakan pekerjaan hati diungkapkan Rasulullah dengan sederhana
sekali, yaitu bila suatu kebaikan menjadikan seseorang gembira dan keburukan
menjadikannya susah, maka orang tersebut dapat digolongkan beriman.
Dengan jawaban ini semua orang bisa mengukur dirinya sendiri. Setiap Muslim
bisa tahu, apakah sekarang kondisi imannya sedang naik atau turun. Jika
berkali-kali melakukan kesalahan tetap merasa aman-aman saja, itu indikasi
iman berada di ambang bahaya. Orang yang koreksi akan segera beristighfar,
bertaubat, kemudian memperbaiki diri.
Suatu hari mungkin saja ada perasaan berat untuk melaksanakan kebaikan.
Ibadah terasa berat, membaca al- Qur'an menjadi mudah ngantuk, sementara jika
memeloti TV tahan berjam-jam. Ketika datang waktu shalat, disambutnya dengan
malas-malas. Waktunya molor-molor hingga batas akhir. Konsentrasi jauh
berkurang, persiapan seadanya, dan waktu shalat dipersingkat. Selesai shalat
terus ngeloyor pergi, tanpa berdzikir dan shalat sunnat. Jujur saja bahwa kita
semua pasti pernah mengalaminya.
Itulah dinamika iman. Ada saatnya pasang, ada waktunya turun. Ketika iman
sedang naik, semua kebaikan menjadi gampang dan ringan. Sebalik-nya, ketika
iman sedang surut, semua ibadah menjadi susah.
Setiap muslim diwajibkan untuk selalu mengoreksi dirinya sendiri (self
correcting). Menghisab segala amal yang dikerjakan dalam keseharian merupakan
keharusan yang tak boleh diabaikan. Rasulullah berpesan, "Periksalah
dirimu sebelum diperiksa (Allah di hari qiamat)."
Rasulullah memberikan ukuran yang sangat sederhana, 'anda tetap tercatat
sebagai mukmin jika kebaikan menjadikan anda gampang dan keburukan menjadikan
anda susah.'
Ciri mukmin adalah mencintai kebaikan dan membenci keburukan, apapun
jenisnya, berat atau ringan. Seorang muslim tentu berusaha sekuat tenaga untuk
menghindari yang haram, juga yang makruh, termasuk yang syubghat. Bila belum
nyata kehalalannya, ia tak gegabah melakukannya, sebab ada perasaan dosa yang
selalu menghantuinya. Bila tidak demikian, bisa dipertanyakan keimanannya.
Mungkin sedang turun atau malah sedang menghilang.
Ada dialog menarik antara
santri dan kiainya. Seorang santri bertanya, kenapa kiai merokok. Sang kiai
dengan tenang menjawab, rokok itu tidak haram, hanya makruh saja. Kembali si
santri bertanya, 'bukankah makruh itu artinya dibenci?' Untuk pertanyaan yang
satu ini sang kiai tidak memberikan jawaban.
Santri yang kritis ini sungguh benar. Semestinya semua pekerjaan yang
mengundang kebencian Tuhan harus dihindari, sekecil apapun perbuatan itu.
Merokok adalah contoh sederhananya. Jika jelas-jelas makruh, kenapa tetap
digemari? Rasulullah bersabda: "Jangan memandang kecil kesalahan (dosa)
tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai." (HR. Ath-Thusi).
Seorang muslim yang jujur dan beriman punya keistimewaan, yaitu memiliki
perasaan suka-cita bila diberi kekuatan melaksanakan kebaikan, tapi sebaliknya
merasa bersalah dan sempit dadanya bila melakukan pelanggaran. Ia memandang
pelanggaran sebagai suatu kedurhakaan dan pengkhianatan kepada Allah dan
Rasul-Nya. Karenanya bila telanjur melakukannya, ia segera bertaubat dan berjanji
tidak akan mengulanginya. Allah berfirman: "Dan orang-orang yang apabila
mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada
Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat
mengampuni dosa selain Allah? Dan, mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imraan:135).
Ada perbedaan mendasar antara orang beriman dan orang yang ahli berbuat
dosa. Orang beriman memandang dosa sebagai sesuatu yang besar, sedang fajir
(tukang dosa) memandang kecil saja. Rasulullah bersabda, "Seorang mukmin
melihat dosa-dosanya seperti gunung yang ditakutkan akan menimpanya, dan
seorang yang berbuat dosa (fajir) melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat
yang menghinggap di hidungnya, lalu ia berkata, 'Demikianlah,' sambil
mengibaskan tangan (untuk mengusirnya) lalu lalat itupun terbang." (HR.
Bukhari).
MENINGGALKAN ZINA KARENA TAKUT KEPADA ALLAH,
MAKA ALLAH PUN MEMBERINYA MU'JIZAT
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda : "Tidaklah berbicara ketika masih dalam
buaian (bayi) kecuali tiga orang, Isa bin Maryam. Beliau bersabda, 'Dulu,
dikalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang ahli ibadah. Ia
dipanggil dengan nama Juraij.
Ia membangun tempat ibadahnya dan melakukan ibadah di dalamnya'. Beliau
bersabda, "orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut tentang (ketekunan)
ibadah Juraij, sehingga berkatalah seorang pelacur dari mereka, 'Jika kalian
mnghendaki aku akan memberinya ujian'. Mereka berkata, 'Kami menghendakinya'.
Perempuan itu lalu mendatanginya dan menawarkan diri kepadanya. Tetapi
Juraij tidak mempedulikannya. Lalu ia berzina dengan seorang gembala yang
meneduhkan kambing gembalaannya ke dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya iapun
hamil dan melahirkan seorang bayi. Orang-orang bertanya, 'Hasil perbuatan
siapa ?' Ia menjawab, 'Juraij'.
Maka mereka mendatanginya dan memaksanya turun. Mereka mencaci, memukulinya
dan merobohkan tempat ibadahnya'. Juraij bertanya, apa yang terjadi dengan
kalian ?' Mereka menjawab, 'Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga
ia melahirkan seorang bayi'. Ia bertanya 'Dimana dia ?' Mereka menjawab, 'Itu
dia!' Beliau bersabda, 'Juraij lalu berdiri dan shalat kemudian berdo'a.
Setelah itu ia menghampiri sang bayi lalu mencoleknya seraya berkata, 'Demi
Allah, wahai bayi, siapa ayahmu ?' Sang bayi menjawab, 'Aku adalah anak tukang
gembala'. Serta merta orang-orangpun menghambur kepada Juraij dan menciuminya.
Mereka berkata kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas'. Ia menjawab aku
tidak membutuhkan yang demikian, tetapi bangunlah ia dari tanah sebagaimana
yang semula'.
Beliau bersabda, 'Ketika seorang ibu memangku anaknya menyusui tiba-tiba
lewat seorang penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat, maka ia pun
berkata, 'Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia'. Beliau bersabda, 'Maka bayi
itu meninggalakan tetek ibunya dan menghadap kepada penunggang kuda seraya
berdo'a, 'Ya Allah jangan kau jadikan aku seperti dia'. Lalu ia kembali lagi ke
tetek ibunya dan menghisapnya'. Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata,
'Seakan-akan aku melihat Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menirukan
gerakan si bayi dan meletakkan jarinya di mulut lalu menghisapnya.
Lalu ibunya melalui seorang wanita hamba sahaya yang sedang dipukuli. Sang
ibu berkata, 'Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia'. Beliau bersabda,
'Bayi itu lalu meninggalkan tetek ibunya dan menghadap kepada wanita hamba
sahaya itu seraya berdo'a, 'Ya Allah jadikanlah aku seperti dia'.
Beliau bersabda, 'Dan pembicaraan itu berulang. Sang ibu berkata (kepada
anaknya), 'Dibelakangku berlalu seorang penunggang kuda yang mengenakan tanda
pangkat lalu aku berkata, 'Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia'. Lantas
engkau berkata, 'Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia'. Lalu aku berlalu
dihadapan wanita hamba sahaya ini dan aku katakan, 'Ya Allah, jangan jadikan
anakku seperti dia'. Lalu engkau berkata, 'Ya Allah jadikanlah aku seperti
dia'. Bayi itu berkata, 'Wahai ibu, sesungguhnya penunggang kuda yang
mengenakan tanda pangkat itu adalah orang yang sombong di antara orang-orang
yang sombong. Sedang terhadap hamba sahaya wanita itu, orang-orang berkata,
'Dia berzina, padahal ia tidak berzina. Dia mencuri, padahal ia tidak mencuri'.
Sedang hamba sahaya tersebut berkata, 'cukuplah Allah sebagai pelindungku'.
(HR. Al-Bukhari, 6/511, Ahmad dan ini adalah lafazh beliau, Muslim dalam
Al-Adab.)
MENINGGALKAN YANG
HARAMMAKA KELUARLAH
AROMA MINYAK KESTURI DARI BADANNYA
Ada seorang pemuda yang kerjanya menjual kain. Setiap hari dia memikul
kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan
pemuda ini di kenal dengan nama "Faraqna" oleh orang-orang. Walau pun
pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sangat tampan dan bertubuh
tegap, setiap orang yang melihat pati menyenanginya.
Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besat, gang-gang
kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya :
"faraqna-faraqna", tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatanya. Si
wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersilakan masuk kedalam
rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa
cinta dalam hatinya. Lalu si wanita itu berkata : "Aku memanggilmu tidak
untuk membeli daganganmu tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu.
Dan dirumah ini sekarang kosong. " Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan
merayunya agar mau berbuat sesuatu dengan dirinya. Pemuda ini menolak, bahkan
dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menakut-nakuti
dengan azab yang pedih di sisiNya. Tetapi sayang, nasehat itu tidak membuahkan
hasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita makin berhasrat.
Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang
dilarang… Akhirnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, si
wanita malah mengancam, katanya: "Bila engkau tidak mau menuruti
perintahku, aku berteriak pada semua orang dan aku katakan kepada mereka, bahwa
engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan mereka
akan mempercayaiku karena engkau telah berada dalam rumahku, dan sama sekali
mereka tidak akan mencurigaiku." Setelah si pemuda itu melihat betapa si
wanita itu terlalu memaksa untuk mengikuti keinginannya berbuat dosa, akhirnya
dia berkata: "Baiklah, apakah engkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi
agar bisa membersihkan diri dulu ?" Betapa gembiranya si wanita mendengar
jawaban ini, dia mengira bahwa keinginannya sebentar lagi akan terpenuhi.
Dengan penuh semangat dia menjawab : "Bagaimana tidak wahai kekasih dan
buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus."
Kemudian masuklah si pemuda itu ke kamar mandi, sementara tubuhnya gemetar
karena takut dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu
adalah perangkap syaitan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri
bersama seorang wanita kecuali syaitan dari pihak ketiga. "Ya Allah, apa
yang harus aku perbuat. Berilah aku petunjukMu, Wahai Dzat yang memberi petunjuk
bagi orang-orang yang bingung ."
Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya." Aku tahu benar, bahwa
termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya
pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah seorang
laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempunyai kedudukan
tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata: "Aku takut kepada
Allah."
Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepadaNya,
pasti akan mendapat ganti yang lebih baik… dan seringkali satu keinginan
syahwat itu akan penyesalan seumur hidup… Apa yang akan aku dapatkan dari
perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman
dari hatiku… Tidak… tidak… Aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram…
Tetapi apa yang akan harus aku kerjakan. Apakah aku harus melemparkan diri dari
jendela ini ? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalau
begitu aku harus mengolesi tubuhku dengan kotoran yang ada di WC ini, dengan
harapan, bila nanti dia melihatku dalam kedaan begini, dia akan jijik dan akan
membiarkanku pergi." Ternyata memang benar, ide yang terakhir ini yang dia
jalankan. Dia mulai mengolesi tubunya dengan yang ada di situ. Memang
menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: "Ya Rabbi, hai Tuhanku,
perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh
karena itu, karuniakan untukku 'kebaikan' sebagai gantinya."
Kemudian dia keluardari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam keadaan
demikian, si wanita itu berteriak : "keluar kau hai orang gila!" Dia
pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka
tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil
barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang tertawa
melihatnya. Akhirnya dia tiba dirumahnya , di situ dia bernapas lega. lalu
menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya
dengan sebersih-bersihnya.
Kemudian apa yang terjadi ? Adakah Allah akan membiarkan hamba dan waliNya
begitu saja ? Tidak… Ternyata, ketiga dia keluar dari kamar mandi, Allah
Subhanahu wa Ta'alah memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap
melekat di tubuhnya sampai dia meninggal dunia, bahkan sampai setelah dia
meninggal. Allah telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang
tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak
beberapa meter. Sampai akhirnya dia memdapat julukan "Al-miski" (yang
harum seperti kasturi). Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan
untuknya sebagai ganti dari kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan
aroma wangi yang dapat tercium sepanjang masa. Ketika pemuda itu meninggal dan
dikuburkan, mereka tulis diatas kuburanya "Ini kuburan Al-Misky", dan
banyak orang yang menziarahinya.
Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan membiarkan hambaNya yang
shalih begitu saja, tapi Allah Subhanahu wa Ta'ala akan selalu membelanya,
Allah SWT senantiasa membela orang-orang yang beriman, Allah SWT berfirman
dalam hadits QudsiNya yang artinya: "Bila dia (hamba) memohon kepadaKu,
pasti akan Aku beri. Mana orang-orang yang ingin memohon ?!"
Pembaca yang budiman!
"Setiap sesuatu yang engkau tinggalkan, pasti ada gantinya. Begitu
pula larangan yang datang dari Allah, bila engkau tinggalkan, akan ada ganjaran
sebagai penggantinya."
Allah SWT akan memberikan ganti yang besar untuk sebuah pengorbanan yang
kecil. Allahu Akbar.
Manakah orang-orang yang mau meninggalkan maksiat dan taat kepada Allah
sehingga mereka berhak mendapatkan ganti yang besar untuk pengorbanan kecil
yang mereka berikan ? ?
Tidakkah mereka mau menyambut seruan Allah, seruan Rasulullah S.A.W dan
seruan fitrah yang suci ?!
MELEMPARKAN DIRI AGAR TAK JATUH DALAM DOSA,
MAKA ALLAH GANTI DENGAN KEBAIKAN
Pada masa Bani Israil ada seorang pemuda yang ketampanannya tidak
tertandingkan. Dia bekerja sebagai penjual keranjang dari pelepah kurma. Pada
suatu hari, saat dia berkeliling dengan membawa keranjang dagangannya, ada
seorang wanita yang keluar dari rumah seorang raja Bani Israil.
Demi melihatnya, si wanita dengan cepat masuk kembali ke dalam rumah untuk
membertahukan pada putri raja: "Di pintu tadi saya melihat seorang pemuda
yang menjual keranjang, tak pernah saya melihat pemuda setampan dia." Sang
putri berkata: "Suruh dia masuk." Si wanita tadi keluar dan mengajak
masuk pemuda itu. Setelah dia masuk, pintu dikunci rapat. Lalu datanglah sang
putri menemuinya dengan wajah dan bagian lehernya terbuka. Maka si pemuda
berkata: "Hai, tutuplah (auratmu), semoga Allah memaafkanmu!" Dengan
terus terang si wanita menjawab: "Kami tidak memanggilmu untuk membeli
daganganmu, akan tetapi untuk melakukan sesuatu." Si wanita pun mulai
menggoda dan merayunya. Sementara pemuda itu berkata: "Takutlah kamu
kepada Allah," sang putri malah mengancam: "Bila kau tidak mengikuti
keinginanku, aku akan beritahukan kepada raja bahwa kau masuk untuk memaksa
diriku berbuat macam-macam." Kemudian pemuda itu mengajukan permintaan:
"Tolong sediakan untukku air untuk berwudhu." Jawab sang putri:
"Oh rupanya kau masih mencari alasan ?! Hai pembantu, tolong sediakan
untuknya air wudhu di atas mahligai itu," sebuah tempat yang tidak mungkin
pemuda itu bisa kabur dari situ.
Setelah pemuda itu tiba di mahligai, dia berdo'a: "Ya Allah, sungguh
aku sekarang telah dijak untuk bermaksiat kepadaMu, tetapi aku memilih untuk
melemparkan diri dari atas mahligai ini keluar kamar dan tidak jatuh dalam
perbuatan dosa." Kemudian dia membaca basmalah lalu melemparkan dirinya. Saat
itu pula Allah menurunkan malaikatNya yang memegang kedua ketiak pemuda itu
sehingga dia jatuh dalam keadaan berdiri di atas kedua kakinya. Ketika sampai
di tanah dia berkata: "Ya Allah, bila Engkau berkehendak, karuniakanlah
kepadaku rizki hingga aku tak perlu lagi berdagang keranjang-keranjang."
Allah mengabulkan do'anya. Allah mengirimkan untuknya sekawanan belalang
yang terbuat dari emas, maka diambilnya sampai bajunya terisi penuh. Setelah
itu dia berkata:"Ya Allah, bila ini merupakan rizki yang Engkau karuniakan
kepadaku dari dunia ini, maka karuniakanlah untukku keberkahan di dalamnya.
Tapi, bila rizki ini akan mengurangi jatahku yang tersimpan di sisiMu di
akhirat nanti, maka aku tidak membutuhkannya." Tiba-tiba terdengar suara
yang mengatakan bahwa ini hanyalah satu dari dua puluh lima bagian pahala atas
kesabaranmu menanggung derita saat melemparkan dirimu dari tempat yang tinggi
itu.
Lalu dia berkata: "Kalau begitu ya Allah, aku tidak membutuhkan
sesuatu yang nanti akan mengurangi jatahku yang ada padaMu di akhirat."
Maka diambillah kembali emas-emas itu oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
PERNIAGAAN YANG MENGUNTUNGKAN
Kita tahu bahwa para sahabat Rasulullah S.A.W adalah orang-orang yang telah
membela dan banyak berkorban demi agama Islam yang agung ini. Mereka adalah
sebaik-baik penolong untuk agama ini. Mereka juga sebaik-baik pejuang di
jalannya. Hal ini terjadi pada mereka, karena mereka menjadikan ajaran Islam
sebagai sebuah realita dalam perilaku mereka dan sebagai sesuatu yang begitu
terasa di dalam hati mereka. Hingga hal itu menjadi tabiat mereka dengan
seikhlas-ikhlasnya dan berani membela agama ini walaupun harus membayar dengan
harga yang mahal.
Islam mengajak mereka untuk hijrah. Dengan cepat mereka menyambut seruan
itu; meninggalkan Mekkah walau hati mereka penih kerinduan kepadanya dan jiwa
mereka dihiasi dengan kecintaan padanya. Mereka lebih mengutamakan aqidah
dibanding tempat-tempat main mereka saat masih kanak-kanak, tempat yang penuh
dengan kenangan indah.
Islam mengajak mereka untuk berjihad. Ternyata mereka adalah
prajurit-prajurit tangguh yang tidak dihinggapi rasa takut. Mereka berhijrah
karena Allah dan karena Rasul-Nya, dan mereka berhasil memberikan tauladan yang
baik yang monumental dan indah dalam pengorbanan dan keimanan mereka yang
sejati. Simaklah kisah berikut ini.
Ketika Shuhaib pergi menyusul Nabi S.A.W untuk berhijrah, ada beberapa
orang quraisy yang membuntutinya. Mereka berkata kepada Shuhaib, "Dulu kau
datang kepada kami dalam keadaan tidak punya apa-apa, kemudian kau hidup
bersama kami dan mendapatkan harta yang banyak dan kau menjadi orang seperti
sekarang ini. Tahu-tahu kau ingin keluar dengan membawa semua hartamu ? Demi
Allah, hal itu tidak akan pernah terjadi." Lalu Shuhaib turun dari
tunggangannya, dikeluarkannya anak panah dari tempatnya, seraya berkata,
"Wahai kaum Quraisy, kalian sudah tahu bahwa aku termasuk orang paling
pandai memanah diantara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan menyentuhku
kecuali akan aku bidik dengan semua anak panahku, kemudian aku akan menebas
dengan pedangku ini selama dia berada ditanganku. Ayo lakukan apa yang kalian
inginkan!" Akan tetapi Shuhaib setelah itu berkata, " Bagaimana bila
aku tinggalkan semua hartaku untuk kalian, apakah kalian akan membiarkan aku pergi
?" Mereka menjawab, "Ya." Maka Shuhaib meninggalkan semua
hartanya untuk mereka.
Dan ketika sampai ke hadapan Rasulullah S.A.W , di Madinah beliau bersabda,
"Telah beruntung perniagaanmu hai Abu Yahya. Telah beruntung perniagaanmu
hai Abu Yahya." Dan turunlah firman Allah SWT, "Dan diantara manusia
itu ada seorang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah."
(QS. Al-Baqarah:207).
MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN
Al-Waqidiy bercerita, "Suatu saat, saya berada dalam himpitan ekonomi
yang begitu keras. Hingga tiba bulan Ramadhan, saya tidak mempunyai uang
sedikitpun. Saya bingung, lalu aku menulis surat kepada teman saya yang seorang
alawy (keturunan Ali bin Abi Thalib). Saya memintanya meminjami saya uang
sebesar seribu dirham. Dia pun mengirimkan kepada saya uang sebesar itu dalam
sebuah kantong yang tertutup. Kantong itu saya taruh dirumah. Malam harinya
saya menerima sepucuk surat dari temen saya yang lain. Dia meminta saya
meminjaminya uang sebesar seribu dirham untuk kebutuhan bulan puasa. Tanpa
pikir panjang, saya kirimkan kantong uang yang tutpnya masih utuh.
Besok harinya saya kedatangan teman yang meminjamiku uang, juga teman alawy
yang saya berhutang padanya. Yang alawy ini menanyakan kepada saya perihal uang
seribu dirham itu. Saya jawab, bahwa saya telah mengeluarkan untuk suatu
kepentingan. Tiba-tiba dia mengeluarkan kantong itu sambil tertawa dan berkata,
' Demi Allah, bulan Ramadhan sudah dekat, saya tidak punya apa-apa lagi kecuali
1000 dirham ini. Setelah kau menulis surat pada saya, saya kirim uang ini
kepadamu. Sementara saya juga menulis surat pada teman kita yang satu ini untuk
pinjam seribu dirham. Lalu dia mengirimkan kantong ini kepada saya. Maka saya
bertanya, bagaimana ceritanya hingga bisa begini ? Diapun bercerita pada saya.
Dan sekarang ini, kami datang untuk membagi uang ini, buat kita bertiga. Semoga
Allah akan memberikan kelapangan pada kita semua.
Al-Waqidy berkata, "Saya berkata pada kedua teman itu, 'Saya tidak
tahu siapa diantara kita yang lebih dermawan.' Kemudian kami membagi uang itu
bertiga. Bulan Ramadhan pun tiba dan saya telah membelanjakan sebagian besar
hasil pmbagian itu. Akhirnya perasaan gundah datang lagi, saya berfikir, aduhai
bagaimana ini ?
Tiba-tiba datanglah utusan Yahya bin Khalid Al-Barmaky di pagi hari,
meminta saya untuk menemuinya. Ketika saya menghadap pada Yahya Al-Barmaki, dia
berkata, 'Ya Waqidy! Tadi malam aku bermimpi melihatmu. Kondisimu saat itu
sangat memprihatinkan. Coba jelaskan ada apa denganmu ?'
Maka saya menjelaskannya sampai pada kisah tentang teman saya yang alawy,
teman saya yang satunya lagi dan uang 1000 dirham. Lalu dia berkomentar, 'Aku
tidak tahu siapa diantara kalian yang lebih dermawan.' Selanjutnya, dia
memerintahkan agar saya diberi uang tiga puluh ribu dirham dan dua puluh ribu
dirham untuk dua teman saya. Dan dia meminta saya untuk menjadi Qadhi."
DELAPAN DIRHAM
Rasulullah pagi itu sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat. baju
satu-satunya dan itupun ternyata sudah usang. baju yang setia menutup aurat beliau.
meringankan tubuh beliau dari terik matahari dan dinginnya udara. Baju yang
tidak pernah beristirahat.
Tetapi beliau tak mempunyai uang sepeser pun. Dengan apa beliau harus
membeli baju? Padahal baju yang ada sudah waktunya diganti. Rasulullah sebenarnya
dapat saja menjadi kaya mendadak, bahkan terkaya di dunia ini. Tapi sayang,
beliau tak mau mempergunakan kemudahan itu. Jika beliau mau, Allah dalam
sekejap bisa mengubah gunung dan pasir menjadi butir-butir emas yang berharga.
Beliau tak sudi berbuat demikian karena kasihnya kepada para fakir yang papa.
Siapakah yang akan menjadi teladan jika bukan beliau.. ? Contoh untuk menahan
derita, menahan lapar dan dahaga, menahan segala coba dan uji Allah dengan
kesabaran. Selalu mensyukuri nikmat Allah berapa pun besarnya. Siapa lagi kalau
bukan beliau yang menyertai umatnya dalam menjalani iradat yang telah
ditentukan Allah. Yaitu kehidupan dalam jurang kedukaan dan kemiskinan. Siapa
pula yang harus menghibur mereka agar selalu bersabar dan rela dengan yang ada
selain beliau ? Juga siapa pula yang harus menanamkan keyakinan akan pahala
Allah kelak di akhirat jika bukan beliau ?
Yah,… hanya beliaulah yang mampu menjalankan berbagai hal diatas. benar,…
baliaulah satu-satunya manusia yang mendapatkan amanat dari Allah untuk semua
umat manusia. Tugas yang lebih murni dan mulia daripada intan berlian serta
butiran emas yang lain. Lebih halus dari sutera serta lebih indah dari segala
keindahan yang dikenal manusia di dunia ini. lebih megah dari segala kedudukan dan
derajad kehidupan manusia yang katanya sudah megah.
"Semua itu hanyalah merupakan kesenangan dunia sedang di sisi Allah
yang paling baik dan sebaik-baik tempat kembali"
Perjuangan itu tidak mudah. bahkan sangat berat bagi beliau. Menegakkan
yang hak hanya dapat dicapai dengan penuh keimanan dan kekuatan. sabar dalam
menghadapi setiap malapetaka yang menimpa, bersyukur yang dilakukan dengan hati
bersih. dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam duka maupun suka, bersyukur dan
keimanan harus selalu menyertai. Itulah pokok risalah yang dibawa Rasulullah
S.A.W .
Allah Maha Bijaksana, tidak akan membiarkan hamba-Nya terkasih kebingungan.
Rasulullah diberinya rezeki sebanyak delapan dirham. Bergegas beliau melangkah
ke pasar. Tentunya kita maklum. uang sekian itu dapat dibelikan apa. Apakah
cukup untuk membeli makan, minum, serta pakaian penutup badan ? Oleh sebab itu,
bergembiralah hai para fakir dan miskin! Nabi kita, Muhammad S.A.W telah
memberikan contoh begitu jelas. Nabi yang kita cintai, hamba kesayangan Allah
pergi ke pasar dengan uang sedikit seperti yang kita miliki. Tetapi nabi kita
ini, hamba Allah yang di bumi bernama Ahmad, sedang dari langit bernama
Muhammad dengan ridha pergi ke pasar berbekal uang delapan dirham untuk
berbelanja. Manusia penuh nur dan inayah Allah yang dilahirkan di makkah.
meskipun beliau miskin, beliau senang sekali hidup. beliau belum ingin mati
meski kemiskinan menjerat setiap hari.
Di tengah perjalanan menuju
pasar, beliau menemukan seorang wanita yang menangis. Ternyata wanita yang
kehilangan uang. Segera beliau memberikan uangnya sebanyak dua dirham. Beliau
berhenti sejenak untuk menenangkan wanita itu.
Rasulullah bergegas menuju ke pasar yang semakin ramai. Sepanjang lorong
pasar banyak sekali masyarakat yang menegur beliau dengan hormat. Selalu
menjawab dan memberikan salam yang mengingatkan akan kebesaran Allah semata.
Beliau langsung menuju tempat di mana ada barang yang diperlukannya. Dibelinya
sepasang baju dengan harga empat dirham. beliau segera pulang.
Di perjalanan beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Orang
tersebut dengan iba memohon sepotong baju untuk dipakainya. Rasulullah yang
memang pengasih itu tidak tahan melihat. Langsung diberikannya baju yang baru
dibeli. Beliau kembali ke pasar utnuk membeli baju lagi seharga dua dirham.
Tentu saja lebih kasar dan jelek kualitasnya daripada yang empat dirham. dengan
gembira beliau pulang membawa bajunya.
Langkahnya dipercepat karena sengatan matahari yang semakin terik. Juga
angin malam yang telah mulai berhembus pelan-pelan. Beliau tidak ingin
kemalaman di jalan. Tak lama beliau melangkah ke luar pasar, ditemuinya lagi
wanita yang menangis tadi. Wanita itu kelihatan bingung dan sangat gelisah.
Rasulullah S.A.W mendekat dan bertanya mengapa. Wanita itu ternyata ketakutan
untuk pulang. Dia telah terlambat dari batas waktu, dan takut dimarahi
majikannya jika pulang nanti. Rasulullah S.A.W langsung menyatakan akan
mengantarkannya.
Wanita itu berjalan yang diikuti Rasulullah S.A.W dari belakang. Hatinya tenang
karena Rasulullah S.A.W pasti akan melindungi dirinya. Dia yakin majikannya
akan memaafkan, karena kepulangan yang diantarkan oleh manusia paling mulia di
dunia ini. Bahkan mungkin akan berterima kasih karena pulang membawa kebaikan
bersama dengan kedatangan nabi dan rasul mereka. Mereka terus berjalan hingga
sampai ke perkampungan kaum Anshari. Kebetulan saat itu yang ada hanyalah para
isteri mereka.
"Assalamu'alaikum warahmatullah", sapa Rasulullah S.A.W keras.
Mereka semuanya diam tak menjawab. Padahal mereka mendengar. Hati mereka
diliputi kebahagiaan karena kedatangan Nabi. Mereka menganggap salam Rasulullah
S.A.W sebagai berkah dan seperti lebaran saja. Mereka masih ingin mendengarnya
lagi. Ketika tak terdengar jawaban, Rasulullah S.A.W memberi salam lagi. Tetap
tak terdengar jawaban. Rasulullah S.A.W mengulang untuk yang ketiga kali dengan
suara lantang, Assalamu'alaikum warahmatullah. Serentak mereka menjawab.
Rasulullah sangat heran dengan semua itu. Beliau menanyakan pada mereka apa
sebabnya. Mereka mengatakan, " Tidak ya Rasulullah. Kami sudah mendengar
sejak tadi. Kami memang sengaja, kami ingin mendapatkan salam lebih
banyak".
Rasulullah melanjutkan, "Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak
berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan
menerimanya". Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Nabi
begitu murni, budi pekerti yang utama, yang indah tampak dihadapan mereka.
Beliau menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan
seorang budak yang takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya karena terlambat
pulang. Bahkan memohonkan maaf baginya pula. Sehingga karena harunya, mereka
berkata, "Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya. Kedatangannya kemari
bersama anda karena untuk mengharap ridha Allah semata". Budak itu tak
terhingga rasa terima kasihnya. Bersyukur atas karunia Allah swt dan
kebebasannya karena dari Rasulullah S.A.W .
Rasulullah S.A.W pulang dengan hati gembira. Telah bebas satu perbudakan
dengan mengharap ridha Allah swt sepenuhnya. Beliau juga tak lupa mendoakan
para wanita itu agar mendapatkan berkah dari Allah swt. Semoga semua harta dan
turunan serta semoga selalu tetap dalam keadaan iman dan islam. Beliau sibuk
memikirkan peristiwa sehari tadi. Hari yang penuh berkah dan karunia Allah swt
semata.
Akhirnya beliau berujar dengan, "Belum pernah kutemui berkah angka
delapan sebagaimana hari ini. Delapan dirham yang mampu mengamankan seseorang
dari ketakutan, dua orang yang membutuhkan serta memerdekakan seorang
budak". Bagi seseorang muslim yang memberikan pakaian pada saudara sesama
muslim, Allah akan memelihara selama pakaian itu masih melekat.
DIMANA TSA'LABAH SEKARANG ?
Seorang sahabat Nabi yang amat miskin datang pada Nabi sambil mengadukan
tekanan ekonomi yg dialaminya. Tsa'labah, nama sahabat tersebut, memohon Nabi
untuk berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya. Semula Nabi
menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsa'labah agar meniru kehidupan
Nabi saja. Namun Tsa'labah terus mendesak. Kali ini dia mengemukakan argumen
yang sampai kini masih sering kita dengar, "Ya Rasul, bukankah kalau Allah
memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada setiap orang
haknya.
Nabi kemudian mendo'akan Tsa'labah. Tsa'labah mulai membeli ternak.
Ternaknya berkembang pesat sehingga ia harus membangun pertenakakan agak jauh
dari Madinah. Seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia
tidak dapat lagi menghadiri shalat jama'ah bersama Rasul di siang hari.
Hari-hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak; sehingga semakin sibuk
pula Tsa'labah mengurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjama'ah bersama Rasul.
Bahkan menghadiri shalat jum'at dan shalat jenazah pun tak bisa dilakukan lagi.
Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang sahabat untuk
menarik zakat dari Tsa'labah. Sayang, Tsa'labah menolak mentah-mentah utusan
Nabi itu. Ketika utusan Nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa'labah ini, Nabi
menyambut utusan itu dengan ucapan beliau, "Celakalah Tsa'labah!"
Nabi murka, dan Allah pun murka!
Saat itu turunlah Qs at-Taubah: 75-78
* "Dan
diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika
Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan
bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh."
* Maka setelah
Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan
karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu
membelakangi (kebenaran).
* Maka Allah
menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai Allah, karena mereka telah
memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga)
karena mereka selalu berdusta.
* Tidaklah
mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan
bahwasanya Allah amat mengetahui yang ghaib ?"
Tsa'labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia mulai ketakutan.
Segera ia temui Nabi sambil menyerahkan zakatnya. Akan tetapi Nabi menolaknya,
"Allah melarang aku menerimanya." Tsa'labah menangis tersedu-sedu.
Setelah Nabi wafat, Tsa'labah menyerahkan zakatnya kepada Abu Bakar,
kemudian Umar. tetapi kedua Khalifah itu menolaknya. Tsa'labah meninggal pada
masa Utsman.
Dimanakah Ts'alabah sekarang ? Jangan-jangan kitalah Tsa'labah-Tsa'labah
baru yang dengan linangan air mata memohon agar rezeki Allah turun kepada kita,
dan ketika rezeki itu turun, dengan sombongnya kita lupakan ayat-ayat Allah.
Bukankah kita dengan alasan sibuk berbisnis tak lagi sempat sholat lima
waktu. Bukankah dengan alasan ada "meeting penting" kita lupakan
perintah untuk sholat Jum'at. Bukankah ketika ada yang meminta sedekah dan
zakat kita ceramahi mereka dengan cerita bahwa harta yang kita miliki ini hasil
kerja keras, siang-malam membanting tulang; bukan turun begitu saja dari
langit, lalu mengapa kok orang-orang mau enaknya saja minta sedekah tanpa harus
kerja keras.
Kitalah Tsa'labah… .Tsa'labah ternyata masih hidup dan
"mazhab"-nya masih kita ikuti…
Konon, ada riwayat yang memuat saran Nabi Muhammad S.A.W (dan belakangan
digubah menjadi puisi oleh Taufik ismail), "Bersedekahlah, dan jangan
tunggu satu hari nanti di saat engkau ingin bersedekah tetapi orang miskin
menolaknya dan mengatakan, "kami tak butuh uangmu, yang kami butuhkan
adalah darahmu!"
Dahulu Tsa'labah menangis di depan Nabi yang tak mau menerima zakatnya.
Sekarang ditengah kesenjangan sosial di negeri kita, jangan-jangan kita bukan
hanya akan menangis namun berlumuran darah ketika orang miskin menolak sedekah
dan zakat kita!
Na'udzubillah…
KETIKA TIRAI TERTUTUP
Ketika mendengar sebuah berita "miring" tentang saudara kita, apa
reaksi kita pertama kali ? Kebanyakan dari kita dengan sadarnya akan menelan
berita itu, bahkan ada juga yang dengan semangat meneruskannya kemana-mana.
Kita ceritakan aib saudara kita, sambil berbisik, "sst! ini rahasia
lho!". Yang dibisiki akan meneruskan berita tersebut ke yg lainnya, juga
sambil berpesan, "ini rahasia lho!"
Kahlil Gibran dengan baik melukiskan hal ini dalam kalimatnya, "jika
kau sampaikan rahasiamu pada angin, jangan salahkan angin bila ia kabarkan pada
pepohonan."
Inilah yang sering terjadi. Saya memiliki seorang rekan muslimah yang
terpuji akhlaknya. Ketika dia menikah saya menghadiri acaranya. Beberapa minggu
kemudian, seorang sahabat mengatakan, "saya dengar dari si A tentang
"malam pertamanya" si B." Saya kaget dan saya tanya,
"darimana si A tahu ?" Dengan enteng rekan saya menjawab, "ya
dari si B sendiri! Bukankah mereka kawan akrab… "
Masya Allah! rupanya bukan saja "rahasia" orang lain yang kita
umbar kemana-mana, bahkan "rahasia kamar" pun kita ceritakan pada
sahabat kita, yang sayangnya juga punya sahabat, dan sahabat itu juga punya
sahabat.
Saya ngeri mendengar hadis Nabi: "Barang siapa yang membongkar-bongkar
aib saudaranya, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aibnya
oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya."
Fakhr al-Razi dalam tafsirnya menceritakan sebuah riwayat bahwa para
malaikat melihat di lauh al-mahfudz akan kitab catatan manusia. Mereka membaca
amal saleh manusia. Ketika sampai pada bagian yang berkenaan dengan kejelekan
manusia, tiba-tiba sebuah tirai jatuh menutupnya. Malaikat berkata, "Maha
Suci Dia yang menampakkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk."
Jangan bongkar aib saudara kita, supaya Allah tidak membongkar aib kita.
"Ya Allah tutupilah aib dan segala kekurangan kami di mata penduduk
bumi dan langit dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, Wahai Tuhan Yang Maha
Pemurah"
KASIH SAYANG ILAHI
Ibrahim bin Adham , seorang alim yang hidup di abad ke-8, seperti
diceritakan dalam salah satu tulisan Goenawan Moehamad, suatu saat bertawaf
mengelilingi Ka'bah. Malam gelap, hujan deras, guntur gemuruh. Ketika Ibrahim
berada di depan pintu Ka'bah, ia berdo'a, "Ya Tuhanku, lindungilah diriku
dari perbuatan dosa terhadap-Mu."
Konon, ada suara yang menjawab, "Ya Ibrahim, kau minta pada-Ku untuk
melindungimu dari dosa, dan semua hamba-Ku juga berdo'a serupa itu. Jika
Kukabulkan doa kalian, kepada siapa gerangan nanti akan Kutunjukkan rasa belas-Ku
dan kepada siapa akan Kuberikan ampunan-Ku ?"
Kisah pendek ini entah benar-benar terjadi atau tidak, namun kisah ini
memberikan arti panjang bagi kita dalam memandang makna sebuah dosa dan
hubungannya dengan kasih sayang Ilahi. Dosa diciptakan oleh Allah sebagaimana
Dzat Yang Maha Agung ini menciptakan pahala. Tentu saja sebagaimana ciptaan-Nya
yang lain, dosa pun memiliki peran dan hikmah tersendiri.
Dengan adanya dosa, kita jadi tahu ada yang namanya pahala. Dalam lorong
yang hitam kita bisa melihat cahaya. Dalam gelap kita jadi tahu apa arti sebuah
mentari. Walhasil, dosa memang harus kita jauhi namun juga harus kita pikirkan
keberadaannya.
Semoga dengan melihat bahwa dosa pun dapat menjadi alat Allah untuk
menunjukkan kasih sayang-Nya, kita mampu lebih memahami hadis Nabi,
"Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik agar perbuatan baik itu
menghapusnya."
Kita percaya bahwa ampunan Allah lebih luas dari murka-Nya. Jika Allah yang
Gagah Perkasa saja masih bersedia memaafkan hamba-Nya dan menunjukkan kasih
sayang-Nya kepada kita semua, mengapa kita tak mau memaafkan kesalahan orang
lain kepada kita ?
Mengapa tak kita serap sifat Rahman dan Rahim-Nya sebagaimana selalu kita
baca dalam Bismillah ar-Rahman ar-Rahim ?
Ketika saya menghadap Kepala Sekolah sewaktu di Madrasah Aliyah seraya
meminta maaf atas prilaku jelek saya. Kepala Sekolah yang sekarang sudah
almarhum itu menjawab, "Umar bin Khattab pernah mengubur anaknya
hidup-hidup, dia bertobat dan Allah memaafkannya. Apakah kesalahan kamu sudah
lebih besar dari prilaku Umar itu sampai saya tak berkenan memaafkan kamu
?" Saya merinding mendengar jawaban itu. Saya pun masih merinding saat
mengingat betapa pemurahnya guru saya itu. Guru saya tersebut sudah mampu
menjadikan kesalahan saya sebagai alat untuk menunjukkan kasih sayangnya.
KEAJAIBAN HAMBA ALLAH
Seorang rekan yang mengaku mengalami berbagai keajaiban bercerita banyak
pada saya. Bagaimana keluarganya menganggap bahwa do'a yg dia panjatkan pasti
diterima Allah. Bagaimana isterinya, penganut salah satu tarekat, jika berdo'a
sudah bisa merasakan apakah do'a ini terkabul atau tidak.
Rekan lain juga bercerita bagaimana dia mengalami keajaiban. Ketika dia
berdo'a agar termasuk mereka yang berhati emas, tiba-tiba dia melihat langit
berwarna keemasan dan tetesen emas itu bagaikan jatuh ke bumi.
Entahlah, apakah pengalaman rekan-rekan saya tersebut benar-benar terjadi
atau tidak. Saya hanya khawatir dua hal:
1. Kita berubah menjadi riya' ketika kita menceritakan hal-hal itu. Saya
khawatir kita justru tidak mendapati keajaiban lagi ketika hati kita telah
tergelincir pada riya'.
2. Kita beribadah karena mengejar keajaiban; bukan semata-mata karena
Allah. Kita baca wirid sekian ribu kali, dengan harapan bisa menghasilkan
keajaiban, apakah tubuh yg kebal, terungkapnya hijab (kasyaf) dan lainnya. Kita
jalani sholat sunnah ratusan rakaat juga demi mengejar
"keanehan-keanehan". Kita jalani ritus-ritus itu hanya karena ingin
mencapai ma'rifat (yang sayangnya dikelirukan sebagai memiliki keajaiban).
Yang lebih celaka lagi, ketika kita mendapat keajaiban tiba-tiba kita
mengklaim bahwa Tuhan sangat dekat dengan kita sehingga status kita naik
menjadi wali. Sayang, setelah "merasa" menjadi wali, kita lupakan
aspek syari'ah. Konon, bagi mereka yang mencapai aspoek ma'rifat tidak perlu
lagi menjalankan aspek syari'at.
Entahlah, saya yang merasa belum naik-naik maqamnya dari status awam hanya
bisa merujuk kisah Nabi Zakariya dan Siti Maryam. Nabi Zakariya diberi anugerah
putera, padahal dia sudah tua dan isterinya mandul. Setelah mendapat keajaiban
ini, Allah memerintahkan pada-Nya, "Sebutlah nama Tuhan-mu
sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari" (Qs
3: 41) Maryam pun mendapat keajaiban berupa putera (padahal dia tidak pernah
"disentuh" lelaki). Namun setelah Allah memberitahu tingginya
kedudukan Maryam, Allah menyuruh Maryam, "Ta'atlah kepada Tuhan-mu, sujud
dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku' (Qs 3: 43)
Ternyata, hamba Allah seperti Nabi Zakariya dan Siti Maryam pun tetap tidak
meninggalkan aspek syari'at meskipun telah memiliki keajaiban.
Berkenaan dengan keajaiban, Abu Sa'id, sufi besar abad 10 dan 11 Hijriah,
pernah bertemu orang yang menceritakan sejumlah keajaiban "wali".
Orang itu berkata, "dia bisa terbang… "
Abu Sa'id menjawab, "ah… tak aneh… burung saja bisa terbang"
Yang aneh justru adalah mereka yang mengaku-aku wali dan sufi sambil
mendemonstrasikan "keajaibannya". Wali dan Sufi sejati tak butuh
pengakuan orang lain akan ke-waliannya. Wali dan sufi sejati tak akan pernah
meninggalkan aspek syari'at, meski telah mencapai maqam ma'rifat.
BAGAIMANA ANDA MEMPERLAKUKAN AL-QUR'AN?
Al-Qur'an memperkenalkan dirinya sebagai "Kitab yang tiada keraguan
didalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa" (Qs 2: 2). Artinya,
kitab suci Al-Qur'an merupakan petunjuk dan pegangan hidup kita. Persoalannya
sekarang, bagaimana sebenarnya kita memperlakukan Al-Qur'an dalam hidup kita?
Buat sebagian kecil dari kita Al-Qur'an dipandang seolah-olah sebagai
"jimat" yang kalau ayat tertentu dibaca maka akan menimbulkan hal
yang luar biasa, buat sebagian dari kita Al-Qur'an hanyalah merupakan objek
ilmiah yang pantas utk dikotak-katik ayatnya satu demi satu, buat sebagian lagi
dari kita mungkin saja Al-Qur'an merupakan sumber "legitimasi", dalam
arti kita gunakan akal pikiran kita utk memecahkan atau menjelaskan masalah
lalu kita cari justifikasinya dalam ayat Qur'an.
Apakah cukup al-Qur'an kita perlakukan demikian? Bukankah ia merupakan
kitab petunjuk? Sebagai kitab petunjuk berarti al-Qur'an merupakan sumber
inspirasi dan sumber bagi hidup kita. Pernahkah kita bila menghadapi masalah
kita pecahkan dengan membaca Qur'an? Sudikah kita disaat mendapat banyak rezeki
kita syukuri rezeki itu dengan membaca al-Qur'an? Maukah kita disamping membaca
koran dan email tiap hari juga mau membaca al-Qur'an setiap hari? Pernahkah
kita introspeksi perjalanan hidup kita dengan melihat kandungan ayat suci
al-Qur'an sebagai "hakim"nya? Pada umur berapa kita mulai tertarik
dengan al-Qur'an dan bersedia menelaah ayat demi ayatnya?
Saya percaya karena Al-Qur'an merupakan kitab petunjuk bagi kita, maka
siapapun kita dan apapun background pendidikan kita, maka kita memiliki hak
yang sama utk mengakses kitab suci Al-Qur'an. Sudahkah kita gunakan hak kita itu
dengan sebaik-baiknya?
Membaca Al-Qur'an merupakan syarat pertama untuk menjadikan kitab suci ini
sebagai petunjuk hidup kita. Bisakah kita menjadikan al-Qur'an sebagai
petunjuk, namun amat jarang kita membacanya?
Konon, Iqbal kecil dibisiki
oleh Ayahnya, "Bacalah Qur'an seakan-akan ia diturunkan untukmu".
"Sejak saat itu," kata Dr. Muhammad Iqbal—cendekiawan besar asal
India, "setiap aku membaca al-Qur'an seakan-akan Al-Qur'an berbicara
padaku!"
Maukah kita meningkatkan kedudukan kita, dari sekedar membaca al-Qur'an
sampai "berbicara" dengan Al-Qur'an?
Maha Benar Allah dengan Segala Firman-Nya
BAGAIMANA DENGAN SHOLAT ANDA ?
Sewaktu pulang dari suatu peperangan, Nabi S.A.W telah bermalam disuatu
tempat.Baginda bertanya:
"Siapa yang hendak menjaga kemahku malam ini?"
Ammar bin Yassir dari kaum Muhajirin dan Abbad bin Basyar dari kaum Ansar
telah menawarkan diri masing-masing untuk mengawasi kemah Nabi S.A.W
.Kedua-duanya telah ditugaskan berjaga-jaga di puncak sebuah bukit berdekatan
dgn.tempat Nabi beristirahat. Abbad berkata kepada Ammar : "Marilah
bertugas bergiliran setengah hari yang pertama, aku akan berjaga supaya engkau
dapat melelapkan matamu.Kemudian engkau berjaga supaya aku dapat melelapkan
mataku." Ammar setuju, dia pun merebahkan badannya lalu tidur dengan
nyenyaknya. Sambil menjalankan tugasnya Abbad telah mendirikan sholat.
Seorang pengintai musuh telah melihatnya lalu melepaskan anak panahnya yang
menembus badan Abbad. Melihat keadaan Abbad yang masih berdiri tegak itu, si
pengintai tadi melepaskan lagi dua anak panahnya. Abbad kemudian mencabut
ketiga anak panah tersebut lantas membangunkankan Ammar. Sementara itu, ketika
melihat Ammar bersama-sama Abbad, laskar musuh tadi melarikan diri karena
menyangka ada banyak lagi laskar-laskar Islam disitu. Melihat badan Abbad yang
berdarah Ammar berkata:
"Subhanallah! Mengapa kamu lambat membangunkan aku?"
Jawab Abbad: "Di dalam Qiraatku, aku telah membaca surah al-Kahfi dan
aku enggan memendekkannya.Tetapi ketika anak panah yang ketiga melekat
dibadanku, aku merasa bimbang dengan keselamatan Rasulullah. Aku pun segera
menamatkan sholatku lalu membangunkanmu. Kalau tidak, sudah tentu aku akan
menamatkan pembacaan surah al-Kahfi sebelum ruku' meskipun aku terpaksa mati
dipanah musuh itu."
Oleh karena asyik membaca al-Qur'an, Abbad tidak gentar dengan senjata
musuh. Nikmat membaca al-Qur'an menyebabkan dia lupa terhadap badannya yang
sakit dan berdarah itu.
Di zaman sekarang ini, gigitan nyamuk sudah bisa menganggu sholat kita.
Begitulah betapa lemahnya iman kita zaman sekarang ini.
DUSTA YANG MANA LAGI… ?
Pernahkah anda membaca surat Ar-Rahman? Surat ar-Rahman adalah surat ke 55
dalam urutan mushaf utsmany dan tergolong dalam surat Madaniyah serta
berisikan 78 ayat. Satu
hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu
ayat yang berbunyi "fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban" (Maka ni'mat
Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali
dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?
Surat ar-Rahman bagi saya adalah surat yang memuat retorika yang amat
tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni'mat yang dianugerahkan
kepada kita, Allah bertanya: "Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang
kamu dustakan?".
Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata "dusta";
bukan kata "ingkari", "tolak" dan kata sejenisnya.
Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni'mat yang Allah berikan kepada
manusia itu tidak bisa diingakri keberadaannya oleh manusia. Yang bisa
dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya.
Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa
mereka telah diberi ni'mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran
itu; mereka mendustakannya!
Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu
akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Ph.D itu
dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas, kalau kita mendapat proyek maka
kita katakan bahwa itulah akibat kita pandai melakukan lobby. Pendek kata,
semua ni'mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa
sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua
keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni'mat itu semuanya
datang dari Allah.
Maka ni'mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan! Anda telah bergelimang
kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang anda, telah berderet gelar di kartu
nama anda, telah berjejer mobil di garasi anda, ingatlah--baik anda dustakan
atau tidak--semua ni'mat yang anda peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah
nanti di hari kiamat!
"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni'mat yang kamu
peroleh saat ini" (QS 102: 8)
Sudah siapkah anda menjawab serta mempertanggung jawabankannya ???
Allah berfirman : FAIN TAUDDU NI'MATALLAHI LA TUKHSUUHA
Apabila kamu menghitung nikmat Allah ( yang diberikan kepadamu ) maka
engkau tidak akan mampu (karena terlalu banyak).
Tidak patutkah anda bersyukur kepadaNYA, Mari mengucap Al khamdulillah
sebagai bagian dari rasa syukur kita
ABU BAKAR DENGAN TUKANG RAMAL
Abu Bakar mempunyai seorang hamba yang menyerahkan sebagian dari pendapatan
hariannya. Pada suatu hari hambanya itu telah membawa makanan lalu dimakan
sedikit oleh Abu Bakar. Hamba itu berkata: “Kamu selalu bertanya tentang sumber
makanan yang aku bawa tetapi hari ini kamu tidak berbuat demikian.”
“Aku terlalu lapar sehingga aku lupa bertanya. Terangkan kepada ku dimana
kamu mendapat makanan ini.”
Hamba: “Sebelum aku memeluk Islam aku menjadi tukang ramal. Orang-orang
yang aku ramal nasibnya kadang-kadang tidak dapat bayar uang kepadaku. Mereka
berjanji akan membayarnya apabila sudah memperoleh uang. Aku telah berjumpa
dengan mereka hari ini. Merekalah yang memberikan aku makanan ini.”
Mendengar kata-kata hambanya Abu Bakar memekik : “Ah! Hampir saja kau bunuh
aku.”
Kemudian dia coba mengeluarkan makanan yang telah ditelannya. Ada orang
yang menyarankan supaya dia mengisi perutnya dengan air dan kemudian
memuntahkan makanan yang ditelannya tadi. Saran ini diterima dan
dilaksanakannya sehingga makanan itu dimuntah keluar.
Kata orang yang mengamati : “Semoga Allah memberikan rahmat atas mu. Kamu
telah bersusah payah karena makanan yang sedikit.”
Kepada orang itu Abu Bakar menjawab: “Aku sudah pasti memaksanya keluar
walaupun dengan berbuat demikian aku mungkin kehilangan nyawaku sendiri. Aku
mendengar Nabi berkata : “Badan yang tumbuh subur dengan makanan haram akan
merasakan api neraka.” Oleh karena itulah maka aku memaksa makanan itu keluar
takut kalau-kalau ia menyuburkan badanku.”
Abu Bakar sangat teliti tentang haram halalnya makanan yang dimakannya.
Jangan mendapatkan harta melalui jalan yang haram, Jangan gunakan harta
yang haram bagi diri sendiri apalagi untuk orang lain.
Kelak diyaumil akhir akan ditanya " Dari mana kamu peroleh hartamu dan
kemana kau belanjakan "
ISTIGHFAR
Untuk melakukan ibadah terkadang kita merasa dibatasi sesuatu yang
seharusnya tidaklah layak dikatakan sebagai pembatas namun kita lebih sering
menggunakannya sebagai alasan untuk tidak dapatnya beribadah secara maksimal.
Mari kita tengok sekilas perjalanan kita, Pada Jam kerja, banyak dari kita
yang tidak bisa Sholat Dhuha karena tidak semua kantor atau perusahaan
menyediakan musholla dan mengizinkan waktu sholat dhuha. Pada Jam Istirahat,
kita tidak bisa sholat Dhuhur dan berdzikir lama-lama karena waktunya terbagi
untuk makan ( bagi yg tdk puasa ) atau kepentingan yang lain.
Sekilas, seakan ibadah selalu membutuhkan waktu dan tempat tertentu dan
apabila kita tidak bisa menemukan salah satunya maka lepaslah kesempatan
beribadah itu, Apakah selalu demikian ? Jawabnya TIDAK dan sekali lagi TIDAK.
Suatu usaha yang perlu kita kembangkan adalah memanfaatkan waktu untuk
beribadah semaksimal mungkin dan kali ini pilihan saya adalah : selalu membaca
ISTIGHFAR baik terucap ataupun dalam hati. Bacaan ini tidak bisa dibatasi oleh
situasi kerja bahkan oleh tempat dan waktu. Mengapa Istighfar ?
Karena saya masih punya banyak dosa sekaligus ingat bahwa Junjungan kita
Baginda Rosul S.A.W yang sudah Ma'sum dan dijamin oleh Allah diampuni
dosa-dosanya membaca 70 kali istighfar dalam tiap harinya, apalagi saya yang
tidak ada jaminan.
Bila membaca istighfar ini anda anggap baik dan sependapat dengan saya
bahwa tidak bisa dibatasi oleh tempat dan waktu Mengapa tidak anda lakukan ?
Bagaimana kalau mulai besok kita bersama-sama selalu membaca ISTIGHFAR
selama mata kita belum tidur pada setiap kesempatan.
Cukup kita lakukan 1 hari saja dan bila anda tahu manfaatnya, selanjutnya
terserah anda.
BERSEDEKAH
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi S.A.W beliau bersabda: "Menguap itu
dari Syaitan. Maka apabila seseorang di antara kamu menguap, hendaklah
ditahannya sedapat mungkin. Sesungguhnya jika seseorang di antara kamu
mengatakan "ha" lantaran menguap, tertawalah syaitan."
[Bukhari].
Hadis dari Abu Hurairah r.a: Diriwayatkan daripada Nabi S.A.W katanya:
Seorang lelaki berkata: Aku akan memberikan sedekah pada malam ini. Lalu dia
keluar membawa sedekahnya dan meletakkannya di tangan seorang perempuan yang
berzina yaitu pelacur. Keesokannya orang banyak memperbincangkan mengenai
perempuan tersebut yang telah diberikan sedekah pada malam tadi. Lelaki itu
berkata: Wahai Tuhanku! Hanya buatMu segala puji-pujian! Sedekahku telah aku
berikan kepada wanita yang berzina. Aku akan bersedekah lagi, lalu dia keluar
membawa sedekahnya dan meletakkannya di tangan orang kaya. Keesokan harinya
orang banyak memperbincangkan mengenai seorang kaya yang telah diberikan
sedekah. Lelaki itu berkata: Wahai Tuhanku! Hanya buatMu segala puji-pujian.
Sedekahku telah aku berikan kepada seorang yang kaya. Aku akan bersedekah lagi,
lantas dia keluar dengan membawa sedekah dan meletakkannya di tangan seorang
pencuri. Esoknya orang banyak mulai bercakap-cakap mengenai seorang pencuri
telah diberikan sedekah. Dia berkata: Wahai Tuhanku! Hanya buatMu segala
puji-pujian! Sedekahku telah aku berikan kepada seorang perempuan zina, pada
orang kaya dan pada pencuri. Lalu dia didatangi seseorang dan dikatakan
kepadanya: Sedekahmu benar-benar telah diterima. Boleh jadi perempuan zina itu
berhenti dari berzina karena sedekahmu. Orang kaya itu pula dapat mengambil
pelajaran dan mau membelanjakan sebagian dari harta yang telah dianugerahkan
oleh Allah kepadanya dan mungkin juga pencuri itu akan berhenti dari mencuri
karena sedekahmu itu. [Bukhari/Muslim]
Dalam sebuah hadits disebutkan, yang artinya : Janganlah kamu malu
bersedekah walaupun setengah biji korma yang dapat kamu sedekahkan.
Akhirnya … .. Marilah kita memperbanyak Sedekah Meskipun sedikit namun
ikhlas
UNTUK KITA RENUNGKAN
Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan didalam batin
Tengoklah kedalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat 2X
Kita mesti berjuang, memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada disini, didalam jiwa ini
Berusahala agar Dia tersenyum 2X
Masih kuingat bait syair
sebuah lagu Ebiet yang terkadang masih aku senandungkan entah mengapa kali ini
aku ingin merenungkan dan mencoba mengkaji makna yang tersirat ataupun tersurat
dalam lagu tersebut dalam aktifitas keseharianku.
Kita mesti telanjang karena aku harus mandi setelah bangun tidur untuk
melakukan sholat subuh yang tentunya harus benar2 bersih namun apa yang sering
aku lakukan adalah hanya berwudhu untuk melakukan sholat Subuh adapun mandinya
menjelang berangkat kerja dengan harapan badan lebih Fresh, jangankan untuk
suci di dalam bathin sementara suci lahirpun belum bisa aku laksanakan belum
lagi ketika aku angkat tanganku bertakbiratul ihram aku telah berniat untuk sholat
dilanjutkan dengan do'a iftitah yang didalamnya kuucapkan INNA SHOLATI
WANUSUKI… dan seterusnya LILLAHI ROBBIL "ALAMIIN yang bermakna Sholatku
hanya karena Allah tidak lain itu hanyalah bagian dari gerakan mulutku namun
hati dan pikiranku kemana-mana, aku ingat sarapanku belum tersedia, aku harus
pergi kerja lebih awal agar tidak terlambat dan lain sebagainya.
Setelah salam aku berdo'a : Robbana atina fiddunya khahasa wafil akhiroti
Khasanah… dan seterusnya yang tidak lain
adalah do'a sapu jagat yang intinya meminta kebaikan dunia dan akhirat, cobalah
anda pikir patutkah Aku memohon kepada Allah yang sedemikian besar sementara
aku sholat tanpa mandi dan masih berpikir macam2 dalam sholatku.
Aku berangkat kerja seiring dengan do'a Bismillahi Tawakkaltualallah,
ditengah perjalanan lalu lintas macet karena salah satu mobil menyerobot dan
terjepit diantara mobil- mobil yang lain dalam hatiku bergumam betapa egoisnya
supir mobil tersebut tidak pernah memikirkan kepentingan orang lain seakan aku
selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentinganku sendiri.
Di kantor kulihat atasanku sedang kebingungan di depan computer dan selalu
bertanya pada Clerknya Cara menjalankan Microsoft Office dalam hatiku berkata
ah ternyata bener juga kata orang bahwa dia jadi atasanku karena ada KKN
habisnya pakai Microsoft Office saja nggak bisa, tak lama kemudian anak buahku
datang menyerahkan data untuk bahan presentasiku yang kutolak karena cara
mendapatkan datanya salah, sekali lagi bergumam dalam hatiku apa saja yang
dipelajari waktu sekolahnya toh dia lulusan dari sekolah terkenal dan nilai
rata2 nya lebih tinggi dariku tapi kenapa sebodoh itu.
Sepintas terlihat ada pegawai wanita yang baru yang menarik perhatianku
cantik, tinggi semampai tapi sayangnya kalau berjalan sedikit miring.Ah… . malu
rasanya dengan lagu yang aku nyanyikan, selalunya kulihat kekurangan orang lain
ada dimataku namun DEBU dihatiku tak pernah aku bersihkan.
Kita mesti berjuang memerangi diri bercermin dan banyaklah bercermin.Aku
sepertinya lupa bahwa yang aku perangi selama ini adalah kemalasan untuk
membaca buku2 ilmu pengetahuan yang bisa menghambat karirku dalam bekerja
selain itu dengan penuh semangat aku perangi kemiskinan demi meningkatkan
status sosial, memeras otak hanya untuk mencari jalan agar mendapat tambahan
penghasilan padahal terkadang aku ingat sebuah kisah sahabat Rosulullah S.A.W
yang bertanya sesaat setelah peperangan Badar, ya Rosulullah adakah perang yang
lebih dahsyat dari perang badar ini, Jihaadun Nafs Jawab Rosulullah yaitu
perang melawan hawa nafsu.
Beginilah aku yang lebih pandai berucap dan berkhotbah ketimbang
melakukannya.
Kalau masalah bercermin aku tidak pernah lupa seharipun apalagi kalau akan
keluar rumah, kulihat wajahku, dandananku tak lupa kusemprotkan parfum
kebanggaanku dan dengan percaya diri aku keluar rumah. Aku juga bercermin
kepada kawanku, tetanggaku, keluargaku tentang apa yang telah dia lakukan
sehingga mereka berhasil menduduki jabatan yang tinggi, kekayaan yang berlimpah
hingga tak perlu khawatir tentang anak keturunanya, jeleknya aku jarang kalau
tidak boleh dikatakan tidak pernah bercermin kepada saudaraku yang senantiasa
beribadah kepada Allah, yang selalu mensyukuri apa yang dia miliki, lebih
miskin dariku namun bersedekah jauh melebihi aku padahal aku pernah mendengar
bahwa lihatlah kebawah tentang harta dan lihatlah keatas mengenai ilmu demikian
juga ketika aku mendengar Ayat Allah dibacakan " Lainsyakartum La
azidannakum Walainkafartum Inna Adzaabi Lasadiid " dan ditutup dengan shodaqollohul
adhim aku hafal tentang arti Ayat Allah yaitu barangsiapa yang bersyukur atas
nikmatKU maka akan kutambah nikmat itu dan barangsiapa yang ingkar sesungguhnya
siksaKU amatlah pedih kemudian ditutup dengan maha benar Allah dengan segala
FirmanNya dan semua itu berlalu begitu saja di telingaku.
Ya Allah dimanakah tempatku setelah Engkau perhitungkan amal dan dosaku.
Allah ada didalam jiwa ini adalah kalimat puistis yang sering kudendangkan
tatkala aku lagi menghadapi masalah atau menerima musibah tak lupa kusertakan
kalimat selanjutnya Allah akan membantu hambaNya yang berusaha tidak lain
hanyalah demi untuk memotivasi keyakinanku untuk menghadapi dan menyelesaikan
masalah, tidak demikian halnya tatkala aku lagi Happy seakan kalimat2 tersebut
tak pernah aku mendengarnya bagaimana tidak, aku bisa berkata bohong untuk
menolak permintaan shodaqoh untuk masjid, aku dengan leluasa membawa alat tulis
kantor ke rumah untuk kepentingan pribadi semuanya seakan Allah tidak ada dalam
jiwaku dan tiba2 ada ketika aku butuh pertolongannya.
Ya Allah berilah aku petunjuk karena hanya dariMUlah petunjuk itu datang.
Dalam kebodohanku aku masih yakin bahwa Allah akan tersenyum kepadaku meski aku
tak tahu kapan. Siapakah Aku ?
Aku bisa saja sang penulis, yang membaca atau siapa saja yang masih suka
menonjolkan Akunya.
Untuk kita renungkan… … … …
BERCERMIN DIRI
Dalam keseharian kehidupan kita, begitu sangat sering dan nikmatnya ketika
kita bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita
tatap itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang
memungkinkan kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian?
Sebabnya kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan
sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan
acak-acakan tak karuan.
Sebabnya penampilan kita adalah juga cermin pribadi kita. Orang yang necis,
rapih, dan bersih maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapih
pula. Sebaliknya orang yang penampilannya kucel, kumal, dan acak-acakan maka
kurang lebih seperti itulah pribadinya.
Tentu saja penampilan yang necis dan rapih itu menjadi kebaikan sepanjang
niat dan caranya benar. Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan,
niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain
senang dan nyaman dengan penampilan kita.
Dan ALLOH suka dengan penampilan yang indah dan rapih sebagaimana sabda
Nabi Muhammad S.A.W , "Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal",
"Sesungguhnya ALLOH itu indah dan menyukai keindahan". Yang harus
dihindari adalah niat agar orang lain terpesona, tergiur, yang berujung orang
lain menjadi terkecoh, bahkan kemudian menjadi tergelincir baik hati atau
napsunya, naudzhubillah. Tapi harap diketahui, bahwa selama ini kita baru sibuk
bercermin 'topeng' belaka. Topeng 'make up', seragam, jas, dasi, sorban, atau
'asesoris' lainnya,. Sungguh, kita baru sibuk dengan topeng, namun tanpa
disadari kita sudah ditipu dan diperbudak oleh topeng buatan sendiri. Kita
sangat ingin orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang
sebenarnya. Ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, lebih cantik, lebih kaya,
lebih sholeh, lebih suci dan aneka kelebihan lainnya. Yang pada akhirnya selain
harus bersusah payah agar 'topeng' ini tetap melekat, kita pun akan dilanda
tegang dan was-was takut 'topeng' kita terbuka, yang berakibat orang tahu siapa
kita yang 'aslinya'. Tentu saja tindakan tersebut, tidak sepenuhnya salah.
Karena membeberkan aib diri yang telah ditutupi ALLOH selama ini, adalah
perbuatan salah. Yang terpenting adalah diri kita jangan sampai terlena dan
tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya,
terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat
bercermin tidak hanya 'topeng' yang kita amat-amati, tapi yang terpenting
adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri.
Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang
kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan
hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"
Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak
dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap ALLOH Yang Mahaagung,
menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih
ALLOH kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai,
meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan
menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"
Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti
dapat menyebut kalimat thoyibah, 'laillahailallah', ataukah akan menjadi mulut
berbusa yang akan menjulur dan di akherat akan memakan buah zakun yang getir
menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan
nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang
terluka dengan mulut kita ini!"
"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang
betapa banyak dusta yang engkau ucapkan.
Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris
tajam? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan
untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya
engkau menyebut nama ALLOH dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon
agar ALLOH mengampuni?" Lalu tataplah diri kita tanyalah, "Hai kamu
ini anak sholeh atau anak durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang
tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani,
dan menyusahkannya. Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah
makhluk tiada tahu balas budi!
"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar,
bersukacita, bercengkrama di surga atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur
mendidih di dalam lahar membara jahannam terasang tanpa ampun derita tiada
akhir"
"Wahai tubuh, berapa banyak masiat yang engkau lakukan? Berapa banyak
orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba
ALLOH yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu
pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa
pula hak-hak yang engkau napas?"
"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu?Apakah tubuhmu sebagus
kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu
segagah ototmu atau selemah atau selemah daun-daun yang mudah rontok?
Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk
kotoran-kotaranmu?"
Lalu ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia
atau menjijikan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik
penampilanmu ini?" "Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang
menyebalkan?" Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan
dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu".
"Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan?
Khusukkah shalatmu, dzikirmu, doamu, .ikhlaskah engkau lakukan semua itu?
Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang
pamer!"
Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang
tersembunyi, betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama
ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus
topeng-topeng duniawi"
Wahai sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya saat bercermin adalah saat
yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.
4 PERKARA SEBELUM TIDUR
Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : “Ya Aisyah jangan engkau tidur
sebelum melakukan empat perkara, yaitu :
1. Sebelum khatam Al Qur’an,
2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
3. Sebelum para muslim meridloi kamu,
4. Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh …
“Bertanya Aisyah :
“Ya Rasulullah… . Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?”
Rasul tersenyum dan bersabda : “Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga
kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an.
Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan
memberi syafaat di hari kiamat.
Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.
Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka
seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh”
Sekian untuk ingatan kita bersama.
KEIKHLASAN
Mereka yang bertindak akan musnah, kecuali mereka yang menyembah Allah
Mereka yang menyembah Allah akan musnah, kecuali mereka yang mengetahui
Allah
Mereka yang mengetahui Allah akan musnah, kecuali mereka yang jujur
Mereka yang jujur akan musnah, kecuali mereka yang tulus
Mereka yang tulus akan musnah, kecuali mereka yang waspada
Mereka yang waspada akan musnah, kecuali mereka yang memiliki keyakinan
dan mereka yang memiliki keyakinan adalah yang bersifat luhur.
Allah menggambarkannya dengan indah dalam ayatnya surah 15: 99
" Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu (waktu kematian) yang
diyakini "
TIPU DAYA SYETAN
Ada kaidah bahwa sesuatu yang tidak terlihat tidak lantas disebut tidak
ada. Contoh sederhananya adalah elektron, udara, jin. Seorang Profesor elektro
pun pasti belum pernah melihat elektron dengan kasat mata, atau melihat arus
listrik yang mengalir pada kabel. Bila tidak percaya pegang saja kabel listrik
kalau tidak kabel itu "menggigit" alias nyetrum. Tapi jangan
coba-coba mengetesnya sendiri pokonya percaya saja. Udara juga kita pasti tidak
dapat melihatnya. Yang terlihat hanyalah gerakan benda-benda yang terhempas
oleh udara contohnya dedaunan yang bergoyang terhempas udara. Begitu juga jin.
Dan untuk masalah jin ini, walaupun tidak terlihat dia pasti ada. Jin itu sendiri
ada yang muslim dan ada yang kafir. Dan yang mengajak kejahatan itu disebut
dengan syetan dan nenek moyangnya adalah iblis laknatulloh.
Mengapa kita harus percaya bahwa sesuatu yang tidak terlihat belum tentu
tidak ada? Itu karena manusia sendiri diciptakan sempurna oleh Alloh. Manusia
diciptakan dengan keterbatasan. Dengan keterbatasannya itu sesungguhnya itu
adalah rahmat bagi manusia itu sendiri. Manusia diciptakan dengan kemampuan
melihat pergerakan benda yang kecepatannya terbatas. Juga manusia diciptakan
dengan kemampuan mendengar yang terbatas. Coba kita lihat baling-baling peS.A.W
at, pasti bila putaran baling-baling itu kecepatannya makin tinggi maka tidak
akan kelihatan anak baling-baling tersebut. Coba kita bisa mendengar semua
frekuensi suara bisa stress jadinya bila setiap hari mendengar suara kelelawar,
suara gelombang radio atau suara semut. Maha suci Alloh yang telah menciptakan
keterbatasan pada diri manusia.
Manusia diciptakan dari tanah/sari pati tanah. Tapi bukan berarti kalau
kita ditimpuk oleh tanah langsung bersenyawa, hasilnya yang pasti adalah
benjol. Begitu juga dengan jin yang diciptakan dari panas api dan itu tidak
berati jin tidak bisa meraskan panasnya api (neraka).
Menurut sejarahnya iblis/syetan selalu akan berusaha membuat manusia
menyimpang dari jalan yang lurus. Dan itu dilakukan dalam ukuran detik atau
bahkan bila ada yang lebih kecil dari detik maka begitu gencarlah syetan
berusaha menyesatkan manusia.
Kita yang tidak bisa melihat jin kafir/syetan suka terlena akan godaan
syetan ini. Kita suka tidak sadar bahwa mereka selalu mengintai dan menyesatkan
manusia seperti halnya aliran darah dalam tubuh manusia yang terus bersirkulasi
begitu juga syetan, terus menyesatkan manusia tanpa henti.
Oleh sebab itu yakini sesungguhnya kita sedang berperang antara manusia
dengan syetan. Dan syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia walaupun tidak
terlihat mata. Dan alangkah aneh kita manusia tetapi tidak tahu atau tidak awas
siapa musuh kita, bagaimana musuh kita.
Syetan itu bekerja sama antara syetan dari golongan jin dengan syetan dari
golongan manusia. Contohnya adalah: melalui desainer pakaian syetan
membisik-bisikan agar si desainer menghasilkan desain pakaian yang mini-mini
yang membuka aurat. Juga syetan memberikan ide-ide kepada para pembuat iklan
untuk membuat iklan yang menghasilkan kesan mesum dan juga para penggubah lagu
juga dibisik-bisiki supaya menghasilkan lagu yang mengundang syahwat.
Kesemuanya bermuara kepada melalaikan untuk mengingat Alloh! Bila melihat sinetron
jaman sekarang, pasti bapak-bapak/ibu-ibu juga anak laki-laki/perempuan suka
nonton sinetron bukan karena jalan ceritanya yang bagus tapi cenderung karena
pemainnya yang muda-muda cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan ini tanpa
disadari bisa menjadi sumber ketidak harmonisan rumah tangga. Coba saja lihat
"habis lihat sinetron dengan pemainnya wanita-wanita cantik lalu setelah
itu lihat wajah istri sendiri", pasti akan kelihatan lebih tua. Karena
apa… ..karena barusan melihat wanita-wanita muda dan cantik disinetron. Begitu
juga dengan ibu-ibu "habis lihat pemain yang muda gagah" lalu lihat
suami … ..wah koq kelihatan sudsh tua sekali. Itulah cara-cara syetan
memalingkan manusia melalui berbagai cara agar kehidupan manusia
penuh dengan perpecahan dan jauh dari mengingat Alloh.
Coba jalan-jalan ke Mall, dimana ada di Mall itu sesuatu yang bisa
mengingatkan kita kepada Alloh. Suaran adzan / lantunan
Al-Qur'an tidak terdengar, sholat pun bisa jadi lewat begitu saja.
Begitu juga halnya dengan pacaran. Bila ada yang berkata "Aku cinta
padamu"… padahal arti sebenarnya
adalah "Aku nafsu sama kamu". Kenapa? Karena cinta itu sejatinya
setelah memasuki jenjang perkawinan. Sebelum pernikahan yang ada hanyalah
nafsu. Untuk itu berhati-hatilah antara pergaulan muda-mudi jangan sampai
tergelincir kepada zina.
Dalam upaya kita berbuat kebaikan juga selalu berusaha syetan itu menyusup,
misalnya ketika berbuat baik ditiup-tiupkan perasaan riya' atau ketika baca
Al-Qur'an dibagus-baguskan supaya orang lain memuji kita.
Oleh sebab itu yakinlah bahwa syetan itu ada dan selalu berusaha
menggelincirkan manusia kepada maksiat dan jauh dari mengingat Alloh.
Ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menjauhkan godaan syetan, antara
lain adalah memohon perlindungan kepada Alloh agar diselamatkan dari godaan
syetan, sebab syetan itu sendiri mutlak berada dalam genggaman Alloh.
Jangan jadikan rumah kita menjadi sarang syetan. Caranya adalah hindari
barang-barang yang bisa menarik syetan untuk dijadikan tempat bersarang. Contoh:
jangan ada patung, lukisan makhluk hidup, jangan ada tempat-tempat kotor,
lembab, bau dan tidak terawat. Jangan pelihara anjing - Bagi yang punya anjing
kasihkan saja sama orang lain yang non muslim karena anjing itu bisa menahan
malaikat rahmat memasuki rumah kita. kalau untuk penjaga pakai saja alarm atau
sewa satpam. Buat juga kamar atau rumah itu suasananya bisa mengingat Alloh.
kalau perlu pajang kain kafan di kamar. Hati-hati dengan barang-barang
elektronik seperti Komputer, TV, VCD, dll karena barang -barang itu juga bisa
dijadikan alat perusak iman kita oleh syetan.
Disamping menjaga lingkungan dari kemungkinan dijadikannya sarang syetan
maka diri kitapun harus dijaga dengan dzikir kepada Alloh baik diwaktu pagi
atau petang dan juga sebelum tidur. Beberapa contoh yang dapat dilakukan adalah
berwudhu sebelum tidur, membaca do'a sebelum tidur, juga baca ayat kursi atau
baca lafadz : Laa ilaaha illallohu wahdahu Laa syarikalah lahul mulku walahul
hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa 'alaa kulli syai'in qodiir sebanyak 100 kali
(kalau bisa) atau baca doa-doa yang mashyur (Dzikir Al Ma'tsurat misalnya ).
Dan sebagai salah satu bentuk pertahanan yang harus selalu kita lakukan
bagi keluarga/anak-anak kita atau saudara-saudara kita adalah berdo'a kepada
Alloh yang menguasai segala makhluk agar terlindung dari godaan syetan.
Semoga kita semua dapat diselamatkan dan dilindugi oleh Alloh dari godaan
syetan dan iblis yang terkutuk. Aamiin.
“SISI LAIN”
PERTOLONGAN ALLOH
Karunia pertolongan ALLOH Azza wa Jalla terkadang “definisi”-nya tidak
mesti sama dengan apa yang terpikir dalam benak dan terbetik dalam untaian
harapan kita. Bisa jadi apa yang kita artikan dan kita dambakan lewat doa
ataupun cetusan hati itu berupa ‘A’, ternyata yang datang berbentuk ‘B’.
Sayangnya, kita kerapkali tidak menyadarinya. Kita anggap bahwa ALLOH tidak
menolong kendati sudah ‘habis-habisan’ berdoa.
Akan tetapi, bagi orang yang
sudah memiliki makifat, tentulah tidak akan atau setidaknya tidak akan
berlama-lama terjebak dalam buruk sangka seperti itu. Dia akan diberi
kesanggupan oleh ALLOH untuk dapat menangkap hikmah dibalik setiap kejadian.
Dan oleh karena itu, cepat atau lambat akan segera disadarinya bahwa ALLOH Azza
wa Jalla sama sekali tidak akan pernah lalai dalam mengurus hamba-Nya dan tidak
akan pernah lupa untuk mengabulkna doa-doanya.
Ketika suatu waktu kita ingin pertolongan ALLOH dan ternyata pertolongan
itu belum datang juga seperti yang kita inginkan, namun kita tetap bisa berdoa
dan shalat tahajud, maka itu pun harus membuat kita puas. Mengapa? Sebab,
karunia ALLOH tidak harus berbentuk material seperti yang kita inginkan. Kita
bisa berdoa, kita bisa tahajud, dan kita bisa tetap bersungguh-sungguh dalam
meminta, itu pun merupakan karunia besar. Bahkan bisa jadi lebih besar daripada
apa yang yang kita minta, baik berupa uang ataupun aneka bentuk pertolongan
lainnya.
Ketika kita diuji dengan lilitan hutang, misalnya, lantas kita setiap malam
menangis dan berdoa, “Ya, ALLOH. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Mahakaya.
Jagat raya alam semesta ini sungguh milik-Mu. Bayangkanlah hutangku, ya Rabb.”
Akan tetapi, ketika ternyata hutang-hutang itu tak bisa terbayarkan juga, maka
bukanlah itu berarti doa kita tidak dikabulkan-Nya. Sesungguhnya, kesanggupan
kita untuk bangun setiap malam dan memanjatkan doa dengan penuh harap, ini pun
karunia ALLOH yang amat besar. Apa sih artinya hutang bagi ALLOH yang Mahakaya?
Mungkin dengan hutang itu ALLOH justru sedang menjerat seorang hamba-Nya agar
semakin dekat kepada-Nya.
“Ya, ALLOH. Usahaku saat ini sedang macet. Tolonglah, ya ALLOH. Bukanlah
Engkau Mahakaya, Pemiliki segalanya?” Subhanallah. Bukankah sangat jarang
kata-kata seperti ini terucap dari lisan seseorang ketika dia sedang dalam
keadaan makmur? Sungguh mahal kata-kata makrifat seperti itu, yang bisa jadi
terlontar dari lisan kita justru tatkala kita sedang dalam kesusahan. Nah,
siapa tahu itu merupakan karunia yang lebih besar daripada dilapangkan seketika
oleh ALLOH.
Jadi, kita terus-menerus memohon, menghiba-hiba, dan dengan sekuat tenaga
memaksakan diri mendekat kepada ALLOH, itu pun adalah karunia ALLOH yang lebih
besar dari pada yang kita mintakan dalam doa.
Anda datang menghadiri pengajian di majlis taklim karena suatu kesulitan
dan kesempatan yang tengah di hadapi, lalu anda dengarkan ceramah sang
mubaligh; itu lebih baik daripada doa yang kita minta. Karena dengan cara ini
mungkin lebih banyak yang terselesaikan daripada satu penyelesaian masalah yang
kita mintakan dalam doa.
Anda minta dimudahkan urusan oleh ALLOH tetapi malah diberi ilmu; bisa jadi
itu lebih manfaat daripada kemudahan urusan yang anda cari. Karena, dengan ilmu
justru lebih banyak urusan yang bisa terselesaikan. Demikian juga bila anda
sedang mempunyai masalah dengan tetangga atau orang tua, tetapi Anda telah
datang kepada ulama untuk menuntut ilmu; itu ‘kan merupakan masalah yang dapat
membuat kita menjadi lebih baik.
Walhasil, janganlah takut
oleh suatu masalah karena pertolongan ALLOH itu teramat dekat. Dan bentuknya
yang mahal adalah ketika kita berubah menjadi semakin taat kepada ALLOH. Sekali
lagi, semua itu adalah karunia yang jauh lebih besar daripada yang kita minta.
KAPANKAH TIBA PERTOLONGAN ALLAH?
Kapankah pertolongan ALLOH akan tiba? Begitu banyak yang selalu menanti dan
mengharap pertolongan ALLOH. Ada yang sabar, ada yang tidak sabar. Ada yang
yakin bahwa ALLOH akan menolong, ada juga yang ragu-ragu. Ada yang menikmati
saat-saat menanti pertolongan ALLOH, namun tak sedikit yang sengsara.
Akan tetapi, bagi orang-orang yang telah mengetahui ilmunya, yakin benar
bahwa ALLOH adalah Dzat yang sama sekali tidak pernah bohong terhadap apa yang
Dia janjikan. ALLOH adalah Dzat yang sekali-kali tidak pernah salah perhitungn
sedikitpun juga atas segala takdir dan ketentuan-Nya. Pasti tidak akan meleset,
pasti tidak akan mengecewakan! Hanya, perkara bentuk ataupun waktunya, masya
ALLOH, itu sama sekali bukan urusan kita.
Bukankah untuk itu ALLOH Azza wa Jalla telah menebar janji dan jaminan-Nya
lewat Al Quran Al Karim? Simaklah firman-Nya yang sungguh Mahabenar ini,
‘Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” [Q.S. Al
Mukmim (40):51]. “…Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang
beriman.” [Q.S. Ar Ruum (30):47].
Ada sebuah keluarga yang selalu di rundung ujian oleh ALLOH. Kedua suami
istri ini ditakdirkan menderita suatu penyakit. Sang suami diuji dengan sakit
yang berkepenajangan; sekali jatuh sakit dia harus berbaring selama dua hingga
tiga tahun. Isterinya pun ternyata harus mendapat ujian sakit pula. Hal ini
kerapkali menimpa keduanya semenjak awal berumah tangga. Akan tetapi,
alhamdulillah keluarga ini benar-benar beriman.
Sampai suatu saat sang isteri ditakdirkan oleh ALLOH mengandung, namun
sayang kehamilannya ini pun merupakan satu batu ujian tersendiri: ia hamil
anggur. Dokter menyarankan agar kandungannya harus segera dibersihkan. Kalau
tidak akan menambah masalah baru bagi kesehatannya. Berapa biayanya? Subhanallah,
untuk membersihkannya saja dibutuhkan biaya tak kurang dari empat ratus ribu
rupiah. Jelas, keluarga yang memang hidup pas-pasan ini tidak mampu menanggung
biaya sebesar itu.
Keduanya pun hanya bisa menjerit kepada ALLOH mengadukan semua ini. “Ya
ALLOH. Sungguh Engkau Mahatahu keadaan kami. Engkau Mahatahu kami miskin harta.
Kini Engkau uji kami dengan kejadian seperti ini. Hanya Engkaulah yang mampu
menolong dan melapangkan kesempitan hamba-hamba-Mu,” rintihnya.
Begitulah karena ketidakmampuannya menyediakan biaya pengobatan, sang istri
hanya bisa berbaring lesu ditempat tidur.
Hingga akhirnya turunlah pertolongan dari ALLOH yang Maharahman, yang
syariatnya ternyata berupa sakit thypus! Panas! Panas sekujur tubuhnya, panas
kepalanya, panas perutnya! Akibatnya, terjadilah keguguran. Dan dokter yang
memeriksanya kemudian, menyatakan bahwa kandungannya kini telah bersih,
sehingga tidak perlu lagi diadakan pembersihan kandungan sebagaimana yang telah
disarankannya tempo hari. Allahu Akbar!
Pertolongan ALLOH memang tidak mesti sebentuk dengan apa yang kita duga dan
harapkan. Kita jangan terperdaya oleh syetan yang menganggap ALLOH tidak
menolong kita, padahal pertolongan ALLOH ternyata sudah datang. Hanya karena
beda bentuk saja.
ALLOH pasti sangat memperhatikan keadaan kita jauh lebih bear daripada
perhatian kita terhadap diri sendiri. Betapa tidak! Karena, Dia-lah yang
merancang tubuh kitadengan detail, sedangkankita tidak tahu apa-apa tentang
diri ini. Lantas apalagi yang perlu kita kita ragukan dalam hidup ini tentang
jaminan dan jamuan dari ALLOH Azza wa Jalla.
Hanya orang-orang malang yang ragu-ragu terhadap janji ALLOH. Padahal
keraguan tidak mendatangkan apapun, selain mendatangkan kesengsaraan! Yakin
ataupun tidak yakin tetap saja ketentuan ALLOHakan menimpa kita. Hanya dengan
keyakinan yang mantapah ketentuan ALLOH akan berubah menjadi ladang nikmat
apapun yang terjadi.
Akan tetapi, kalau kita hadapi kejadian dalam hidup ini dengan buruk sangka
terhadap pertolongan ALLOH, maka kita sudah sengsara duluan menghadapinya,
bhkan terhalang juga pertolongan ALLOH itu karena keburuksangkaan kita
terhadapnya.
Oleh sebab itu, jangan sekali-kali mimpi hidup enak tanpa ujian dari ALLOH
karena bagaimanapun ujian itu sendiri merupakan konsekuensi logis dari keberimanan
kita. Sejauh kita yakin bahwa ujian merupakan suatu jalan bagi diangkatnya
derajat keimanan kita, insya ALLOH semua ini akan menjadi ladang nikmat.
Karena, toh tidak bisa diragukan lagi bahwa diujung segala ujian, karunia
pertolongan-Nya siap menyongsong.
TAUBAT LELAKI YANG SIBUK
Diceritakan bahwa ada seseorang menceritakan kepada Hasan Al-Basri:
"Wahai Abu Said! Di sini ada seorang lelaki yang tidak mau berkumpul
dengan orang ramai. Dia sentiasa duduk sendirian saja."
Hasan pergi kepada orang yang dimaksudkan itu dan berkata: "Wahai
hamba Allah! Aku melihat engkau suka duduk menyendiri saja. Mengapa engkau
tidak suka bergaul dengan orang ramai?" "Ada suatu perkara yang telah
menyibukkan aku dari berkumpul dengan manusia."
Sekurang-kurangnya engkau pergi kepada lelaki yang dipanggil sebagai Hasan
Al-Basri dan duduk di majlis ilmunya." kata Hasan lagi.
"Ada satu perkara yang mencegah aku dari berkumpul dengan manusia
termasuk Hasan Al-Basri." Kata lelaki itu.
"Semoga Allah merahmatimu. Apakah gerangan yang sentiasa menyibukkan
engkau?"
"Aku setiap hari terjepit di antara nikmat dan dosa. Maka setiap hari
diriku sibuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan sibuk bertaubat atas dosa-dosa
tersebut." Jawab lelaki itu.
"Wahai hamba Allah! Kalau begitu engkau lebih alim dari Hasan
Al-Basri. Maka kekalkanlah amalan yang telah engkau lakukan." Kata Hasan
Al-Basri.
TAUBAT SEORANG WANITA BUTA
Saleh Al-Muri bercerita, bahwa dia pernah melihat seorang perempuan tua
memakai baju kasar di Mihrab Daud Alaihissalam.
Perempuan yang telah buta matanya itu sedang mengerjakan sholat sambil
menangis terisak-isak. Setelah selesai sholat dia mengangkat wajahnya ke langit
dan berdoa:
"Wahai Tuhan Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup.
Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui
perkara yang tersembunyi dan rahasia, serta setiap getaran batin tidak ada Raja
bagiku selain Engkau yang kuharap dapat menghindarkan bencana yang
dahsyat."
Saleh Al-Muri memberi salam kepada perempuan tersebut dan bertanya:
"Wahai Ibu! Apa yang menyebabkan hilangnya
penglihatanmu?" "Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku karena
terlalu banyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan
pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan aku dan menggantinya di akhirat
nanti, adalah lebih baik dari kedua-dua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan
aku, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di nereka nanti." Kata
perempuan tua itu.
Saleh pun ikut menangis karena sangat terharu mendengar hujjah wanita yang
mengharukan itu.
"Wahai Saleh! Sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat
Al-Quran untukku. Karena aku sudah sangat rindu kepadanya." Pinta
perempuan itu.
Lalu Saleh membacakan ayat yang artinya: "Dan mereka tidak menghormati
Allah dengan penghormatan yang semestinya."
(Al-An'am: 91)
"Wahai Saleh, siapakah yang berkhidmat kepada-Nya dengan
sebenarnya?" Kata perempuan itu lalu menjerit kuat-kuat dengan jeritan
yang boleh menggoncangkan hati orang yang mendengarnya. Dia jatuh ke bumi dan
meninggal dunia seketika itu juga.
Pada suatu malam Saleh Al-Muri bermimpi berjumpa dengan perempuan tua itu
dalam keadaan memakai baju yang sangat bagus.
Dalam mimpi tersebut Saleh bertanya: "Bagaimana keadaanmu
sekarang?"
Perempuan itu menjawab: "Lebih baik rohku dicabut, aku didudukkan di
hadapan-Nya dan berkata: "Selamat datang wahai orang yang mati akibat
terlalu sedih karena merasa sedikitnya khidmatnya kepada-Ku."
KISAH ABU BAKAR DICERCA
Dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tabarani dari Abu Hurairah r.a. bahawa
seorang lelaki telah mencerca Abu Bakar r.a. Ketika itu, Rasulullah S.A.W juga
sedang duduk di sana. Baginda S.A.W tersenyum dan keheranan melihatkan keadaan
lelaki tersebut. ketika lelaki itu mula bersikap kurang ajar terhadap dirinya,
Abu Bakar r.a. pun membalas beberapa kata lelaki tersebut. Dengan yang
demikian, Rasulullah S.A.W menjadi marah lalu bangun dan dibuntuti oleh Abu
Bakar r.a.. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah S.A.W : "Lelaki itu
bersikap kurang ajar terhadap diriku, oleh karena itu aku membalasnya.
Ketika aku mulai membalasnya, kamu meninggalkan kami di tempat itu".
Rasulullah S.A.W bersabda: "Apabila kamu tidak membalas kata-katanya,
terdapat malaikat yang membalasnya untuk kamu. Walau bagaimanapun apabila kami
mulai membalas kata-kata kasarnya itu syetan mula mengambil tempat dan duduk di
antara kamu. yang demikian itu aku tidak mau duduk bersama-sama dengan
syaitan".
Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda lagi: "Ya Abu Bakar ! Terdapat tiga
perkara yang benar yaitu:
1) Apabila
seorang hamba itu dizalimi dengan satu kezaliman, maka dia meninggalkan tempat
itu semata-mata karena Allah, Allah akan menguatkan dan membantunya.
2) Apabila
seseorang itu membuka pintu kedermawannannya dan memberi hadiah, maka Allah
akan menambahkan kekayaannya.
3) Apabila
seseorang itu mula meminta-minta untuk menambahkan kekayaannya, maka Allah akan
mengurangkan kekayaannya.
PENDURHAKA YANG MASUK SURGA
Dahulu, hidup seorang laki-laki durhaka dan fasik dari bani Israil.
Penduduk sekitar dimana ia tinggal mengusir lelaki itu agar meninggalkan desa,
mereka khawatir dan tidak ingin ikut-ikutan terseret karena kedurhakaan
laki-laki itu Allah menurunkan wahyuNya kedapa Musa AS, mengabarkan perihal di
atas. Musa mendatangi lelaki itu dan juga turut mengusirnya dari desa tersebut.
Laki-laki durhaka itupun angkat kaki dari desanya. Ia pindah ke desa lain,
dekat desa tempat ia tinggal sebelumnya. Allah mewahyukan lagi kepada Musa dan
Musa mengusir laki-laki itu dari desa tadi.
Akhirnya, laki-laki itu keluar lagi dari desa tersebut dan berjalan tak
tentu arah. Ia kemudian memutuskan untuk pergi saja ke sebuah gurun gersang.
Disana tidak ada orang tinggal, sehingga tidak mungkin ia diusir lagi dari
situ. Ditempat ini, ia jatuh sakit, Ia tergeletak tak berdaya di atas pasir
panas.
Penderitaan memang tak tertahankan lagi baginya. Ia mengeluh meratapi
nasibnya itu.
"Wahai Tuhan!, andaikata aku dalam pangkuan ibu, maka pastilah ia
menyayangiku, ia akan menangisi atas kehinaanku ini.
Andaikata ayahku di sisiku, pastilah ia akan menolongku, memandikanku,
mengkafaniku. Andaikata istriku ada di sisiku, pastilah ia menangisi
kepergianku.
Andaikata anak-anakku ada disini, pastilah mereka akan menangisi
dibelakangku dan berdoa: ' Ya Allah, ampunilah orangtuaku yang asing,
lemah,suka maksiat, fasik yang di usir dari satu tempat ke tempat lainnya,
sehingga terdampat di gurun yang gersang ini. Ia mati menuju akhirat dalam
keadaan putus asa kepada semuanya, kecuali kepada rahmat Allah'
Ya, Allah. Jika Engkau putuskan aku dari ibuku,anak-anakku,istriku, maka
jangan Engkau putuskan aku dari rahmatMU. Hatiku terbakar karena berpisah dari
mereka, maka jangn Engkau bakar aku dengan api MU karena maksiatku."
Allah kemudian mengirim bidadari-bidadari yang menyerupai ibunya,
isterinya, dan anak-anaknya. Juga Allah mengirim malaikat yang menyerupai
ayahnya. Mereka semua duduk mengelilingi laki-laki itu dan meratapinya. Lelaki
itu menjadi tenang, karena seakan-akan ia dikelilingi oleh ibunya, isterinya,
anak-anaknya dan ayahnya.
"Ya Allah. Jangan Engkau putuskan aku dari rahmatMu. Engkau Maha Kuasa
atas segala sesuatu."
Kemudian, lelaki itu wafat dengan tenanya, Ia menghadap Allah dalam keadaan
bersih karena dosannya terampuni. Allah menurunkan wahyu kepada Musa. "Hai
Musa. Pergilah ke gurun. Disana ada salah seorang waliKU wafat. Mandikan,
kafani, shalati dia"
Musa segera datang ketempat yang dimaksud. Betapa kagetnya ia menemukan
orang yang disebut Allah sebagai waliNya itu
adalah lelaki yang ia usir justru atas suruhan Allah sendiri. Musa melihat
ada bidadari di sisi mayat lelaki itu, sedang menangisinya.\
"Wahai Tuhan, Bukankah ini pemuda fasik yang kuusir atas
perintahMU?"
"Benar, ya Musa. Aku merahmatinya. Aku ampuni dosanya karena keluhnya
waktu sakit, yaitu karena perpisahaannya dengan kampung halamannya, orang
tuanya, anak-anaknya dan isterinya. Kukirim bidadari yang menyerupai ibunya,
dan malaikat yang menyerupai ayahnya. Juga karena rahmatKu, dimana ia telah
terhina dalam keasingannya. Jika orang terasing mati, menangislah penghuni bumi
dan langit karena rasa kasihan, Bagaimana aku tidak kasihan padanya? Aku adalah
zat yang Maha Kasih Maha Sayang".
ORANG-ORANG YANG TERKELABUI
Saat niat memulai shalat, inginnya sangat bagus, akibatnya takbir
diulang-ulang seakan-akan dia ingin bagus takbirnya. Dia tidak sadar bahwa
dirinya sudah menjadi alat bagi syetan untuk mengganggu orang yang shalat di
kanan-kirinya. Orang lain sudah membaca Al Fatihah, sudah mulai membaca surat
dia masih sibuk dengan takbir yang dikeraskan demi kepentingan kekhusu'an
dirinya. Berulang-ulang ia lakukan sampai orang yang di kanan-kirinya rusak
shalatnya. Sungguh dia sudah jadi alat tipu daya syetan. Sepertinya ingin
khusu', padahal di saat yang sama dia sudah menjadi jalan untuk merusak shalat
orang lain.
Pada waktu bacaan surat, ada juga yang terkecoh syetan dengan membuatnya
ingin bacaan fatihahnya bagus, sehingga sangat mementingkan makhraz dan
tajwidnya. Tidak jarang suaranya lebih dikeraskan supaya khusu'. Dia tidak
menyadari bahwa bacaan fatihahnya yang begitu diupayakan betul makhraz dan
tajwidnya itu sudah merusak shalat orang di kanan-kirinya. Dan dia sendiri
sudah tidak ingat kepada ALLAH, karena begitu sibuknya dengan bacaan yang tidak
dipahaminya.
Waktu shalat kadang kita merasa harus hingga menangis, bisa juga jadi
sarana tipu daya syetan. Kita shalat berjemaah, kemudian hati tersentuh, oleh
ALLAH digetarkan, tapi sesudah iut justru bisa jadi ria. Kita ingin tangisan
kita diketahui orang lain atau kalau kita diam-diam menangisnya dengan air mata
berlinang, terkadang ada keinginan agar orang lain tahu bahwa dirinya sedang
menangis. Lalu lihat orang lain yang tidak menangis seakan-akan dianggap tidak
dalam keadaan khusu.
Adapula yang ketika sujud dilamakan, imam sudah duduk, makmum lain sudah
duduk, dia sengaja sujud sendiri lebih lama. Dia memang terasa nikmat, tapi
jangan-jangan ini tipu daya syetan karena dalam sebuah kebersamaan (jamaah),
keutamaan itu adalah yang dilakukan secara bersama-sama.
Ah, Sahabat. Kita harus hati-hati! Semua orang yang berilmu pasti binasa,
kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Semua orang yang beramal juga pasti
binasa, kecuali orang-orang yang ikhlas dalam mengamalkannya. Dan untuk ikhlas
itu luar biasa sekali perjuangannya, harus cari ilmunya, atau minimal harus
banyak tanya kesana-sini.
Orang yang biasa jadi imam, ketika suatu waktu dia terlambat dan ada orang
lain yang mengimaminya lalau dia jadi makmum, tapi kalau dia tidak ikhlas
selama shalat hatinya tidak menerima begitu saja diimami orang lain. Suatu saat
lagi ketika ada tamu, karena ingin menghargainya dia persilahkan tamu itu
menjadi imam.
"Silakan, Bapak saja yang jadi imam !" ujarnya.
Tapi ketika mempersilahkan ini ada setitik niatan untuk memperlihatkan
kemuliaan dirinya, ketawadhuan dirinya, atau kearifan dirinya. Artinya dia
menyuruh orang lain jadi imam bukan karena orang lain punya hak, tapi dia
sengaja memperlihatkan dirinya, sehingga orang lain mengatakan,
"Oh, ini orang yang arif, orang yang bijak, orang yang tawadhu".
Sepertinya dia sudah berbuat baik, padahal dia tertipu sudah memamerkan
kebaikannya, masya ALLAH.
Begitu pun bagi orang-orang yang berilmu, banyak oran gyang berilmu dan
terkelabui denganilmu yang dimilikinya. Dia belajar ilmu agama, rajin ke majlis
taklim, ilmu syariat dia pelajari, sayangnya dia merasa menjadi orang yang
pintar dalam ilmu agama. Dalil dikuasai, malah kalau berbicara selalu pakai
dalil, sayangnnya lagi dia tidak meneliti bagaimana pribadinya. Sudah bisa
melakukan atau tidak apa yang diketahui itu? Dia sibuk berhujah dengan aneka
dalil, keterangan agama keluar dari mulutnya, tapi sayang seribu sayang dia
tidak berhasil meneliti ilmu yang diketahuinya itu sudah dilakukan atau belum ?
Anehnya lagi dia sudah merasa shaleh, merasa sudah menjadi orang baik
dengan ilmu yang dikuasainya. Padahal apalah artinya ilmu kalu tidak jadi amal.
Apalah artinya kita mengetahui ilmu shalat, kalau kita tidak shalat. Inilah
perilaku orang yang terkelabui yang tertipu. Banyak bicara agama, banyak bicara
kebenaran tapi dia sendiri tidak melakukan kebenaran itu tapi dia sudah merasa
terhormat dengan ilmunya, tidak merasa bersalah sama sekali. Seakan-akan orang
yang beramal tanpa ilmu itu ditertawakan, masya ALLAH. Padahal ALLAH SWT
berfirman,
"Sungguh amat besar kemurkaan di sisi ALLAH bagi orang-orang yang
berkata-kata apa-apa yang tidak diperbuatnya" (QS. Ash Shaaf 21: 3).
WANITA BERTANGAN LUMPUH
Berdermalah
selagi kalian mampu
Pada suatu hari pernah seorang wanita yang lumpuh tangan kanannya menghadap
Nabi S.A.W seraya berkata : "Ya Nabiyallah, kumohon sudilah kiranya
baginda memohon kepada Allah SWT agar Dia menyembuhkan tangan kananku yang
lumpuh ini!"
Nabi S.A.W bertanya kepadanya : "Apakah yang menjadikan tanganmu
lumpuh ?"
Maka wanita tadi menceritakan sebab kelumpuhannya :
"Ya, Nabiyallah, pada suatu malam aku bermimpi seakan-akan hari kiamat
telah tiba. Neraka Jahannam yang apinya menyala-nyala tergambar dengan jelas
dalam impianku, begitu juga surga. Namun betapa hati merasa sedih ketika aku
melihat ibuku berada di neraka Jahannam. Dia memegang sepotong lemak dan
selembar kain serbet. Dengan sepotong lemak dan selembar kain serbet itulah
ibuku nampak bersusah payah menghalangi panasnya jilatan api neraka Jahannam.
Maka aku segera menyapa ibuku : "Aduh ibu, mengapa ibu berada di jurang
neraka Jahannam ini ? Padahal setahuku, ibu dulu rajin beribadah kepada Allah
SWT, dan ayahpun nampaknya meridhai kebaktianmu ?"
Ibu : "Wahai anakkku, ketahuilah bahwa ibu dulu terlanjur bersifat
kikir. Maka inilah tempat yang disediakan bagi orang-orang yang kikir!"
Anak : "Apakah arti sepotong lemak dan selembar serbet yang ibu pegang
itu ?"
Ibu : "Anakku, hanya kedua benda itulah yang pernah kudermakan selama
hidup! Selain itu tak ada lagi!"
Anak : "Lalu, sekarang ayah di mana ?"
Ibu : "Wahai anakku, ayahmu dulu seorang yang dermawan. Maka beliau
sekarang berada di surga bersama-sama dengan para dermawan lainnya."
Ya Nabiyallah, setelah itu aku pun segera ke surga menghampiri ayahku.
Ternyata ayah sedang berdiri di sisi telagamu Ya Rasulullah. Disana beliau
membagi-bagikan air minum kepada orang banyak, tetapi ibuku justru dilupakan.
Lalu aku bertanya kepada ayah : "Wahai ayahku, ketahuilah bahwa ibuku
yang juga istri ayah, meskipun dulu sama-sama taat beribadah kepada Allah dan
ayahpun tampaknya meridhai kebaktian ibu, namun kini dia berada di neraka
Jahannam!.
Sementara itu, ayah berada di tempat ini membagi-bagikan minuman dari
telaga Rasulullah S.A.W kepada orang banyak. Dan ayah begitu tega melupakan
ibu. Maka kumohon wahai ayah, berilah segelas air dari telaga ini untuk
kuberikan kepada ibu!"
Kata ayah : "Hai anakku, ketahuilah bahwa Allah SWT telah mengharamkan
orang-orang yang kikir dan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang berdosa
meminum air telaga Rasulullah S.A.W ini!"
Ya Nabiyallah, mendengar jawaban ayah yang melarangku mengambil air dari
telagamu, maka aku nekat mengambil segelas air dari telaga itu tanpa
sepengetahuan ayahku. Lalu aku bermaksud memberikannya kepda ibu yang telah
lama kehausan. Tiba-tiba terdengar suara: "Semoga Allah melumpuhkan
tanganmu, karena kamu telah berani mencuri air dari telaga Rasulullah S.A.W ini
untuk memberikan kepada orang yang kikir lagi berdosa!"
Ya Nabiyallah, usai mendengar suara itu, aku terbangun dari tidurku. Dan
ternyata tanganku menjadi lumpuh seperti ini. Inilah sebab kelumpuhan tangan
kananku, ya Nabiyallah!"
Setelah Nabi S.A.W mendengarkan sebab-sebab kelumpuhan tangan kanan wanita
tersebut, maka beliau S.A.W meletakkan tongkatnya pada tangan wanita itu lalu
berdoa : "Ya Allah, ya Tuhanku, dengan kebenaran mimpi yang diceritakan
oleh wanita ini, maka kumohon sudilah kiranya Engkau berkenan menyembuhkan
tangan kanannya yang menderita kelumpuhan !"
Atas doa Nabi S.A.W itu, sembuhlah tangan kanan wanita itu dari
kelumpuhannya dan pulih seperti sediakala.
SEBENARNYA SYAITAN PENGECUT!
Sebenarnya syaitan itu pengecut.
Syaitan tidak berani bertindak secara terang-terangan. Syaitan hanya bertindak
secara sembunyi-sembunyi dan terhadap insan yang lalai saja. Syaitan amat takut
kepada manusia yang berani, yaitu insan beriman yang mengamalkan zikir dan
bersenjatakan doa.
Syaitan pengecut itu akan mundur menyembunyikan diri apabila ditentang oleh
insan beriman seperti sabda Rasulullah s.a.w. (artinya): "Apabila manusia
menyebut nama Allah, ia (syaitan) akan mundur/lari; dan apabila manusia lalai,
dia akan membisikkan kejahatan."
Surah An-Nas ialah surah yang ke-114 dalam al-Quran. Surah yang terdiri
dari enam ayat ini diturunkan di Mekah setelah turunnya surah al-Falaq. An-nas
artinya "manusia".
TERJEMAHAN SURAH AN-NAS
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah,
lagi Maha Penyayang.
1.Katakanlah (wahai Muhammad):
"Aku berlindung kepada (Allah) pemelihara sekalian manusia,
2.Raja manusia(Yang menguasai
sekalian manusia),
3.Tuhan yang berhak disembah oleh
sekalian manusia,
4.Dari kejahatan pembisik, penghasut
yang timbul tenggelam,*
5.Yang melemparkan bisikan dan hasutannya
ke dalam hati manusia,
6.(Yaitu pembisik dan penghasut)
dari kalangan jin dan manusia.**
*Nota 1: Yakni yang "timbul"
menjalankan bisikan dan hasutannya apabila manusia lalai dari mengingat Allah
dan hukum agamanya, dan "tenggelam" (mundur/lari) pada saat seseorang
ingat kepada Allah dan memikirkan balasan buruk yang disediakan oleh Allah
untuk orang yang melakukan kejahatan (hasil bisikan dan hasutan itu).
**Nota 2: … Surah ini mengajar kita memohon
perlindungan dari bahaya batin yaitu bahaya perasaan waswas (ragu-ragu) dan
ingatan buruk yang datang dr angkaramurka makhluk yang tidak kelihatan pada
kita--(syaitan atau jin), dan dari tipu daya makhluk yang berupa manusia … .
ULASAN
Dengan membaca surah ini kita memohon perlindungan Rabb--Tuhan yang
memelihara, yang memerintah dan yang disembah oleh manusia--agar melindungi
diri kita dari kejahatan syaitan. Syaitan itu--datang dan menghilang,timbul
tenggelam--membisikkan kejahatan di dalam hati manusia.
Maksud hadis, dari Ibnu Abas r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
Syaitan itu duduk (nongkrongi) di atas hati manusia; apabila manusia mengingat
Allah, dia mundur; apabila manusia lalai, dia membisikkan kejahatan.
Hamka (Tafsir Al-Azhar, Juz 29--30,
1984: 296) memetik pandangan Ibnu Qatadah seperti yang berikut:
"Dikeduanya ada syaitannya. Di kalangan jin ada syaitan-suaitan, di
kalangan manusia pun ada syaitan-syaitan."
Jadi, syaitan itu bisa berupa syaitan (sebenarnya) yang tidak bisa dilihat
dan syaitan (jadian) yang berupa manusia. Menurut Ahmad Sonhadji Mohamad dalam
buku Tafsir Al-Quran Juz 30 (1990: 233), "syaitan dari bangsa manusia
lebih jahat dan sangat berbahaya dibanding syaitan dari bangsa jin".
Syed Qutb pula berkata, manusia akan
bersiap sedia mempertahankan diri dari kejahatan syaitan "apabila
seseorang itu menyadari bahwa syaitan yang tidak nampak itu membisikkan
kejahatan di dalam hati manusia secara halus dan tidak dapat dilihat, begitu
juga apabila dia menyadari ada manusia menaburkan kejahatan di dalam hati manusia
sama seperti syaitan yang tidak nampak itu … ."
Menurut Syed Qutb lagi, syaitan
telah mengisytiharkan perang terus-menerus terhadap manusia. Perisytiharan itu
lahir dari tabiat jahat, angkuh, hasad dengki dan dendam kesumatnya terhadap
manusia. Syaitan telah meminta kebenaran dari Allah untuk memerangi manusia,
dan permintaan itu telah dikabulkan oleh Allah karena suatu hikmat yang
diketahui-Nya.
Walau bagaimanapun, Allah menyediakan manusia dengan iman sebagai perisai
untuk menghadapi angkara murka syaitan. Allah menjadikan zikir sebagai
kelengkapan perang untuk manusia menghadapi bala tentera syaitan. Allah telah
membekali manusia dengan doa sebagai senjata yang dapat melindungi manusia dari
godaan syaitan. Seandainya manusia melupakan perisai, kelengkapan dan alat
senjata itu, maka manusia itu sajalah yang patut disalahkan! (Tafsir fi Zilalil
Qur'an, Juz Amma (Jawi), Dian Darulnaim 1988, hlm. 18-19.)
EMPAT GOLONGAN PENGGODA
Menurut
Syed Qutb, terdapat empat golongan penghasut dari kalangan manusia yaitu teman
jahat, provokator/dalang, tukang umpat dan penjual nafsu:
1. Teman jahat
menaburkan kejahatan ke dalam hati dan akal kawannya tanpa disadari;
2.
Provokator/dalang para pejabat membisikkan idea jahat kepada tuannya sehingga
para pejabat itu menzalimi rakyat;
3. Tukang umpat
menggunakan kata-kata yang indah dengan licik sehingga kepalsuan yang
disebarkannya kelihatan seolah-olah benar;
4. Dan penjual
nafsu, dengan gaya yang amat menarik, menyelinap masuk dari pintu naluri tidak
dapat ditolak melainkan dengan kekuatan iman dan pertolongan Allah!
Menurut Syed Qutb lagi, ada hasutan
jahat manusia yang lebih buruk daripada hasutan syaitan. "Di sana terdapat berpuluh-puluh jenis
pembisik kejahatan yang datang dan menghilang, yang membuat perangkap kejahatan
dan menyeludupkannya ke dalam hati manusia. Mereka lebih jahat daripada syaitan
yang tidak nampak dan lebih halus jejak langkahnya”.
DZIKIR HARIAN
1. ASTAGHFIRULLAH
Mari kita berhitung sejenak,
dalam hidup yang sudah kita jalani berapa banyak dosa yang telah kita perbuat
Baik sengaja maupun tidak sengaja yang pasti semua itu dicatat oleh malaikat
Atit ( yang bertugas mencatat dosa manusia ).
Coba kita visualisasikan, seandainya 1 hari kita melakukan dosa 10x maka 20
Th = 3600 x 20 = 72000 Dosa.
Saya yakin bahwa masing-masing dari kita melakukan dosa lebih dari 1x
setiap hari, tentu anda pernah mengalami kejadian dibawah ini :
1. Memandang
wanita/pria yang kedua kalinya ( bukan pandangan pertama ) yang bukan
muhrimnya.
2. Merasa lebih
dengan merendahkan orang lain ( Sombong )
3. Menggunakan
fasilitas/barang milik orang lain tanpa kerelaan pemiliknya ( Ghosab )
Contoh : - Menggunakan pulpen teman yang
tergeletak dimeja tanpa sepengetahuan pemiliknya.
- Memakai sandal
teman tanpa izin pemiliknya Ghosab hukumnya haram yaitu dianggap Mencuri
kategori kecil.
Pernahkah kita sengaja untuk tidak melakukan dosa 1x pun dalam sehari dalam
seumur hidup kita ?,
Pernahkah kita habiskan 1 hari dalam umur kita khusus untuk minta ampun
kepada Allah atas dosa kita ?.
Yang sering kita lakukan justru merencanakan rekreasi menjelang hari libur
yang akan kita lalui.
Allah suka pada orang miskin yang
taat beribadah namun Allah lebih suka pada orang kaya yang taat beribadah
Allah suka pada orang tua yang taat beribadah namun Allah lebih suka pada
orang muda yang taat beribadah.
Rosulullah S.A.W yang dijamin masuk
Surga oleh Allah, diampuni dosa yang sebelum dan sesudahnya
Ber Istighfar ( Mohon Ampun ) dengan mengucap ASTAGHFIRULLAH HAL ADHIM 70x
sehari.
Bagaimana dengan kita yang tiada jaminan dari Allah untuk masuk surga tapi
yang pasti ada jaminam MATI
Setiap saat masih menunda pengucapan istighfar kita, malah supaya lebih
keren lebih suka berkata ASTAGA
Dari pada Astagfirullah. ( Astaga bukanlah istighfar )
Harap saudaraku yang muslim tidak mengucapkan lagi ASTAGA melainkan
Astaghfirullah.
Wahai yang menulis dan yang membaca
!
Tidak pantaskah kalian mengucap Istighfar lebih dari yang dibaca
Junjunganmu Muhammad S.A.W dalam sehari ?
Apakah tidak terdetak dihati kita untuk memulai membaca Istighfar dalam
Dzikir harian kita ? Ya Allah Robbul
Izzati bukakanlah hati kami.
2. LAAILAHA ILLALLAH
Dalam sebuah hadits disebutkan :
MANGKANA AKHIRUU KALAMIHI LAAILAHA ILLALLAH DAKHOLAL JANNAH
Barangsiapa yang diakhir hidupnya mengucap Laailaha Illallah maka akan
dimasukkan syurga.
Sungguh besar makna ucapan tersebut
sehingga bisa dibuat jaminan masuk Syurga. Namun jangan menganggap Ringan untuk
bisa mengucapkan kata itu diakhir hidup kita karena disaat sakaratul maut kita
akan merasakan rasa Sakit yang luar biasa kecuali bagi orang yang mendapat
rahmat dari Allah ( Baca artikel Bila Ajal Mulai Mendekat ).
Untuk itu sering kita jumpai bila ada orang yang akan meninggal keluarganya
akan menuntun ucapan kalimah Laailaha Illallah, Bahkan karena kekhawatiran bagi
yang akan meninggal tidak bisa membaca sepanjang kalimah tersebut Maka hanya
dituntun untuk mengucap Allah.
Kekhawatiran tersebut beralasan bila si Fulan ketika mengucapakan Laaila (
tidak sempat meneruskan ha Illallah )
Kemudian meninggal, maka Insya Allah si Fulan termasuk orang yang murtad
karena Laaila artinya tidak ada tuhan.
Ya Allah matikanlah Kami dalam keadaan Khusnul Khotimah ( akhir hayat yang
baik ).
Sementara Trend kita sering kali
kita mengatakan Duilah ! , sampai ada yang mengucap Laaila ( karena Duilah
terdengar Laaila ) Padahal bila lafadz Laaila diucapkan dengan sengaja maka
yang mengucapkan insya Allah Murtad ( keluar dari Agama islam ) Naudzubillah.
Ada lagi yang lebih suka menyebut
nama ALLAH dengan menyebut Tuhan ( padahal Tuhan itu banyak ) atau Dengan
menyebut nama " yang diatas " padahal bila ditanya apa yang diatas
jawabnya awan, mega, bintang .
Astaghfirullah, tidakkah kita lebih bangga mengucapkan Allah, Al Kholig,
Arrohman, dari pada sebutan diatas ?
Ya Allah berilah kami kekuatan untuk mampu menunjukkan keislaman kami.
Dalam hadits yang lain disebutkan :
AFDLOLUDDZIKRI LAAILAHA ILLALLAH
Dzikir yang utama adalah mengucap Laailaha Illallah.
3. ALKHAMDULILLAH
Tidak satupun manusia di dunia ini yang bisa menghitung nikmat yang
diberikan oleh Allah kepada hambaNya Meskipun seorang maha guru dari negara
yang paling maju sekalipun.
Pernahkah kita memikirkan bahwa rasa Kantuk ( mengantuk ) itu adalah nikmat
dari Allah, coba seandainya Bila manusia tidak mempunyai rasa mengantuk sebelum
tidur mungkin dunia ini tak seindah yang kita rasakan Saat ini, bayangkan
seandainya kita lagi mengendarai Mobil, menaiki anak tangga, menyeberang jalan
dls tiba-tiba kita tertidur.
Bahkan ( maaf ) Kentut sekalipun adalah nikmat meski orang lain yang berada
didekatnya terkena imbas bau yang Tidak sedap. terbiasakah kita mengucap
Alkhamdulillah ketika orang lain mendapat nikmat ?, bagaimana bila teman
Didekat kita mendapat nikmat berupa kentut ?.
Allah berfirman : FAIN TA'UDDU
NIKMATALLAHI LA TUKHSUUHA
Apabila kamu menghitung nikmat Allah
maka tidak akan mampu bagimu.
Sebagai manusia yang berbudi tentu
kita akan mengucapkan terima kasih bila seseorang telah memberi kita sesuatu
Baik berupa barang maupun jasa terlebih pemberian itu tidak mengharap balasan
dari kita lebih Afdhol lagi pemberian itu Dilakukan secara terus menerus tanpa
perlu kita meminta atau mengingatkan lagi.
Demikianlah nikmat yang diberikan Allah kepada hambaNya, sekarang marilah
kita bertanya pada diri sendiri apakah Kita termasuk manusia berbudi luhur.
Yang jelas Allah telah mengingatkan kita dengan Firmannya :
LAINSYAKARTUM LA AZIIDAN NAKUM WALAINKAFARTUM INNA 'ADAABI LASYADID
Apabila kamu bersyukur atas nikmatKU maka akan kutambah nikmat itu padamu
namun apabila kamu Ingkar terhadap nikmatKU sesungguhnya siksaKU amatlah pedih.
Banyak dari kita yang rela mengeluarkan uang untuk berlangganan koran,
majalah sebagai bahan bacaan harian, Yang demikian itu tidaklah salah namun akan
lebih baik bila kita punya bacaan harian yang berorientasi ke Akhirat Yaitu
dengan membaca kalimah Toyyiba ( perkataan yang baik ) seperti Astaghfirullah,
Laa ilaha Ilallah, Alkhamdulillah Dan bacaan lain yang anda sukai dengan jumlah
tertentu dan dilakukan secara istiqomah ( berkesinambungan ).
Kita tidak bisa membaca koran sambil nonton TV, kita tak bisa menyapu
lantai sambil membaca majalah namun Kita bisa membaca kalimat Toyyibah sambil
mengerjakan sesuatu.
BISUL YANG ANEH
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh perubahan yang terjadi pada diriku. Aku lihat
bisul-bisul kecil mulai bermunculan di badanku.
Dan tiap kali aku bertanya kepada teman-teman yang ada disekitarku mereka
selalu menjawab “Nggak, aku tidak melihatnya.
Dimana sih ?? Aku jadi semakin bingung. Aku yang salah lihat atau mereka
yang tidak melihatnya.
Bahkan ketika hari aku melihat bisul itu mulai mengeluarkan nanah. Tiap
kali aku berjumpa dengan teman-temanku aku khawatir bau nanah yang busuk itu
akan tercium oleh mereka, eh?.mereka malah tenang-tenang saja, seakan tidak
melihatnya.
Kadangkala aku tanyakan kepada mereka dengan bergurau (tapi serius), “eh
kamu bau nggak ?! “Mereka malah menjawab, “bau apa ?! Ah?..kamu belum mandi ya
?..?
Mereka tidak membaunya, mereka tidak melihatnya apakah bisul ini memang
hanya mau dilihat olehku saja ?! Sekali waktu karena jengkelnya aku tarik
lengan sahabatku dan aku bawa ke depan kaca di kamarku dan aku tunjukkan bisul
yang sebesar jagung dipipi kiriku, dia malah tertawa mengatakan aku bergurau
dan menghinanya karena dia banyak jerawat. Padahal demi Allah aku melihat bisul
itu dengan jelas.
Aku ingin barang sekali saja ada orang yang bisa melihat bisul itu dan
mengatakan “ya aku melihatnya dan aku mencium baunya yang busuk?..”supaya aku
tahu bahwa bisul itu ada, bahwa aku tahu ini adalah penyakit yang memang
terjadi pada diriku agar aku tahu bahwa aku harus berobat untuk
menyembuhkannya. Tapi betapa sering aku ketemu orang dan sebegitu tidak juga
mereka melihatku dengan cara yang aneh yang menunjukkan mereka mengetahui bisul
yang ada dimukaku ini. Sekali waktu dalam perjalananku, aku pernah berpapasan
dengan orang yang nampaknya tahu akan bisul itu, tapi kenapa dia tidak mau
mengatakannya”Mungkin karena aku tidak cukup berani untuk menanyakan kepadanya
apakah dia melihat bisulku.
Akhirnya aku menyerah. Karena aku melihat setiap kali aku ribut dengan
bisul-bisulku, semakin besar ia jadinya. Maka aku putuskan daripada orang-orang
mengatakan aku gila, lebih baik aku nggak keluar kamar dulu. Memang betul …
..beberapa waktu aku tidak keluar kamar eh… .sedikit-sedikit bisul itu semakin
mengecil.
Akhirnya, aku putuskan untuk bertemu dengan teman-teman di ta’lim dan
mulailah obrolan yang mengasyikkan dengan mereka, tentang perkembangan ta?lim,
tentang betapa perasaan kangen karena ketidak munculanku dan tentu saja berita
terbaru dari sekelilingku.
Tiba-tiba aku merasakan bajuku menjadi sempit sementara lagi-lagi
teman-temanku tenang-tenang saja, seakan mereka tidak melihat badanku yang
menjadi gemuk dengan tiba-tiba. Dengan menahan kekalutan akan apa yang
tiba-tiba terjadi, aku putuskan untuk pulang kembali ke rumah.
Senja itu ketika kudapati diriku termenung di depan jendala kamar sambil
menikmati matahari terbenam, tiba-tiba kurasakan badanku kembali kecil dan
rasanya aku tidak bisa bicara, lidahku kelu tak dapat lagi mengucapkan dzikir
yang biasa kubaca sesudah sholat. Tapi bisul itu tak pernah hilang. Dan dia
selalu membengkak ketika aku sedang kalut.
Dosa sebagai sesuatu yang samar pada beberapa orang karena tertutupnya
kalbu membutuhkan mata yang lain untuk melihatnya. Dosa besar sebagai sesuatu
yang nyata dan telah disebutkan dengan jelas nash-nya dalam al Qur?an mungkin
sesuatu yang kita boleh jadi bisa langsung melihatnya. Tapi bagaimana dengan
dosa2 kecil ?! kadangkala kita melakukannya tapi kita tidak menyadarinya.
Ketika kita melihat dengan menggunakan mata yang lain kita dapati ia telah
menjadi sebuah borok/bisul dalam diri kita.
Dan karena keterbatasan dan masih kurang percayanya kita dengan apa yang
kita lihat (akal kita melakukan justifikasi bahwa itu kan sedikit, itu kan
tidak apa-apa, itu kan nggak sengaja dan seterusnya) kita berusaha memastikan
dengan menanyakan kepada orang-orang disekeliling kita, apa betul sih ada
bisul/dosa2 kecil itu yang telah kita lakukan.
Justifikasi ini tidak akan pernah memuaskan mata yang lain yang melihatnya.
Karena boleh jadi lingkungan mengatakan tidak-tidak apa-apa, nggak salah. Aku
nggak melihat itu sebagai dosa. Tapi mata yang lain melihat bisul itu dengan
jelas dan itu dipertegas dengan adanya cermin yang kita pakai untuk
memastikannya. Justifikasi ini tentunya menunjukkan lingkungan dan teman yang
bagaimana yang kita pilih untuk melakukan justifikasi tersebut.
Maka ketika kita melakukan isolasi diri/seklusi sebagai bentuk
introspeksi/muhasabah maka kesempatan untuk mengurangi dosa2 kecil itu bisa
kita lakukan dan dzikir (lisan/kalbu) yang kita lakukan dalam kesendirian itu
bisa menghapus dosa-dosa keci tsb.
Ketika kita telah berinteraksi lagi dengan sekeliling kita sekalipun teman2
dimajelis taklim dosa2 kecil itu bisa saja muncul tanpa kita sadari. Ketika
mereka mengatakan kangen nggak ketemu kita, dan kita merasa bangga tiba-tiba
terbersit pikiran bahwa kita jadi orang penting nich. Dan itu mereka nggak tahu
hanya mata yang lain yang mengetahuinya. Itulah mata hati kita dia melihat
tubuh kita yang tiba2 menjadi besar dan dada kita terbusung.
Tapi justru ketika kita melihat senja dalam kesunyian dan tidak mampunya
lidah kita mengeluarkan ungkapan dzikir menunjukkan adanya pengakuan hati (yang
itu tidak membutuhkan gerakan lidah) kita justru menyadari (lahir batin) akan
kebesaran Allah dan inilah yang mampu mengembalikan kita pada posisi kita
sebagai manusia “yang tidak lebih hanya hamba sahaya saja.
SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang akan ikut mayat adalah tiga:
keluarga, hartanya, dan amalnya.
Ada dua yang kembali dan satu tinggal bersamanya; keluarga dan hartanya
akan kembali sementara amalnya akan tinggal bersamanya.
Ketika roh meninggalkan jasad…
terdengar suara dari langit memekik,
"Wahai Polan anak si Polan !!! :
Apakah kau yang telah meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu?
Apakah kau yang telah menumpuk harta kekayaan, atau kekayaan yang telah
menumpukmu ?
Apakah kau yang telah menumpuk dunia, atau dunia yang telah menumpukmu ?
Apakah kau yang telah mengubur dunia, atau dunia yang telah
menguburmu?."
Ketika mayat tergeletak akan
dimandikan terdengar dari langit suara memekik,
"Wahai Polan anak si Polan !!! :
Mana badanmu yang dahulunya kuat, mengapa kini terkulai lemah ?
Mana lisanmu yang dahulunya fasih, mengapa kini bungkam tak bersuara ?
Mana telingamu yang dahulunya mendengar, mengapa kini tuli dari seribu
bahasa ?
Mana sahabat-sahabatmu yang dahulunya setia, mengapa kini raib tak bersuara
?
Ketika mayat siap dikafan… suara
dari langit terdengar memekik :
Wahai Polan anak si Polan berbahagialah apabila kau bersahabat dengan ridha
Allah Celakalah apabila kau bersahabat dengan murka Allah….
Wahai Polan anak si Polan kini kau tengah berada dalam sebuah perjalanan
nun jauh tanpa bekal kau telah keluar dari rumahmu dan tidak akan kembali
selamanya kini kau tengah safar pada sebuah tujuan yang penuh pertanyaan."
Ketika mayat diusung… . terdengar
dari langit suara memekik
"Wahai Polan anak si Polan !!! :
Berbahagialah apabila amalmu adalah kebajikan
Berbahagialah apabila matimu diawali tobat
Berbahagialah apabila hidupmu penuh dengan taat."
Ketika mayat siap dishalatkan
terdengar dari langit suara memekik :
“Wahai Polan anak si Polan !!!:
Setiap pekerjaan yang kau lakukan kelak kau lihat hasilnya di akhirat
Apabila baik maka kau akan melihatnya baik
Apabila buruk, kau akan melihatnya buruk."
Ketika mayat dibaringkan di liang
lahat terdengar suara memekik dari langit,
"Wahai Polan anak si Polan apa yang telah kau siapkan dari rumahmu
yang luas di dunia untuk kehidupan yang penuh gelap gulita di sini wahai Polan
anak si Polan ……
Dahulu kau tertawa, kini dalam perutku kau menangis
Dahulu kau bergembira, kini dalam perutku kau berduka
Dahulu kau bertutur kata, kini dalam perutku kau bungkam seribu
bahasa."
Ketika semua manusia meninggalkannya
sendirian… .
Allah berkata kepadanya, "Wahai hamba-Ku… .. kini kau tinggal seorang
diri tiada teman dan tiada kerabat di sebuah tempat kecil, sempit dan gelap..
mereka pergi meninggalkanmu seorang diri padahal, karena mereka kau pernah
langgar perintahku hari ini,… . akan kutunjukan kepadamu kasih sayang-Ku yang
akan takjub seisi alam aku akan menyayangimu lebih dari kasih sayang seorang
ibu pada anaknya.
Kepada jiwa-jiwa yang tenang Allah
berfirman, "Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhai-Nya maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan
masuklah ke dalam jannah-Ku
PENCERAHAN
Hadis riwayat Abu Hurairah ra. ia berkata,Rasulullah S.A.W . bersabda,
Janganlah kamu berpuasa satu atau dua hari menjelang Ramadan, kecuali bagi
orang-orang yang memang biasa berpuasa. Maka baginya diperbolehkan.
Hadis riwayat Ummi Salamah ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . pernah
bersumpah tidak akan menemui sebagian istri-istrinya selama sebulan. Namun baru
dua puluh sembilan hari berlalu, beliau sudah menemui mereka. Kemudian beliau
ditanya, Wahai Nabi! Engkau sudah bersumpah tidak akan menemui kami selama satu
bulan. Mendengar itu Nabi S.A.W . bersabda, Sesungguhnya sebulan itu ada dua
puluh sembilan hari.
Hadis riwayat Sahl bin Saad ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . bersabda,
Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat pintu yang bernama Rayyan. Orang-orang
yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada hari kiamat kelak.
Tidak boleh masuk seorangpun selain mereka. Kelak akan ada pengumuman, Di
manakah tempat orang-orang yang berpuasa ? Mereka berduyun-duyun masuk lewat
pintu tersebut. Ketika orang yang terakhir sudah masuk, maka pintu tadi ditutup
kembali.
Sehingga dengan begitu tidak akan ada lagi orang yang masuk lewat pintu
tadi
Hadis riwayat Ibnu Umar ra. bahwa, Ada sekelompok orang dari sahabat
Rasulullah S.A.W . bermimpi melihat Lailatulkadar pada hari ke tujuh yang
terakhir. Ketika dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W , beliau bersabda, Menurut
saya mimpi kalian pasti bertepatan dengan hari ke tujuh terakhir.
Oleh karena itu barangsiapa yang ingin mencarinya, hendaklah dia cari pada
hari ke tujuh yang terakhir tersebut.
Hadis riwayat Abu Said Al Khudri ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . pernah
melakukan iktikaf (berdiam di dalam mesjid) selama sepuluh hari pertengahan
bulan Ramadan.
Manakala selama waktu dua puluh malam telah berlalu dan memasuki hari atau
malam yang kedua puluh satu, beliau pulang ke rumahnya. Para sahabat yang
beriktikaf bersama beliau juga ikut pulang. Setelah menyuruh atau mengajak
mereka untuk selalu tabah terhadap kehendak Allah, beliau bersabda, Sesungguhnya
aku telah melakukan iktikaf pada sepuluh hari dan aku lanjutkan pada sepuluh
hari berikutnya. Oleh sebab itu barangsiapa yang ingin melanjutkan iktikaf
bersamaku, maka sebaiknya dia tetap tinggal di tempat iktikafnya. Sebetulnya
aku telah bermimpi melihat Lailatulkadar, namun aku lupa kapan waktunya.
Maka carilah ia pada sepuluh hari yang terakhir, yaitu pada tiap bilangan
ganjil. Pada waktu itulah aku yakin bahwa aku sedang sujud pada air dan lumpur.
Abu Said Al Khudri ra. mengatakan, Kami tersiram air hujan pada malam hari yang
kedua puluh satu. Begitu pula dengan tempat salat Rasulullah S.A.W . Juga
terkena tetesan air hujan dari celah-celah atap mesjid.
Kemudian setelah beliau mengerjakan salat Subuh, aku pandang wajah beliau
basah terkena lumpur dan air.
Hadis riwayat Aisyah ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . bersabda, Carilah
Lailatulkadar itu pada sepuluh hari yang terakir di bulan Ramadan.
Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . bersabda,
Aku didatangi Buraq, lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku
mengikatnya di pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para
nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah
aku keluar, Jibril as. datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi
susu. Aku memilih susu, Jibril berkata, Engkau telah memilih fitrah (Islam dan
istiqamah). Kemudian Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta
dibukakan, ada yang bertanya, Siapakah engkau ? Dijawab, Jibril. Ditanya lagi,
Siapa yang bersamamu ? Jibril menjawab, Muhammad. Ditanya, Apakah dia telah
diutus ? Jawab Jibril, Ya, dia telah diutus, pintupun dibukakan bagi kami. Aku
bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.
Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua.
Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapakah engkau ? Jawab
Jibril, Jibril. Ditanya lagi, Siapakah yang bersamamu ? Jawabnya, Muhammad.
Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Jawabnya, Dia telah diutus, pintupun dibuka
untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as.
Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke
langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa engkau ?
Dijawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Muhammad S.A.W . jawabnya.
Ditanyakan, Dia telah diutus ? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka
untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Sungguh nampak bahwa dia dikaruniai
keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke
langit keempat.
Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa ini ? Jibril menjawab,
Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya, Apakah
dia telah diutus ? Jibril menjawab, Dia telah diutus, pintupun dibukakan.
Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan
kebaikan. Allah Taala berfirman (Kami mengangkatnya pada tempat
"martabat" yang tinggi). Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril
minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa ? Dijawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa
bersamamu ? Dijawab, Muhammad. Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Dijawab, Dia
telah diutus, pintupun dibukakan buat kami. Di sana aku bertemu Nabi Harun as.
Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit
keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa ini ? Jawabnya,
Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya, Apakah
dia telah diutus ? Jawabnya, Dia telah diutus. Kami dipersilahkan masuk. Di
sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril
membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang
bertanya, Siapa ini ? Jawabnya, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ?
Jawabnya, Muhammad. Ditanyakan, Apakah dia telah diutus ? Jawabnya, Dia telah
diutus, kamipun dipersilahkan masuk. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim
as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada
tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana.
Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti
kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah,
Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi
berubah, sehingga tak seorangpun di antara makhluk Allah mampu melukiskan
keindahannya. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat
lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi Musa as,
dia bertanya, Apa yang telah diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu ? Aku menjawab,
Salat lima puluh kali. Dia berkata, Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah
keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku telah pernah
mencobanya pada Bani Israel. Akupun kembali kepada Tuhanku dan berkata, Wahai
Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Allah memotong lima salat dan aku
kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan, Allah telah mengurangi lima waktu
salat. Dia berkata, Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu, kembalilah
kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi.
Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai
Allah berfirman, Hai Muhammad. Inilah kewajiban lima salat sehari semalam,
setiap salat mempunyai nilai sepuluh, dengan demikian, lima salat sama dengan
lima puluh salat. Siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak
melaksanakannya, maka baginya dicatat satu kebaikan, jika dia
melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan. Sebaliknya siapa yang
berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka
tidak dicatat apa-apa, jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu
kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as, lalu aku beritahukan
padanya. Dia masih saja berkata, kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah
keringanan. Aku
menyahut, Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu
kepada-Nya Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 234
Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., Dari Rasulullah S.A.W . tentang apa yang
diriwayatkan oleh beliau dari Allah Taala bahwa, Allah berfirman, Sesungguhnya
Allah mencatat kebaikan dan kejelekan.
Kemudian Beliau (Rasulullah) menerangkan, Siapa saja yang berniat melakukan
kebaikan, tetapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat niat itu
sebagai kebaikan yang sempurna. Jika dia meniatkan perbuatan baik dan
mengerjakannya, maka Allah mencatat sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus
kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak. Kalau dia berniat melakukan
perbuatan jelek tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat hal itu
sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika dia meniatkan perbuatan jelek itu,
lalu melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan
GHIBAH DAN PUASA
Dari 'Ubaid r.a, dia berkata : "Di masa Rasulullah S.A.W , beliau
memerintahkan orang-orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa.
Saat itu ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena
lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus
seseorang menghadap Rasulullah S.A.W , untuk memintakan izin bagi keduanya agar
diperbolehkan menghentikan puasa mereka.
Sesampainya utusan tsb kepada Rasulullah S.A.W , beliau memberikan sebuah
mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya
memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu.
Ternyata kedua wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk
tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan
Rasulullah S.A.W bersabda : "Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan
yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang
diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang
lain. Maka itulah 'daging-daging' mereka yang dipergunjingkan." (Hadits
Riwayat Ahmad)
“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu
dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)
"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan
banyak memakan yang haram." (Al-Qur'an Surat Al-Maidah : 42)
Allah SWT berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu
menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. " (Al-Qur'an Surat Al-Hujuraat:12)
SUDAHKAH KITA
MENJAGA PUASA KITA?
Rasulullah S.A.W bersabda : "Puasa adalah perisai (tabir penghalang
dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa,
janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat
jahil." (Hadits Riwayat Bukhari - Muslim)
"Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah
(menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat."
(Hadits Riwayat Al-Azdiy)
"Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta
selama berpuasa, maka Allah SWT tidak berhajat kepada puasanya." (Hadits
Riwayat
Bukhari)
“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutu
dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)
"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari
puasanya itu kecuali haus dan lapar." (Hadits Riwayat Turmudzi)
Imam Al-Ghazali berkata : "Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia
tidak mendapatkan dari puasanya itu, selain lapar dan haus. Sebab puasa itu
bukanlah semata-mata menahan lapar dan haus, akan tetapi adalah menahan hawa
nafsu. Boleh jadi orang tersebut berdusta, menggunjing dan memandang dengan
syahwat, sehingga yang demikian itu membatalkan hakikat puasa." (Ihya'
Ulumiddin)
Para Ulama berkata: "Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia
berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia
berpuasa." Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah
menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan
minum. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan
perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain."
(Ihya' Ulumiddin)
Rasulullah S.A.W bersabda : "Sesungguhnya puasa itu adalah amanah,
maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanahnya." (Hadits Riwayat
Al-Kharaithy)
Sudahkah kita menjaga puasa kita?
HUKUM GHIBAH
Apakah ghibah itu ? yaitu mengucapkan perkataan (atau dengan gerak badan,
mata, tulisan dsbnya) sesuatu yang tidak disukai pada diri orang lain. Termasuk
yang tidak disenangi itu ada pada badannya, tingkah laku, agamanya dan
sebagainya.
Menurut al-Ghazali, definisi ini adalah yang telah diijma'kan oleh kaum
muslimin (tiada seorangpun menolak). Maksudnya, mereka bersepakat mengatakan
bahwa inilah definasi ghibah.
Ghibah, dalam bahasa indonesia lebih dikenal dengan kata mengumpat. Yaitu
menceritakan keburukkan orang lain di belakangnya.
Hukum Ghibah
Umat Islam seluruhnya juga telah ijma' mengatakan bahwa hukum ghibah adalah
haram. Sebagian dalilnya ada termaktub pada ayat al-Quran dan hadis. Rasulullah
s.a.w. bersabda : orang yang mengutuk orang Islam yang lain adalah fasik (melakukan maksiat )
Dan siksaannya amat berat sekali, karena ia adalah termasuk diantara
dosa-dosa besar. Dalam sebuah hadis diceritakan Ada 2 orang yang akan menerima
siksa di alam kubur yaitu:
1. Orang yang suka menyampaikan aib orang lain
2. Orang yang tidak bersuci ( sucinya tidak sempurna ) sehabis buang air
kecil (kencing ).
Namimah
Adalah mengadu domba yaitu menyampaikan perkataan orang lain kepada yang
lainnya dengan maksud kedua belah pihak berkelahi.
Jadi, apabila hukum ghibah dan namimah itu haram, maka menasehati orang
yang melakukan ghibah adalah wajib.
Dalam menghadapi kemungkaran ada 3 hal yang harus kita lakukan menurut
aturan agama kita, yaitu :
1. Hentikan dengan kekuasaan bila kita punya kuasa.
2. Cegah dengan perkataan
3. Tolak dengan hati
Namun sesungguhnya bila kita hanya mampu melakukan yang no 3 adalah
termasuk orang yang lemah imannya.
Ghibah yang diperbolehkan
Hukum ghibah adalah haram. Ini adalah hukum asal. Atas alasan-alasan syarak
ghibah diperbolehkan. Apakah alasan syarak itu. yaitu ingin mencapai satu
tujuan yang benar menurut pertimbangan syarak, di mana jika tidak melalui cara
itu tujuan itu tak mungkin akan tercapai. Walaupun demikian, jika ada cara lain
yang lebih baik sebaiknya ghibah ditinggalkan.
Dalam masalah yang anda hadapi, saudara ingin membela diri. maka dibenarkan
jika:
a) atas tujuan yang dibenarkan oleh syarak
b) Jika tiada jalan lain melainkan dengan membuka aib orang lain.
Contohnya, saudara telah dituduh mencuri, sedangkan saudara tahu siapa yang
mencuri. Saudara terpaksa mempertahankan diri dengan berkata benar. Ini biasa
berlaku di pengadilan.
Pengadilan terpaksa membuka aib mereka yang terlibat untuk tujuan yang
dibenarkan oleh syarak, yaitu membuktikan benar atau salahnya orang yang
dituduh.
Di bawah ini ada lima perkara yang diperbolehkan ghibah.
1. Ingin mengadu kepada hakim, polisi, tokoh masyarakat dsbnya karena
teraniaya.
Kita terpaksa
membuka kedzaliman yang telah dilakukan pada diri kita dengan membuka aib
Pelaku sehingga keadilan bisa ditegakkan.
2. Ingin mencegah kemungkaran dan kemaksiatan yang akan terjadi.
Keburukan si
pelaku maksiat boleh diceritakan dengan harapan dapat menghindarkan orang lain
Ikut melakukan kemaksiatan.
3. Meminta fatwa / nasehat dari Ulama.
Seorang istri
bisa menceritakan perlakuan jelek suaminya karena sering memukul, tidak diberi
nafkah dengan harapan mendapat nasehat dari ulama
4. Mencela orang yang secara terang-terangan melakukan kefasikkan, dan
kezaliman.
Contoh: seorang
yang secara terang-terangan meminum arak, berjudi, melaksanakan maksiat. Yang
dibenarkan hanyalah menyebutkan kemaksiatan yang dilakukan secara
terang-terangan itu saja. Dan diharamkan menyebutkan aib-aib lain.
5. Untuk mengenalkan seseorang.
Jika seseorang
itu memang dikenal dengan julukan si pincang, si buta dan sebagainya, boleh
menyebutkan julukan itu dengan niat mengenalkan. Haram jika dengan niat
mencemooh, namum demikian selagi dapat mengenalkan dengan tidak menyebut
julukan maka kenalkan dengan cara tersebut.
Firman Allah Taala:
"Allah tidak suka kepada perkataan yang tidak baik diperdengarkan,
kecuali dari orang-orang yang teraniaya… " (al-Nisaa', ayat 148)
Hadis: "Aisyah r.a. berkata: Seseorang datang minta izin kepada nabi
s.a.w. (masuk ke rumah). Lalu nabi s.a.w. bersabda: Izinkanlah. Dia adalah
sejahat-jahat orang di kalangan kaumnya." (riwayat Bukhari & Muslim)
Hadis: "Aisyah r.a. berkata:
Hindun binti Uthbah (isteri Abu Sufian) berkata kepada nabi s.a.w.:
Sesungguhnya Abu Sufian seorang yang pelit dan tidak memberi belanja yang cukup
kepada ku dan anak-anakku, kecuali kalau saya ambil di luar pengetahuannya.
Nabi s.a.w. menjawab: Ambillah secukupmu dan anak-anakmu dengan
sederhana." (Riwayat Bukhari & Muslim)
Hadis: "Fatimah binti Qais berkata: Saya datang kepada Nabi s.a.w.
bertanya tentang dua orang yang meminang saya,yaitu Abu Jahm dan Muawiyah. Maka
Nabi s.a.w. bersabda: Adapun Muawiyah, dia adalah seorang yang miskin, dan Abu
Jahm, dia adalah seorang yang suka memukul isteri." (Riwayat Bukhari &
Muslim)
Hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. telah menceritakan keburukan
orang lain untuk mencapai tujuan yang dibenarkan oleh syarak. Dan tiada pilihan
lain melainkan memberitahu aib orang tersebut.
JIBRIL BERDOA MUHAMMAD MENG-AMINKAN
Kisah ini terjadi pada diri Rasulallah dan para sahabatnya. Saat itu malam
hari raya Iedul Fitri seperti biasanya Rasul dan para sahabat membaca
Takbir,Tahmid dan Tahlil di Masjidil Haram.
Saat sedang bertakbir, tiba- tiba rasulallah keluar dari kelompok dan
menepih kearah dinding. Kemudian Rasullah mengangkat kedua tangannya ( layaknya
orang berdoa ) saat itu Rasul mengatakan amin sampai tiga kali.
Setelah Rasul mengusapkan kedua tangan diwajahnya ( layaknya orang selesai
berdoa ) para sahabat mendekat dan bertanya : Ya Rasul apa yang terjadi
sehingga engkau mengangkat kedua belah tanganmu sambil mengatakan amien sampai
tiga kali ?
Jawab Rasul : Tadi saya didatangi Jibril dan meminta saya mengaminkan doanya.?
Apa gerangan doa yang dibacakan Jibril itu ya Rasul ? tanya sahabat
kemudian Rasul menjawab : Kalau kalian ingin tahu inilah doa yang disampaikan
Jibril dan saya mengaminkan? :
1. Ya Allah ya
Tuhan kami Janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan
apabila dia masih bersalah kepada orang tuanya dan belum dimaafkan?. Rasul
mengatakan Amien
2. Ya Allah ya
Tuhan kami Janganlah diterima amal ibadah kaum muslimin selama bulan Ramadhan
apabila suami isteri masih berselisih dan belum saling memaafkan.? Rasul
mengatakan amien
3. Ya Allah ya
Tuhan kami janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan
apabila dia dengan tetangga dan kerabatnya masih berselisih dan belum saling
Memaafkan.? Rasul mengatakan amien
Demikianlah doa yang dibaca Jibril sehingga Rasul mengaminkan sampai tiga
kali. Namun disini ada 4 Faktor yang membuat doa tersebut pasti dikabulkan
Allah yaitu:
1. Yang berdoa
Jibril Mahluk yang sejak diciptakan tidak pernah membantah dan berbuat dosa
kepada Allah
2. Yang
mengaminkan doa tersebut Muhammad manusia Ma?sum yang telah diampuni semua
dosanya
3. Tempat berdoa
adalah Masjidilharam tempat yang mendapat berkah dari Allah
4. Waktu berdoa
adalah malam iedul fitri yaitu satu diantara sepuluh malam jika kita berdoa
langsung di ijabah oleh Allah.
Jadi jika kita ingin Amal
ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima Allah maka hindarilah tiga yang
diatas. Karena selama tiga persoalan diatas belum diselesaikan maka amal ibadah
kita selama bulan ramadhan masih dipending oleh Allah sampai kita
menyelesaikannya.
Dikisahkan oleh Buhari Muslim dari Huzaifah dan Anas r.a
Rasulullah S.A.W bersabda maksudnya: "Siapa yang menjurusi satu jalan
untuk mencari ilmu nescaya Allah akan mempermudahkan padanya jalan ke
syurga." (Sahih Muslim)
DAPAT PAHALA HAJI MABRUR, TAPI TIDAK HAJI
Sa'id Ibnu Muhafah, Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala haji mabrur,
padahal ia tidak haji, suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji.
Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat
dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
"Rasannya orang yang menunaikan
haji tahun ini, banyak sekali" Komentar salah satu Malaikat
"Betul" Jawab yang lainya.
"Berapa kira - kira jumlah keseluruhan?"
"Tujuh ratus ribu"
"Pantas"
"Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira - kira yang
mabrur",
Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang - orang haji tahun itu
"Wah, itu sih urusan Allah"
"Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur"
"Kenapa?"
"Macam - macam, ada yang karena riyak, ada yang tetangganya lebih
memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah
berkali kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab
lainnya'
"Terus?"
"Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun
ini"
"Lho katannya tidak ada"
"Ya, karena orangnya tidak naik haji"
"Kok bisa"
"Begitulah"
"Siapa orang tersebut?"
"Said bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq"
Mendengar ucapan itu, Hasan
Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir,
Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari
tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol
sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa'id bin
Muhafah.
"Ada, ditepi kota" Jawab salah seorang sol sepatu sambil
menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu
yang berpakaian lusuh,
"Benarkah anda bernama Sa'id bin Muhafah?" tanya Hasan Al-Basyri
"Betul, kenapa?"
Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya,
akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. "Sekarang saya tanya, adakah
sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji
mabrur, barang kali mimpi itu benar" selidik Hasan Al-Basyri sambil
mengakhiri ceritanya.
"Saya sendiri tidak tahu, yang
pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk
menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari
hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya
kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul"
"Tapi anda tidak berangkat haji"
"Benar"
"Kenapa?"
"Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu
dia ngidam berat"
"Terus?"
"Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya
cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu
ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin
daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya
bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.
Akhirnya saya tanya kenapa?.. "daging ini halal intuk kami dan haram
untuk tuan" katanya
"Kenapa?" tanyaku lagi ,
"Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah
halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,"
Jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut sepontan saya menangis, lalu saya pulang, saya
ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya uang bekal
hajiku kuberikan semuanya untuk dia"
Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa menahan air
mata."Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya" Ucapnya.
Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Egypt
Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi
renungan.
KISAH BERPISAHNYA ROH DARI JASAD
Dalam sebuah hadith daripada Aisyah r.a katanya, "Aku sedang duduk
bersila di dalam rumah. Tiba-tiba Rasulullah S.A.W datang dan masuk sambil
memberi salam kepadaku. Aku segera bangun kerana menghormati dan memuliakannya
sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi S.A.W
bersabda, "Duduklah di tempat duduk, tidak usahlah berdiri, wahai Ummul
Mukminin." Maka Rasulullah S.A.W duduk sambil meletakkan kepalanya di
pangkuanku, lalu baginda berbaring dan tertidur.
Maka aku hilangkan uban pada janggutnya, dan aku dapat 19 rambut yang sudah
putih. Maka terfikirlah dalam hatiku dan aku berkata, "Sesungguhnya
baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku sehingga tetaplah satu umat
yang ditinggalkan olehnya nabinya." Maka aku menangis sehingga mengalir air
mataku jatuh menitis pada wajah baginda.
Baginda terbangun dari tidurnya seraya bertanya, "Apakah sebabnya
sehingga engkau menangis wahai Ummul Mukminin?" Masa aku ceritakan kisah
tadi kepadanya, lalu Rasulullah S.A.W bertanya, "Keadaan bagaimanakah yang
hebat bagi mayat?" Kataku, "Tunjukkan wahai Rasulullah!"
Rasulullah S.A.W berkata, "Engkaulah katakan!," Jawab Aisyah r.a
: "Tidak ada keadaan lebih hebat bagi mayat ketika keluarnya mayat dari
rumahnya di mana anak-anaknya sama-sama bersedih hati di belakangnya. Mereka
sama-sama berkata, "Aduhai ayah, aduhai ibu! Ayahnya pula mengatakan:
"Aduhai anak!"
Rasulullah S.A.W bertanya lagi: "Itu juga termasuk hebat. Maka,
manakah lagi yang lebih hebat daripada itu?" Jawab Aisyah r.a :
"Tidak ada hal yang lebih hebat daripada mayat ketika ia diletakkan ke
dalam liang lahad dan ditimbuni tanah ke atasnya. Kaum kerabat semuanya
kembali. Begitu pula dengan anak-anak dan para kekasihnya semuanya kembali,
mereka menyerahkan kepada Allah berserta dengan segala amal perbuatannya."
Rasulullah S.A.W bertanya lagi, "Adakah lagi yang lebih hebat daripada
itu?" Jawab Aisyah, "Hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih
tahu."
Maka bersabda Rasulullah S.A.W : "Wahai Aisyah, sesungguhnya
sehebat-hebat keadaan mayat ialah ketika orang yang memandikan masuk ke
rumahnya untuk emmandikannya. Maka keluarlah cincin di masa remaja dari
jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian pengantin dari badannya. Bagi para
pemimpin dan fuqaha, sama melepaskan serban dari kepalanya untuk dimandikan.
Di kala itu rohnya memanggil, ketika ia melihat mayat dalam keadaan
telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengar kecuali jin dan manusia
yang tidak mendengar. Maka berkata roh, "Wahai orang yang memandikan, aku
minta kepadamu kerana Allah, lepaskanlah pakaianku dengan perlahan-lahan sebab
di saat ini aku berehat dari kesakitan sakaratul maut." Dan apabila air
disiram maka akan berkata mayat, "Wahai orang yang memandikan akan roh
Allah, janganlah engkau menyiram air dalam keadaan yang panas dan janganlah
pula dalam keadaan sejuk kerana tubuhku terbakar dari sebab lepasnya roh,"
Dan jika merea memandikan, maka berkata roh: "Demi Allah, wahai orang yang
memandikan, janganlah engkau gosok tubuhku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka
dengan keluarnya roh."
Apabila telah selesai dari dimandikan dan diletakkan pada kafan serta
tempat kedua telapaknya sudah diikat, maka mayat memanggil, "Wahai orang
yang memandikanku, janganlah engkau kuat-kuatkan dalam mengafani kepalaku
sehingga aku dapat melihat wajah anak-anakku dan kaum keluargaku sebab ini
adalah penglihatan terakhirku pada mereka. Adapun pada hari ini aku dipisahkan
dari mereka dan aku tidakakan dapat berjumpa lagi sehingga hari kiamat."
Apabila mayat dikeluarkan dari rumah, maka mayat akan menyeru, "Demi Allah,
wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda, maka janganlah
kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, janganlah menyakiti mereka.
Sesungguhnya pada hari ini aku akan dikeluarkan dari rumahku dan meninggalkan
segala yang kucintai dan aku tidak lagi akan kembali untuk
selama-lamanya."
Apabila mayat diletakkan ke dalam keranda, maka berkata lagi mayat,
"Demi Allah, wahai jemaahku, janganlah kamu percepatkan aku sehingga aku
mendengar suara ahliku, anak-anakku dan kaum keluargaku. Sesungguhnya hari ini
ialah hari perpisahanku dengan mereka sehingga hari kiamat."
BALASAN MENINGGALKAN SOLAT
Diriwayatkan bahawa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama
para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan
menangis.
Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun
berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?"
Maka berkata orang muda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah
meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak
memandikannya."
Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang
muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar
r.a dan Umar r.a. mendapati ayah orang mudah itu telah bertukar rupa menjadi
babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W,
"Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi
babi hutan yang hitam."
Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda
dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar
kepada bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat
menyembahyangkan mayat tersebut.
Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi
seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda
itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu
dia di dunia dulu?"
Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan
solat." Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku,
lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sholat. Di hari kiamat nanti akan
dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."
Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu
mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka
membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher
mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka cuba
membunuh ular itu.
Apabila mereka cuba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut,
"Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, menagapakah kamu semua hendak
membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang
memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat."
Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan
oleh mayat ini?"
Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya
:"
1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sholat
berjamaah.
2. Dia tidak mau keluarkan zakat hartanya.
3. Dia tidak mau mendengar nasihat para ulama.
Maka inilah balasannya.
12 AZAB BAGI MEREKA YANG MENINGGALKAN SHOLAT
Dalam sebuah hadis menerangkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda :
"Barang siapa yang mengabaikan solat secara berjemaah maka Allah S.W.T
akan mengenakan 12 tindakan yang merbahaya ke atasnya. Tiga darinya akan
dirasainya semasa di dunia ini antaranya :-
1) Allah S.W.T akan menghilangkan berkat dari usahanya dan begitu juga
terhadap rezekinya.
2) Allah S.W.T mencabut nur orang-orang mukmin daripadanya.
3) Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.
Tiga macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya :
4) Ruh dicabut ketika dia di dalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah
meminum seluruh air laut.
5) Dia akan merasa yang amat pedih ketika ruh dicabut keluar.
6) Dia akan dirisaukan akan hilang imannya.
Tiga macam bahaya yang akan
dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :-
7) Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat mungkar dan nakir yang
sangat menggerunkan.
8) Kuburnya akan menjadi cukup gelap.
9) Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti
jari bertemu jari).
Tiga lagi azab nanti di hari kiamat,
antaranya :
10) Hisab ke atsanya menjadi sangat berat.
11) Allah S.W.T sangat murka kepadanya.
12) Allah S.W.T akan menyiksanya dengan api neraka.
10 JENIS SOLAT YANG TIDAK
DITERIMA OLEH ALLAH S.W.T
Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud : "Sesiapa yang
memelihara solat, maka solat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan
selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara solat, maka sesungguhnya solat
itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat
baginya." (Tabyinul Mahaarim)
Rasulullah S.A.W telah bersabda bahawa : "10 orang solatnya tidak
diterima oleh Allah S.W.T, antaranya :
1. Orang lelaki yang solat sendirian tanpa membaca sesuatu.
2. Orang lelaki yang mengerjakan solat tetapi tidak mengeluarkan zakat.
3. Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum
membencinya.
4. Orang lelaki yang melarikan diri.
5. Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (Taubat).
6. Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.
7. Orang perempuan yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung.
8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.
9. Orang-orang yang suka makan riba'.
10. Orang yang
solatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan
mungkar."
Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud : "Barang siapa yang solatnya
itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka
sesungguhnya solatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah S.W.T dan jauh dari
Allah."
Hassan r.a berkata : "Kalau solat kamu itu tidak dapat menahan kamu
dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap
orang yang tidak mengerjakan solat. Dan pada hari kiamat nanti solatmu itu akan
dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang
buruk."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar