A.
Pengertian (definisi) Pondok Pesantren.
Untuk memperoleh pengertian tentang Pondok Pesantren,
kita tidak usah membuat analisa terlalu mendalam dengan meninjau sejarah pondok
terlalu jauh sampai ke zaman kuno. Untuk itu cukuplah kiranya apabila kita memperhatikan
perkembangan agama Islam ditanah air kita, sekitar abad kita ini (sekitar
100-200 tahun yg lalu), yaitu pada waktu lembaga yang kita sebut sebagai
“Pondok Pesantren” dengan jelas menunjukkan peranannya yang sangat penting
dalam penyiaran agama Islam.
Maka dengan demikian pengertian Pondok Pesantren
menurut para orientalis, seperti Snouck Hurgrounche, yang hanya memperhatikan
bentuk lahir dari sebuah Pondok Pesantren, sudah tentu tidak dapat kita terima
sebagai pengertiannya, karena yang dinilai hanyalah kulitnya saja tidak sampai
pada isi yang terkandung didalamnya. Sebab memang bukan itu hakekat Pondok
Pesantren yang telah banyak memberikan jasa kepada agama, nusa dan bangsa.
Maka Pondok Pesantren dapat dirumuskan sebagai
berikut: Lembaga Pendidikan Islam dengan sistem asrama, dengan Kyai sebagai
sentral figurnya, dan masjid sebagai titik pusat kejiwaannya.
B. Isi
Pondok Pesantren
1. Hakekat Pondok Pesantren terletak pada isi dan
jiwanya, bukan pada kulitnya. Karena dalam isi itulah kita temukan jasa Pondok
Pesantren bagi agama, nusa dan bangsa.
2. Pokok isi dari Pondok Pesantren adalah pendidikan
mental dan karakternya. Selama beberapa abad sejak sebelum adanya sekolahan
secara Barat, Pondok Pesantren telah memberikan pendidikan yang sangat berharga
kepada para santri-santrinya, sebagai kader-kader mubaligh dan pemimpin umat
dalam berbagai bidang kehidupan.
3. Didalam pendidikan Pondok Pesantren itulah terjalin
jiwa yang kuat, yang sangat menentukan filsafat hidup para santri. Adapaun
pelajaran/pengetahuan yang mereka peroleh selama bertahun-tahun tinggal di
pondok, adalah sebagai bekal (alat kelengkapan) dalam kehidupan mereka kelak di
masyarakat.
Ilmu pengetahuan/pelajaran yang diberikan Pondok
Pesantren, dapat saja berbeda-beda; tinggi dan rendah, dan caranya pun dapat
berubah-ubah menurut pandangan dan hajat masyarakat atau pandangan hidup
tiap-tiap orang. Namun jiwa Pondok Pesantren itulah yang menentukan arti hidup
serta jasanya.
C. Jiwa
Pondok Pesantren
Kehidupan dalam Pondok Pesantren dijiwai oleh suasana-suasana
yang dapat kita simpulkan dalam panca jiwa sebagai berikut:
1. Jiwa Keikhlasan: sepi ing pamrih (tidak didorong oleh keinginan-keinginan tertentu).
Semata-mata karena dan untuk ibadah. Hal ini meliputi segenap suasana kehidupan
di Pondok Pesantren. Kyai ikhlas dalam mengajar, para santri ikhlas dalam
belajar, lurah pondok juga ikhlas dalam membantu (asistensi). Segala
gerak-gerik dalam Pondok Pesantren berjalan dalam suasana keihlasan yang
mendalam. Dengan demikian terdapat suasana yang hidup yang harmonis, antara
Kyai yang disegani, dan santri yang taat dan penuh cinta dan hormat.
2. Jiwa Kesederhanaan: Kehidupan didalam pondok diliputi suasana kesederhanaan,
tetapi agung. Sederhana bukan berarti pasif (nrimo), dan bukanlah
itu artinya untuk dan karena kemelaratan atau kemiskinan. Bukan, tetapi
mengandung unsure-unsur kekuatan dan ketabahan hati dalam menghadapi segala
kesulitan. Maka dibalik kesederhanaan itu, terpancarlah kebesaran jiwa; berani
maju terus dalam menghadapi perjuangan hidup dan pantang mundur dalam segala
keadaan. Bahkan disinilah hidup tumbuhnya mental/karakter yang kuat, yang
menjadi syarat bagi suksesnya bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan.
3. Jiwa Berdikari (kesanggupan menolong diri sendiri): Didikan inilah merupakan senjata yang
ampuh. Berdikari bukan saja dalam arti bahawa para santri selalu belajar dan
berlatih mengurus kepentingannya sendiri. Tetapi Pondok Pesantren itu sendiri
sebagai Lembaga Pendidikan tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada
bantuan dan belas kasihan orang lain. Itulah self bedruiping system (sama-sama
memberikan iuran dan sama-sama memakai).
4. Jiwa Ukhuwah Islamiyah: Kehidupan di pondok meliputi suasana persaudaraan
yang akrab, suasana persatuan dan gotong royong, sehingga segala kesenangan
dirasakan bersama, dengan jalinan perasaan keagamaan, ukhuwah (persaudaraan)
ini, bukan saja didalam pondok itu sendiri, tetapi juga dibawa sampai mereka
keluar, bahkan sampai mempengaruhi pula ke arah persatuan ummat dalam
masyarakat.
5. Jiwa Kebebasan: bebas dalam berfikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depannya,
dalam memilih jalan hidup didalam masyarakat; dengan berjiwa besar dan optimis
dalam menghadapi kehidupan. Kebebasan itu bahkan sampai kepada bebas dari
pengaruh asing/colonial (disinilah harus dicari sejarah Pondok Pesantren yang
mengisolir dari kehidupan Barat yang dibawa oleh penjajah).
Hanya saja dalam suasana kebebasan ini sering kali
kita temui unsure-unsur negative, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan,
sehingga terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada
tradisi yang dianggap sendiri telah (pernah) menguntungkan pada zamannya,
sehingga tidak menoleh keadaan sekitarnya. Akhirnya tidak bebas lagi, karena
mengikatkan diri kepada yang diketahui itu sahaja.
Maka kebebasan itu harus dikembalikan kepada aslinya,
yaitu bebas dalam garis-garis disiplin yang positif, dengan penuh
tanggung jawab. Baik didalam khidupan Pondok Pesantren itu sendiri, ataupun
dalam kehidupan masyarakat.
Jiwa yang menguasai suasana kehidupan Pondok Pesantren
itulah yang dibawa oleh para santri sebagai bekal pokok dalam kehidupannya di
masyarakat. Dan jiwa Pondok Pesantren inilah yang harus sentiasa dihidupkan,
dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.
D.Pengalaman spitual
1. Asing saat awal masuk pesantren
Sebenarnya
hal ini tidak hanya berlaku di pesantren. Setiap orang yang berada di
lingkungan baru pasti akan merasa asing sehingga perlu yang namanya adaptasi.
Bagi mereka yang supel, hal itu nggak bakalan jadi masalah. Tapi buat mereka
yang pendiam, adaptasi di pesantren jadi masalah besar.
2. Harus pintar atur waktu
Harus
diakui jika aktivitas santri pesantren pasti lebih sibuk daripada anak rumahan.
Iya kan? Apalagi jika santri itu juga sekolah formal ataupun kuliah. Harus
benar-benar bisa bagi waktu untuk menyeimbangkan keduanya.
3. Sempat terpikir untuk mengurungkan niat nyantri
Santri
yang benar-benar baru dan sama sekali belum pernah mondok di pesantren pasti
bakal kaget dengan aktivitas di pesantren. Mulai dengan kebiasaan hidup sehari-hari
hingga jadwal ngaji yang padat. Nggak sedikit juga santri pesantren yang pernah
kepikiran untuk boyong alias keluar dari pesantren. Tapi keinginan itu sirna
seiring dengan tekad yang kuat.
4. Adaptasi dengan berbagai peraturan
Setiap
tempat pasti punya aturan tersendiri. Begitu juga dengan pesantren. Bagi yang
belum pernah merasakan hidup di pesantren, pasti bakal kaget dengan sederet
peraturan yang ada di pesantren. Mulai dari ngaji hingga izin pulang juga
diatur. Duh...duh...!
5.Santri putra dan santri putri pasti berjarak
Nah,
aturan ini yang ditekankan banget di pesantren. Di setiap aktivitas, santri
putra maupun santri putri pasti dipisah. Tapi yang namanya anak muda ya pasti
ada bandelnya juga. Santri tetap cari celah buat bisa berinteraksi dengan lawan
jenis. Kebayang kan gimana kisah cinta di dalamnya?
6. Kalau melanggar, siap-siap dapat hukuman
Setiap
ada aturan pasti bakal ada hukuman bagi yang melanggar. Hukuman di pesantren
pun bermacam-macam. Mulai dari menguras bak mandi, menyapu, disuruh berdiri,
sampai harus digunduli.
7. Makan bareng-bareng bikin tambah akrab
Karena
hidup bersama, maka segala aktivitas santri selalu dilakukan bareng-bareng.
Salah satunya adalah makan bareng. Masih berlaku di banyak pesantren, makan
biasanya dilakukan dalam satu baki tanpa menggunakan alat makan seperti sendok
dan garpu.
8. Antre mandi
Namanya
juga hidup ramai-ramai. Ya pasti segalanya harus berbagi dengan sesama teman.
Kamar mandi contohnya. Karena jumlah kamar mandi yang nggak sebanyak jumlah
santri, maka antre adalah hal wajib yang harus dilalui sebelum masuk kamar
mandi. Saling meminta peralatan mandi juga sudah menjadi hal lumrah. Katanya
sih harus saling ridho. Hmm..
9. Saling pinjam barang pribadi
Hidup
dalam lingkungan yang banyak orang memang harus akrab dan toleran. Salah satu
caranya dengan rela bila barang yang dipunyai dipinjam. Bagi santri, meminjam
pakaian, sepatu, sandal, tas, dan barang-barang lain sudah jadi hal lumrah.
Tapi yang namanya pinjam harus tetap kembali. Hayo siapa yang pernah nggak
ngembaliin barang pinjaman?
10. Tidur seadanya dan harus berbagi tempat dengan
teman
Pesantren
memang mengajarkan kesederhanaan, termasuk dalam hal tidur. Sebagian pesantren
memang ada yang menerapkan sistem ranjang untuk tidur. Tapi ada juga pesantren
yang sistem tidurnya hanya lesehan di karpet. Kebayang kan gimana pesantren
mengajarkan kesederhanaan?
11. Utang saat bokek juga biasa
Nggak
cuma barang aja yang dipinjamkan, uang juga sering dipinjamkan. Saat bokek dan
kiriman belum sampai, maka pinjam meminjam uang alias utang jadi solusi tepat.
12. Harus terbiasa dengan hafalan
Hafalan
pasti jadi santapan sehari-hari di pesantren. Bagi yang nggak hafal, siap-siap
kena hukuman deh!
13. Mengantuk saat ngaji
Hal
yang satu ini sepertinya sulit dihilangkan. Seakan menjadi ciri khas, setiap
pelajaran pasti ada juga santri yang mengantuk. Bahkan terkadang mengantuk jadi
aktivitas berjamaah. Menahan mata agar tetap fokus pada saat ngaji bisa menjadi
hal yang sangat berat. Mungkin dia lelah...!
14. Sandal yang tiba-tiba hilang
Ini
nih kebiasaan buruk santri. Udah tahu kalau menggunakan barang tanpa izin itu
nggak baik, tapi masih saja tetap dilakukan. Sandal jadi sasaran yang sering
dighosob alias dipinjam tanpa izin dulu. Ujung-ujungnya, mereka yang sandalnya
hilang bakal ghosob sandal teman juga. Ghozob berjamaah deh!
15. Kesetiakawanan di pesantren sangat tinggi
Pada
akhirnya kebersamaan setiap hari membuat santri satu sama lain akan saling
mengenal dan akrab. Kesetiakawanan pun terpupuk tinggi di sini.
16. Saat sudah tak lagi di pesantren, segala kenangan
bikin kangen, dan ingin merasakan jadi santri lagi
Nah,
bagi para alumni pesantren, masa-masa membahagiakan di pesantren memang menarik
unuik diingat terus. Kalau sekarang untuk mengobati kangen dengan pesantren sih
cukup mudah, kan sudah ada banyak media sosial yang jadi penghubung antara
kamu, teman, dan pesantren.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar