Most Popular

Kamis, 22 Maret 2018

PESANTREN DAN EKSINTESINYA

A. Pengertian (definisi) Pondok Pesantren.
Untuk memperoleh pengertian tentang Pondok Pesantren, kita tidak usah membuat analisa terlalu mendalam dengan meninjau sejarah pondok terlalu jauh sampai ke zaman kuno. Untuk itu cukuplah kiranya apabila kita memperhatikan perkembangan agama Islam ditanah air kita, sekitar abad kita ini (sekitar 100-200 tahun yg lalu), yaitu pada waktu lembaga yang kita sebut sebagai “Pondok Pesantren” dengan jelas menunjukkan peranannya yang sangat penting dalam penyiaran agama Islam.
Maka dengan demikian pengertian Pondok Pesantren menurut para orientalis, seperti Snouck Hurgrounche, yang hanya memperhatikan bentuk lahir dari sebuah Pondok Pesantren, sudah tentu tidak dapat kita terima sebagai pengertiannya, karena yang dinilai hanyalah kulitnya saja tidak sampai pada isi yang terkandung didalamnya. Sebab memang bukan itu hakekat Pondok Pesantren yang telah banyak memberikan jasa kepada agama, nusa dan bangsa.
Maka Pondok Pesantren dapat dirumuskan sebagai berikut: Lembaga Pendidikan Islam dengan sistem asrama, dengan Kyai sebagai sentral figurnya, dan masjid sebagai titik pusat kejiwaannya.
B. Isi Pondok Pesantren
1.    Hakekat Pondok Pesantren terletak pada isi dan jiwanya, bukan pada kulitnya. Karena dalam isi itulah kita temukan jasa Pondok Pesantren bagi agama, nusa dan bangsa.
2.    Pokok isi dari Pondok Pesantren adalah pendidikan mental dan karakternya. Selama beberapa abad sejak sebelum adanya sekolahan secara Barat, Pondok Pesantren telah memberikan pendidikan yang sangat berharga kepada para santri-santrinya, sebagai kader-kader mubaligh dan pemimpin umat dalam berbagai bidang kehidupan.
3.    Didalam pendidikan Pondok Pesantren itulah terjalin jiwa yang kuat, yang sangat menentukan filsafat hidup para santri. Adapaun pelajaran/pengetahuan yang mereka peroleh selama bertahun-tahun tinggal di pondok, adalah sebagai bekal (alat kelengkapan) dalam kehidupan mereka kelak di masyarakat.
Ilmu pengetahuan/pelajaran yang diberikan Pondok Pesantren, dapat saja berbeda-beda; tinggi dan rendah, dan caranya pun dapat berubah-ubah menurut pandangan dan hajat masyarakat atau pandangan hidup tiap-tiap orang. Namun jiwa Pondok Pesantren itulah yang menentukan arti hidup serta jasanya.
C. Jiwa Pondok Pesantren
Kehidupan dalam Pondok Pesantren dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat kita simpulkan dalam panca jiwa sebagai berikut:
1.    Jiwa Keikhlasan: sepi ing pamrih (tidak didorong oleh keinginan-keinginan tertentu). Semata-mata karena dan untuk ibadah. Hal ini meliputi segenap suasana kehidupan di Pondok Pesantren. Kyai ikhlas dalam mengajar, para santri ikhlas dalam belajar, lurah pondok juga ikhlas dalam membantu (asistensi). Segala gerak-gerik dalam Pondok Pesantren berjalan dalam suasana keihlasan yang mendalam. Dengan demikian terdapat suasana yang hidup yang harmonis, antara Kyai yang disegani, dan santri yang taat dan penuh cinta dan hormat.
2.    Jiwa Kesederhanaan: Kehidupan didalam pondok diliputi suasana kesederhanaan, tetapi   agung. Sederhana bukan berarti pasif (nrimo), dan bukanlah itu artinya untuk dan karena kemelaratan atau kemiskinan. Bukan, tetapi mengandung unsure-unsur kekuatan dan ketabahan hati dalam menghadapi segala kesulitan. Maka dibalik kesederhanaan itu, terpancarlah kebesaran jiwa; berani maju terus dalam menghadapi perjuangan hidup dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan disinilah hidup tumbuhnya mental/karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi suksesnya bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan.
3.    Jiwa Berdikari (kesanggupan menolong diri sendiri): Didikan inilah merupakan senjata yang ampuh. Berdikari bukan saja dalam arti bahawa para santri selalu belajar dan berlatih mengurus kepentingannya sendiri. Tetapi Pondok Pesantren itu sendiri sebagai Lembaga Pendidikan tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan dan belas kasihan orang lain. Itulah self bedruiping system (sama-sama memberikan iuran dan sama-sama memakai).
4.    Jiwa Ukhuwah Islamiyah: Kehidupan di pondok meliputi suasana persaudaraan yang akrab, suasana persatuan dan gotong royong, sehingga segala kesenangan dirasakan bersama, dengan jalinan perasaan keagamaan, ukhuwah (persaudaraan) ini, bukan saja didalam pondok itu sendiri, tetapi juga dibawa sampai mereka keluar, bahkan sampai mempengaruhi pula ke arah persatuan ummat dalam masyarakat. 
5.    Jiwa Kebebasan: bebas dalam berfikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depannya, dalam memilih jalan hidup didalam masyarakat; dengan berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi kehidupan. Kebebasan itu bahkan sampai kepada bebas dari pengaruh asing/colonial (disinilah harus dicari sejarah Pondok Pesantren yang mengisolir dari kehidupan Barat yang dibawa oleh penjajah).
Hanya saja dalam suasana kebebasan ini sering kali kita temui unsure-unsur negative, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggap sendiri telah (pernah) menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak menoleh keadaan sekitarnya. Akhirnya tidak bebas lagi, karena mengikatkan diri kepada yang diketahui itu sahaja.
Maka kebebasan itu harus dikembalikan kepada aslinya, yaitu bebas dalam garis-garis disiplin yang positif, dengan penuh tanggung jawab. Baik didalam khidupan Pondok Pesantren itu sendiri, ataupun dalam kehidupan masyarakat.
Jiwa yang menguasai suasana kehidupan Pondok Pesantren itulah yang dibawa oleh para santri sebagai bekal pokok dalam kehidupannya di masyarakat. Dan jiwa Pondok Pesantren inilah yang harus sentiasa dihidupkan, dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.
D.Pengalaman spitual
1. Asing saat awal masuk pesantren
Sebenarnya hal ini tidak hanya berlaku di pesantren. Setiap orang yang berada di lingkungan baru pasti akan merasa asing sehingga perlu yang namanya adaptasi. Bagi mereka yang supel, hal itu nggak bakalan jadi masalah. Tapi buat mereka yang pendiam, adaptasi di pesantren jadi masalah besar.
2. Harus pintar atur waktu
Harus diakui jika aktivitas santri pesantren pasti lebih sibuk daripada anak rumahan. Iya kan? Apalagi jika santri itu juga sekolah formal ataupun kuliah. Harus benar-benar bisa bagi waktu untuk menyeimbangkan keduanya.
3. Sempat terpikir untuk mengurungkan niat nyantri
Santri yang benar-benar baru dan sama sekali belum pernah mondok di pesantren pasti bakal kaget dengan aktivitas di pesantren. Mulai dengan kebiasaan hidup sehari-hari hingga jadwal ngaji yang padat. Nggak sedikit juga santri pesantren yang pernah kepikiran untuk boyong alias keluar dari pesantren. Tapi keinginan itu sirna seiring dengan tekad yang kuat.
4. Adaptasi dengan berbagai peraturan
Setiap tempat pasti punya aturan tersendiri. Begitu juga dengan pesantren. Bagi yang belum pernah merasakan hidup di pesantren, pasti bakal kaget dengan sederet peraturan yang ada di pesantren. Mulai dari ngaji hingga izin pulang juga diatur. Duh...duh...!
5.Santri putra dan santri putri pasti berjarak
Nah, aturan ini yang ditekankan banget di pesantren. Di setiap aktivitas, santri putra maupun santri putri pasti dipisah. Tapi yang namanya anak muda ya pasti ada bandelnya juga. Santri tetap cari celah buat bisa berinteraksi dengan lawan jenis. Kebayang kan gimana kisah cinta di dalamnya?
6. Kalau melanggar, siap-siap dapat hukuman
Setiap ada aturan pasti bakal ada hukuman bagi yang melanggar. Hukuman di pesantren pun bermacam-macam. Mulai dari menguras bak mandi, menyapu, disuruh berdiri, sampai harus digunduli.
7. Makan bareng-bareng bikin tambah akrab
Karena hidup bersama, maka segala aktivitas santri selalu dilakukan bareng-bareng. Salah satunya adalah makan bareng. Masih berlaku di banyak pesantren, makan biasanya dilakukan dalam satu baki tanpa menggunakan alat makan seperti sendok dan garpu.
8. Antre mandi
Namanya juga hidup ramai-ramai. Ya pasti segalanya harus berbagi dengan sesama teman. Kamar mandi contohnya. Karena jumlah kamar mandi yang nggak sebanyak jumlah santri, maka antre adalah hal wajib yang harus dilalui sebelum masuk kamar mandi. Saling meminta peralatan mandi juga sudah menjadi hal lumrah. Katanya sih harus saling ridho. Hmm..
9. Saling pinjam barang pribadi
Hidup dalam lingkungan yang banyak orang memang harus akrab dan toleran. Salah satu caranya dengan rela bila barang yang dipunyai dipinjam. Bagi santri, meminjam pakaian, sepatu, sandal, tas, dan barang-barang lain sudah jadi hal lumrah. Tapi yang namanya pinjam harus tetap kembali. Hayo siapa yang pernah nggak ngembaliin barang pinjaman?
10. Tidur seadanya dan harus berbagi tempat dengan teman
Pesantren memang mengajarkan kesederhanaan, termasuk dalam hal tidur. Sebagian pesantren memang ada yang menerapkan sistem ranjang untuk tidur. Tapi ada juga pesantren yang sistem tidurnya hanya lesehan di karpet. Kebayang kan gimana pesantren mengajarkan kesederhanaan?
11. Utang saat bokek juga biasa
Nggak cuma barang aja yang dipinjamkan, uang juga sering dipinjamkan. Saat bokek dan kiriman belum sampai, maka pinjam meminjam uang alias utang jadi solusi tepat.
12. Harus terbiasa dengan hafalan
Hafalan pasti jadi santapan sehari-hari di pesantren. Bagi yang nggak hafal, siap-siap kena hukuman deh!
13. Mengantuk saat ngaji
Hal yang satu ini sepertinya sulit dihilangkan. Seakan menjadi ciri khas, setiap pelajaran pasti ada juga santri yang mengantuk. Bahkan terkadang mengantuk jadi aktivitas berjamaah. Menahan mata agar tetap fokus pada saat ngaji bisa menjadi hal yang sangat berat. Mungkin dia lelah...!
14. Sandal yang tiba-tiba hilang
Ini nih kebiasaan buruk santri. Udah tahu kalau menggunakan barang tanpa izin itu nggak baik, tapi masih saja tetap dilakukan. Sandal jadi sasaran yang sering dighosob alias dipinjam tanpa izin dulu. Ujung-ujungnya, mereka yang sandalnya hilang bakal ghosob sandal teman juga. Ghozob berjamaah deh!
15. Kesetiakawanan di pesantren sangat tinggi
Pada akhirnya kebersamaan setiap hari membuat santri satu sama lain akan saling mengenal dan akrab. Kesetiakawanan pun terpupuk tinggi di sini.
16. Saat sudah tak lagi di pesantren, segala kenangan bikin kangen, dan ingin merasakan jadi santri lagi
Nah, bagi para alumni pesantren, masa-masa membahagiakan di pesantren memang menarik unuik diingat terus. Kalau sekarang untuk mengobati kangen dengan pesantren sih cukup mudah, kan sudah ada banyak media sosial yang jadi penghubung antara kamu, teman, dan pesantren.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar